LENSAINDONESIA.COM: Muhammad Anis (29) warga Jl Sidosermo, Surabaya, diringkus Tim Anti Bandit Polsek Wonocolo lantaran nekat membobol brankas berisi uang Rp 277 juta milik yayasan sosial bidang penyantun anak yatim piatu.

Anis bisa mudah melakukan aksinya karena selain menjadi pengurus di sebuah panti asuhan, dirinya juga merangkap pengurus yayasan sosial tersebut.

Pembobolan bermula saat Anis diperbantukan untuk menghitung uang yayasan sosial yang rencananya disalurkan ke berbagai panti asuhan di Surabaya, Jumat (15/12/2017) lalu.

Melihat uang dalam jumlah banyak, timbul niat jahat Anis untuk membobol brankas baja biru yang jadi tempat penyimpanan. Niat jahat pelaku itu akhirnya direalisasikan Minggu (17/12/2017) sekitar pukul 18.00 WIB.

Saat itu pelaku datang ke kantor yayasan sosial mengendarai Toyota Avanza hitam yang disewanya dari rental. Melihat kantor sudah sepi, Anis masuk dan mengambil brankas berisi uang Rp 277 juta.

Paginya, sejumlah pengurus kaget lantaran kantor dalam keadaan tak digembok dan pintu utama tidak terkunci. Panik, sejumlah pengurus melapor kejadian tersebut ke Polsek Wonocolo, Senin (18/12/2017).

Kapolsek Wonocolo Kompol Budi Nurtjahjo mengatakan, setelah mendapat laporan pihaknya langsung melakukan penyelidikan ke lokasi kejadian. Disana, ternyata ada CCTV yang merekam jelas pelaku mengambil brankas tersebut.

“Pelaku berhasil kami tangkap di tempat tinggalnya hari itu juga sekitar pukul 21.30 WIB. Kami juga mengamankan barang bukti uang sekitar Rp 277 juta, brankas yang rusak akibat digerinda dan sebuah gerinda,” ujarnya, Rabu (20/12/2017).

Dalam pemeriksaan diketahui jika usai mengambil brankas, pelaku langsung membawa ke rumah orang tuanya di desa Gondek Kecamatan Mojowarno Jombang, agar tenang melakukan pembobolan. “Di rumahnya, pelaku mulai membobol brankas menggunakan gerinda. Setelah berhasil, uang beserta brankasnya dibawa kembali ke rumahnya yang ada di Surabaya,” tambah Kompol Budi.

Kepada penyidik Polsek Wonocolo, Anis mengaku nekat membobol brankas berisi uang yang akan disalurkan ke panti asuhan se-Surabaya ini, karena butuh uang untuk membayar utangnya yang mencapai Rp 10 juta. “Selain itu saya ingin nyenangin orang tua saya. Rencananya sebagian uang itu akan saya gunakan untuk membukakan usaha orang tua,” terang Alumnus Fakultas Dakwah UIN Surabaya ini.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Anis dijerat Pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman pidana 7 tahun penjara. @nanda