Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Aset Pertamina bakal tambah 20 persen jika kelola Blok Mahakam
Di tahun 2018, Pertamina Hulu Mahakam (PHM) memproyeksikan contractor’s share mencapai USD 334,5 juta. Foto-ist
EKONOMI & BISNIS

Aset Pertamina bakal tambah 20 persen jika kelola Blok Mahakam 

LENSAINDONESIA.COM: Pemerintah akan memprioritaskan kinerja finansial PT Pertamina (Persero, sehingga tak perlu memohon kenaikan harga BBM atau bahkan mengeluhkan penugasan-penugasan pemerintah.

Hal ini disampaikan pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi, Selasa (02/01/2018).

Fahmy mengungkapkan, selama ini Pertamina selalu mengeluhkan beban finansial akibat penugasan BBM Satu Harga, dan terakhir tak dinaikkannya harga BBM jenis premium, solar, dan minyak tanah. Bahkan, konon potential loss bisa mencapai Rp 19 triliun.

“Jika memperhitungkan potensi opportunity loss itu secara parsial, Pertamina memang harus menanggung pembengkaan beban finansial. Namun, jika Pertamina menghitung secara komprehensif dengan mengkalkulasi potensi keuntungan atas pengelolaan sejumlah blok migas di hulu, utamanya Blok Mahakam, potensi kehilangan keuntungan itu hampir tak berarti sama sekali,” tandas Fahmy.

Fahmy menambahkan, Blok Mahakam masih menyisakan cadangan sebesar 57 juta barel minyak, 45 juta barel kondensat, dan 4,9 trillion cubic feet (tcf gas). Dari perhitungan SKK Migas, dengan asset non-cash Blok Mahakam, asset Pertamina bakal betambah sekitar 20 persen, yakni sebesar US$ 9,43 miliar atau sekitar Rp 122,59 triliun.

“Adanya tambahan asset tersebut, total asset Pertamina kini menjadi US$ 54,95 miliar atau sekitar Rp 714,35 triliun. Asset sejumlah itu akan meningkatkan modal sendiri (equity) Pertamina, dan meningkatkan financial leverage Pertamina hingga 3 kali lipat,” imbuh Fahmy.

Peningkatan financial leverage itu akan mendongkrak kredibilitas Pertamina untuk memperoleh dana segar ( fresh money ) dari pihak ketiga, termasuk penerbitan obligasi, untuk capital expenditure (Capex) dan operational expenditure (Opex), baik untuk membiayai operasional Blok Mahakam, maupun Blok Migas lainnya.

Tak hanya itu, lanjut Fahmy, dengan share down 39 persen saham Blok Mahakam, Pertamina bakal bisa meraup fresh money sebesar US$ 3,68 (39% X US$ 9,43 miliar) atau Rp 47,84 triliun.

Baca Juga:  Indosat Ooredoo-Facebook dorong inklusi digital melalui "Internet 101"

Dari produksi sebelumnya, potensi pendapatan netto, usai dikurangi cost recovery selama tahun 2018 diprediksi bakal mencapai sebesar US$ 317 juta atau sekitar Rp 4,12 triliun.

“Dengan pengelolaan Blok Mahakam, Pertamina memperoleh tambahan asset sebesar Rp 122,59 triliun, fresh money sebesar Rp 47,84 triliun, dan pendapatan netto per tahun sebesar Rp 4,12 triliun,” tegas mantan anggota Tim Pemberantasan Mafia Migas ini.

Pertamina tak pantas mengeluh kepada pemerintah

Fahmy juga menyarankan, adanya tambahan non-cash asset, cash flow serta pendapatan dari Blok Mahakam, Pertamina tak sepantasnya mengeluhkan penugasan pemerintah, halnya BBM Satu Harga premium, solar dan minyak tanah yang diputuskan Menteri ESDM Ignasius Jonan tak naik hingga tiga bulan ke depan.

“Pertamina seharusnya bertambah peka dan peduli terhadap rasa keadilan rakyat, dengan mendukung keputusan pemerintah yang menaikkan harga premium, solar, dan minyak tanah hingga triwulan 2018, bahkan sepanjang tahun 2018,” tutur Fahmy.

Blok Mahakam secara resmi pengelolaannya dipercayakan kepada Pertamina terhitung 1 Januari 2018. Sebelumnya, blok kaya minyak dan gas itu dikelola perusahaan Prancis Total Indonesie dan perusahaan Jepang Inpex.

Setelah Blok Mahakam, Pertamina berpeluang besar memperoleh penugasan pemerintah untuk mengelola sejumlah blok yang habis masa kontraknya.

“Semua itu bisa dilihat sebagai “kompensas” dalam bentuk non-cash asset. Untuk itu, stop mengeluh. Pertamina tak perlu khawatir mengalami opportunity loss saat menjalankan penugasan pemerintah, baik BBM Penugasan, maupun BBM Satu Harga,” ungkap Fahmy.

Produksi di Blok Mahakam tak boleh menurun

Fahmy menyarankan Pertamina harus fokus mengelola Blok Mahakam. Jangan sampai produksi blok tersebut menurun, dan jangan sampai cost recovery yang ditagihkan ke pemerintah naik.

Dari catatan SKK Migas, contractor’s share Blok Mahakam yang diterima Total dan Inpex tahun 2017 mencapai USD 529,646 juta (outlook). Sedangkan untuk 2018, Pertamina Hulu Mahakam (PHM) memproyeksikan contractor’s share mencapai USD 334,5 juta.

Baca Juga:  Saatnya bisnis tata rias online besutan waria menuju Unicorn (2)

“Bisa jadi potensi penerimaan negara turun sekitar 30 persen. Ini jangan terjadi, Pertamina harus bekerja keras agar produksi minimal tidak turun, sehingga bagian yang diterima kontraktor dan pemerintah minimal tetap,” ujar Fahmy.

Jika terjadi penurunan produksi, maka bakal jadi preseden buruk sekali dalam pengambilalihan blok migas dari tangan kontraktor asing. Jika demikian, pemerintah akan berpikir ulang untuk menyerahkan pengelolaan blok migas habis kontrak ke Pertamina.@Rel-Licom