Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Kasus pemalsuan akta otentik, Guru Besar Ubaya dijebloskan ke Rutan Medaeng
Terdakwa Lanny Kusumawati saat dihadirkan dalam sidang perkara pemalsuan akta otentik pada cover notes yang digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (23/01/2018). FOTO: rofik-lensaindonesia.com
HEADLINE DEMOKRASI

Kasus pemalsuan akta otentik, Guru Besar Ubaya dijebloskan ke Rutan Medaeng 

LENSAINDONESIA.COM: Kasus dugaan pemalsuan akta otentik pada cover notes dengan terdakwa notaris Prof. DR. Lanny Kusumawati menjalani sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (23/01/2018).

Dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa penuntut umum (JPU) I Gusti Putu Karmawan dari Kejari Surabaya menyatakan, bahwa terdakwa Prof. Lanny Kusumawati yang merupakan guru besar Ilmu Hukum Universitas Surabaya (Ubaya), pada 16 maret 2012 di kantornya Jl Pahlawan 41, Surabaya, membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan hak, perikatan atau pembebasan hutang, yang diperuntukan sebagai bukti yang mengakibatkan kerugian orang lain.

Bahwa pada 20 Desember 2013, Eka Wahjuni Arti Listiadharma mengajukan gugatan perdata kepada PT Subur Abadi Raja (Hotel) dan turut menjadi tergugat Pemerintah Kota Surabaya dan Badan Pertanahan Nasional (BPN_ Surabaya, dengan Register perkara nomor: 1064/Pdt.G/2013/PN.Sby.

“Atas akta otentik cover note palsu terdakwa, dijadikan bukti dalam gugatan untuk menguatkan dalam sidang dan melakukan eksekusi bidang bangunan di Jl Kembang Jepun 29 Surabaya yang disengketakan,” terang JPU Karmawan.

Diungkapkan Karmawan, cover notes surat no :35/LK/III/2012 yamg dibuat terdakwa menyatakan bahwa pada pokoknya menerangkan nama PT Raja Subur Abadi dan PT Subur abadi Raja pemilik dan pengurus yang sama.

“Keduanya merupakan PT tersebut, memiliki masing-masing akta pendirian yang berbeda dan pemegang saham dan pengurus berbeda. Terdakwa dalam membuat cover notes tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu ke Kemenkum dan HAM,” tambah Jaksa Karmawan.

Atas terbuktinya pemalsuan yang dijadikan dasar dalam gugatan tersebut, terdakwa Lanny Kusumawati, Ketua Majelis Hakim Maxi Sigarlaki pun memerintahkan untuk menahan terdakwa. Sebelumnya, Lanny hanya ditetapkan sebagai tahanan kota.

Baca Juga:  BNPT siap bantu Pertamina identifikasi ancaman non fisik radikalisme

“Untuk mempermudah proses persidangan, mengalihkan status penahanan terdakwa Prof. Dr. Lanny Kusumati dari tahanan kota menjadi tahanan Negara,” terang Hakim Maxi.

Sementara Alexander Arif kuasa hukum terdakwa ditemui usai sidang menyatakan, bahwa Dakwaan JPU kabur dan telah melakukan pemenggalan terhadap keterangan untuk menjerat kliennya sebagai terdakwa.

Alexander Arif juga mempertanyakan kapasitas saksi (pelapor) Suwarlina Linaksita terhadap cover note yang dibuat oleh terdakwa,” pelapor (saksi) itu kapasitasnya apa, dan dia diruhikan yang bagaimana,” ungkapnya

Perlu diketahui, Prof. DR. Lanny Kusumawati Dra SH Mhum ditetapkan tersangka atas laporan Suwarlina Linaksita ke Polrestabes Surabaya.

Ia dituding memberikan keterangan palsu akte otentik pada cover notes dan kemudian surat keterangan perihal cover notes tersebut digunakan Eka Ingwahjuniarti untuk mengeksekusi rumah dan tanah yang berlokasi di Jl Kembang Jepun 29 Surabaya, yang ditempati pelapor sejak tahun 1931.

Wang Suwandi, juru bicara keluarga Suwarlina Linaksita dan Bambang Soephomo mengatakan, Surat Keterangan Perihal Cover Notes Nomor: 35/L.K/III/2012 tanggal 16 Maret 2012 dan Surat Keterangan Perihal Cover Notes Nomor: 7/L.K/2014 tanggal 6 Maret 2014 yang dikeluarkan Prof. DR. Lanny Kusumawati Dra SH Mhum dan dipergunakan Eka Ingwahjuniarti sebagai bukti dalam perkara gugatan perdata Nomor: 1064/Pdt.G/2013/PN.Sby tanggal 01 Oktober 2014, adalah tidak benar.@rofik