Jamaah Umroh Al Maghfiroh Surabaya saat berada di tanah suci. Foto-ist
Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Ingin perjalanan ibadah Umroh Anda nyaman dan aman? Biro perjalanan travel yang berkualitas serta berpengalaman selalu dijadikan pilihan utama. Sebab track record biro perjalanan umroh akan jadi pertimbangan terkait layanan dan jaminan keamanannya.

Menurut H. Mardi Utomo, Direktur Utama Biro Perjalanan Umroh Al Maghfiroh Surabaya mengatakan, bagi calon jamaah umroh harga memang menjadi patokan utamanya. Sebab hal tersebut terkait dengan fasilitas, kenyamanan dan keamanan tentunya.

“Jadi, janganlah para calon jamaah umroh itu terpaku dengan penawaran paket dengan biaya murah namun jaminan keamanan dan kenyamanan belum jelas. Sebab saat ini pemerintah telah memberikan tarif standard untuk umroh tersebut sekitar Rp 23 juta. Jika di bawah tarif tersebut, maka cukup dipertanyakan layanan dan jaminan keamanannya,” tegas Mardi Utomo kepada Lensaindonesia.com, Sabtu sore (13/01/2018).

Mardi menambahkan, biasanya terkait penawaran biaya paket umroh tersebut juga menentukan letak hotel dan fasilitas lainnya.

“Jadi janganlah menyesal jika memilih paket umroh dengan biaya murah namun menyesal di belakang karena fasilitas yang kurang memuaskan,” tandas Mardi.

Terkait kabar naiknya pajak untuk umroh yang diberlakukan oleh pemerintah Arab Saudi, ia menyampaikan pihak Al maghfiroh masih belum memberlakukan kenaikan biaya untuk para calon jamaah umroh.

“Hingga kini, pihak kami masih belum menaikkan biaya paket umroh untuk calon jamaah. Sebab kabar kenaikan pajak yang diberlakukan pemerintah Arab Saudi tersebut masih belum pasti kejelasannya,” imbuh Mardi.

Mardi tetap optimis bahwasanya di tahun 2018 ini, pihaknya harus mengejar target untuk mencapai 800 jamaah umroh hingga akhir tahun.

“Tahun 2018 ni merupakan tahun politik, sebab hal ini dimanfaatkan untuk para politikus berkunjung kesana untuk menyampaikan doa dan hajat mereka. Dan kami yakin di setiap tahun jamaah umroh naik 15 hingga 20 persen. Saat ini, jamaah umroh Al Maghfiroh disumbang 30 hingga 40 persen dari jamaah berasal dari wilayah Tapalkuda, sedangkan sisanya diisi oleh jamaah dari Gerbangkertasusilo. Untuk itu, di tahun 2018 ini , kami yakin akan ada pertumbuhan sekitar 15 persen,” imbuh Mardi.

Umroh jadi modus para oknum pencari kerja di Arab Saudi

Sementara itu, Hj. Nur Faidah, Direktur Keuangan Al Maghfiroh menyampaikan, pihaknya memiliki pengalaman cukup pahit sebagai penyelenggara umroh saat di Jeddah. Sebab ada beberapa jamaah umroh yang ditanganinya telah melanggar aturan, yakni memisahkan diridari rombongan tanpa koordinasi.

“Saat itu saya cukup terpukul ketika beberapa jamah umroh kami meninggalkan rombongan tanpa korrdinasi dengan kami sebagai pembawa rombongan jamaah umroh. Mereka tak kembali hngga masa ibadah umroh hampir selesai,” tutur Nur Faidah.

Ia menjelaskan, para jamaah yang menghilang tersebut ternyata memanfaatkan umroh untuk mencari pekerjaan tanah suci tersebut. Dan otomatis hal ini berefek bruruk bagi penyelenggara umroh tersebut.

“Saya tak menyangka hal ini terjadi, bahkan masa umroh hampir habis pun mereka tak kunjung menampakkan diri. Alhasil, kami sebagai ketua rombongan ditahan dahulu oleh pihak Muassasah (pihak penyelenggara haji di tanah suci) sebagai jaminan sampai jamaah tersebut kembali ke rombongan,” papar Nur Faidah.

KJRI Jeddah cepat tanggap untuk jamaah umroh dan haji Indonesia dari segala hal
Untuk mengantisipasi hal ini, sesegera saja Al Maghfiroh menghubungi pihak KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) yang berada di Jeddah untuk menyampaikan perkara ini.

“Semenjak kami menangani jamaah umroh dan haji ini memang kami kerap berkomunikasi dan dekat dengan pihak KJRI yang ada di Jeddah. Usai saya menceritakan duduk perkara jamaah kami yang meloloskan diri tersebut, pihak KJRI dengan sigap melakukan investigasi dan mengecek segala dokumen jamaah yang menghilang tersebut,” ujarnya.

Ternyata, lanjut Nur Faidah, empat wanita jamaah umroh yang meloloskan diri tersebut terbukti berniat mencari pekerjaan di sana. Mereka SS (38) asal Ngawi, KLH (37) asal Sampang-Madura, SWB (34) asal Sampang-Madura dan ZJA (39) asal Sampang-Madura.

“Alhamdulillah untung saja kami juga dipercaya oleh KBRI Jeddah yang sudah dikenal membawa rombongan dari Jatim ini diijinkan pulang. Hingga akhirnya mereka menjamin dan mengijinkan saya dengan direktur utama yang juga suami saya ini diperkenankan kembali ke tanah air. Pihak KJRI Jeddah langsung melacak keberadaan keempat jamaah umroh tersebut,” terang Nur Faidah.

Tips bagi penyelenggara umroh

1. Lebih perhatian bagi jamaah berusia produktif terutama wanita, latar pendidikan minim, tanpa pendamping atau keluarga.
2. Perhatian khusus bagi pendaftar lebih dari 2 orang yang bersaamaan apalagi sudah berteman.
3. Jangan jual paket umroh terlalu mahal, sebab hal ini memancing para pelaku modus pencari kerja secara ilegal.
4. Perhatikan yang baru mengurus passpor
5. Perhatikan, bahwa pihak imigrasi saat ini sedang menyoroti imigran yang berasal dari daerah Madura, Mataram dan Makassar.@Eld-Licom