Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Banyak yang tidak percaya, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) akhirnya diusung PDIP di Pilkada Jawa Timur 2018. Namun tidak banyak yang tahu pula, bagaimana Gus Ipul berproses meraih dukungan partai hingga bisa memadukan partai berbasis nasionalis dan partai berbasis religius di Pilkada Jatim.

Dalam catatan “On Going Process” Gus Ipul Maju Pilkada Jatim 2018 yang ditulis pengajar Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga (Unair) Hariyadi. Disebutkan, Gus Ipul yang sukses mendampingi Soekarwo selama dua periode memimpin Jatim terkesan kuat akan mendapat dukungan dari Soekarwo dalam hal ini partai Demokrat. Soekarwo sendiri adalah Ketua DPD Partai Demokrat Jatim.

Beberapa kali konon Soekarwo berupaya menarik Gus Ipul ke Partai Demokrat. “Tapi selalu ditolak oleh Gus Ipul, karena merasa tetap nyaman sebagai representasi Nahdatul Ulama (NU). Bahkan sejak awal bergandengan, posisi Gus Ipul adalah representasi NU,” kata Hariyadi, Sabtu (13/01/2018).

Pendekatan Gus Ipul kepada kelompok nasionalis yang dianggap Hariyadi paling elegan adalah saat bersama Ketua Umum PBNU, Kiai Said Aqil Siraj, menjadi inisiator yang berperan paling utama dalam meyakinkan pemerintahan Jokowi-JK untuk menetapkan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila.

Serangkaian kegiatan seminar dan sekumpulan karya tulis di rancang oleh Gus Ipul hingga sampai pada kesimpulan bahwa hari lahir Pancasila adalah mengacu saat pertama kali istilah Pancasila dicetuskan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945. “Proses inilah yang menyambungkan batin Gus Ipul dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri,” jelas Hariyadi.

Di balik itu semua, tidak banyak orang tahu bahwa Gus Ipul adalah anak angkat Megawati yang dititipkan secara khusus oleh Abdurahman Wahid (Gus Dur). “Lebih tak banyak lagi yang tahu bahwa Bu Mega lah yang membiayai pernikahan Gus Ipul dengan Mbak Fatma, istri Gus Ipul,” terangnya.

Jadi menurutnya, hubungan Gus Ipul dengan Megawati sudah terangkai secara batin sejak 22 tahun lalu. Gus Ipul lalu pernah mendapat pengasuhan politik di PDIP dan Gus Ipul pernah keluar dari PDIP untuk menemani Gus Dur kala itu.

Tapi saat Gus Ipul keluar dari PDIP, kata Hariyadi dilakukan secara “gentle”, yaitu lewat forum rapat internal partai. Sikap Gus Ipul ini menurutnya sampai saat ini menjadi “best-practice”, dan selalu dikenang positif oleh PDIP.

Dari itu, bukan hal yang aneh dan bukan hal yang rumit ketika akhirnya Gus Ipul mendapat semacam garansi bakal direkom oleh PDIP menjadi Calon Gubernur Jatim di Pilkada Jatim 2018.

“Bagi mereka yang tak paham hubungan sejarah Gus Ipul dengan Bu Mega, pasti awalnya tak percaya kalau Gus Ipul akan mampu dapat rekom sebagai Cagub Jatim dari PDIP,” ucapnya.

Secara simultan, komunikasi dan hubungan dengan partai-partai di luar PDI Perjuangan pun dijalankan oleh Gus Ipul. Begitu juga dengan ormas-ormas keagamaan, terutama kepada para kiai khos, kiai struktural, dan kiai kultural, Gus Ipul amat rajin menyapa dan bersilaturahim.

Di Pilkada Jatim 2018, Gus Ipul pun berhasil menggabungkan kekuatan nasionalis dan religius sebagai kekuatan utama. PKB dan PDIP pun akhirnya menjadi partai pengusung utama pula sebagai cagub Jatim, baru menyusul kemudia PKS dan Gerindra di menit-menit terakhir jelang pendaftaran.@sarifa