Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Anggota DPR RI kunjungi bocah penderita Omphalocele asal Sidoarjo yang viral di medsos
Anggota Komisi III DPR RI, Adies Kadir mengunjungi kediaman Dava Andhika Putra (12), bocah penderita Omphalocele (kelainan usus) di Desa Masangan Wetan, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Jumat sore (19/01/2018). FOTO: daniel rorong
HEADLINE JATIM RAYA

Anggota DPR RI kunjungi bocah penderita Omphalocele asal Sidoarjo yang viral di medsos 

LENSAINDONESIA.COM: Anggota Komisi III DPR RI, Adies Kadir mengunjungi kediaman Dava Andhika Putra (12), bocah penderita Omphalocele asal Kabupaten Sidoarjo yang videonya sempat viral di media sosial.

Omphalocele adalah kelainan sejak lahir dengan kondisi usus atau organ perut berada di luar tubuh karena terdapat lubang mengangah di bagian pusar.

Adies Kadir tiba di kediaman Andi (37), ayah Dava di Desa Masangan Wetan, Sidoarjo pada Jumat sore (19/01/2018).

Dava dan kedua orang tuanya, Andi dan Mike Hermawati (35) terlihat gembira saat dikunjungi wakil rakyat dari Fraksi Golkar ini. Apalagi Adies Kadir yang didampingi ajudanya itu sangat ramah.

Pada kesempatan itu, Adies banyak ngobrol dengan Andi. Ia menanyakan kronologis penyakit yang dialami oleh Dava Hingga hobi sampai cita-cita bocah malang itu.

“Kelak besar, cita-citanya mau jadi apa?” tanya Adies yang langsung dijabawan Dava “Jadi Ustad, pak”.

Bahkan untuk mengejar impiannya tersebut, bocah kelahiran Surabaya, 23 Maret 2006 lalu ini ingin melanjutkan pendidikan di pondok pesantren selepas lulus Sekolah Dasar.

Mendengar jawaban bocah yang kini duduk di kelas 6 SD ini, mantan anggota DPRD Kota Surabaya 2009-2014 ini pun berjanji akan menanggung biaya selama Dava menempuh pendidikan di pesantren.

“Saya akan tanggung biayanya,” ucap Adies yang disambut sujud syukur dari Andi, ayah Dava.

“Alhamdullilah. Terima kasih banyak, Pak Dewan,” kata bapak tiga anak ini yang terlihat berkaca-kaca matanya.

Dava menderita Omphalocele, yakni kelainan sejak lahir. Ia sempat menjalani operasi di salah satu rumah sakit di Surabaya saat berusia 1 tahun. Ketika itu, ukuran usus yang menonjol sudah sebesar genggaman tangan orang dewasa.

Tetapi sayangnya, setelah dioperasi kondisi Dava tidak membaik karena lubang di bagian perutnya tidak tertutup dengan sempurna. Bahkan 5 bulan kemudian, ususnya kembali terlihat dan keluar lagi dari perut.

Baca Juga:  Kejati Jatim minta polisi lengkapi berkas tersangka kasus asrama mahasiswa Papua Surabaya

Karena keterbatasan biaya, Dava tidak kembali dilarikan ke rumah sakit. Sehingga kondisi mengenaskan harus dialami hingga Dava berumur 12 tahun.

Dan selama 11 tahun, akhirnya diputuskan oleh Andi dan Mike untuk merawat Dava sendiri tanpa campur tangan medis. Bahkan pengobatan alternatif di berbagai daerah pun ditempuhnya.

Namun dengan hanya driver taksi online dengan penghasilan Rp50 ribu sampai Rp100 ribu per hari, Andi tidak bisa berbuat banyak untuk menyambuhkan penyakit yang diderita anak tercintanya.

Andi sangat berterima kasih atas perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo yang sudah membantu untuk pengurusan administratif termasuk layanan BPJS yang tidak dimilikinya. Juga para donatur dan tenaga relawan yang sudah peduli dengan kondisi Dava, putra sulungnya. Diantaranya dari Komunitas Tolong-Menolong.@LI-13