The Cancer Centre selaku salah satu layanan klinik medis unggulan yang tergabung dalam Singapore Medical Group (SMG) mengklaim menemukan pengobatan baru mengatasi penyakit kanker melalui teknologi Immunotherapy dan Targeted Therapy.
Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Kanker merupakan penyakit mematikan kedua dunia setelah serangan jantung. Berdasarkan data Buletin Data dan Informasi Kesehatan Kemenkes tahun 2015, kanker menempati nomor tujuh penyebab kematian di Indonesia. Tidak sedikit biaya, tenaga dan waktu terbuang dalam pengobatan kanker ini.

Menyambut Hari Kanker Sedunia di peringati tiap tanggal 4 Februari, The Cancer Centre selaku salah satu layanan klinik medis unggulan yang tergabung dalam Singapore Medical Group (SMG) mengklaim menemukan pengobatan baru mengatasi penyakit kanker melalui teknologi Immunotherapy dan Targeted Therapy.

Dr. Wong Seng Weng selaku ahli Onkologi dan Konsultan Spesialis dari The Cancer Centre, SMG mengatakan bahwa semua orang memiliki sel kanker di tubuhnya. Sel kanker ini dibedakan dari sel normal berdasarkan sejumlah karakteristik morfologi, perilaku, dan genetiknya.

Sel kanker ini memiliki perkembangan yang abnormal, dapat menyebar dan menyerang sel normal lain layaknya ‘teroris’, dan sel ini tidak memiliki waktu tenggat hidup. Jika sel teroris ini sudah menyebar ke organ-organ tubuh, maka pemberantasan penyakit kanker secara tuntas sangat sulit dicapai.

“Kanker paru, hati, usus, kolorektal, payudara dan serviks adalah jenis kanker yang paling banyak diderita pasien orang Indonesia,” ungkap Dr. Wong Seng di Jakarta, Kamis (25/1/2018).

Ia menjelaskan pengobatan kanker umumnya ditentukan berdasarkan stadium kanker dan penyebarannya di dalam tubuh.

“Secara umum ada 4 pengobatan kanker yaitu operasi, terapi radiasi, kemoterapi dan terapi hormon. Kemoterapi sering dilakukan pada pasien kanker karena terapi ini sangat ampuh dalam menyasar sel kanker yang sudah menyebar. Namun, kemoterapi dapat ikut membunuh sel normal yang sehat selain sel kanker sehingga menimbulkan efek samping tertentu, seperti Alopecia, Neutropenia dan dalam beberapa kasus langka Cardiotoxicity,” jelasnya.

Dr. Wong kemudian melakukan penelitian dalam hal pengobatan kanker sehingga menemukan terobosan baru yang mampu membedakan antara sel kanker dan sel normal yang sehat dalam tubuh. Hal ini menandai evolusi terbaru dalam terapi pengobatan kanker, yaitu Immunotherapy dan Targeted Therapy.

“Immunotherapy adalah pengobatan terbaru yang dapat mengungkap sel kanker yang sering kali terselubung di antara sel normal yang sehat untuk membidik dan menghancurkan. Terapi ini mengurangi risiko perkembangan penyakit atau kematian sebesar 50%. Ini sebuah kemajuan dibandingkan tindakan kemoterapi,” katanya.

Dr. Wong menjelaskan lebih jauh bahwa kelangsungan hidup seorang pasien tidak ditentukan semata-mata oleh kekuatan sistem imun mereka. Sistem imun tidak dapat menyerang kanker bukan karena lemah, melainkan karena ia tidak memiliki kemampuan untuk mengenali kanker.

Immunotherapy ini tidak digunakan untuk memperkuat sistem imun, namun untuk membantunya mengidentifikasi sel kanker sehingga dapat menyerangnya. Dengan kata lain, Immunotherapy bekerja untuk mengungkap penyamaran sel kanker yang mengacaukan sistem imun.

Ada sistem pemberi sinyal yang digunakan oleh sel normal untuk memberi tahu sistem imun agar tidak menyerang mereka. Sebaliknya, sistem pemberi sinyal yang sama juga digunakan untuk mengidentifikasi dan menyerang sel kanker.

Pengembangan teknologi Immunotherapy memberikan harapan baru untuk pengobatan kanker, terutama kanker yang mudah kambuh seperti kanker paru.

“Efek samping Immunotherapy memiliki risiko yang lebih kecil, yaitu ruam kulit ringan yang akan hilang dengan sendirinya. Immunotherapy juga dapat melengkapi efek yang dihasilkan dari kemoterapi jika keduanya dilakukan bersamaan,” katanya.

Dr. Wong menjelaskan lebih lanjut, Targeted Therapy merupakan pengobatan yang menggunakan obat yang didesain khusus untuk mengenali dan menghancurkan sel kanker dari jenis kanker yang spesifik level molekuler dengan mematikan sinyal pertumbuhan sel kanker yang dapat memicu perkembang biakan sel.

Pengobatan ini dinilai efektif karena obat yang digunakan hanya terfokus pada sel yang telah teridentifikasi memiliki potensi kanker, sehingga sel normal yang sehat tidak terkena dampak dari kemoterapi. Hasilnya, pengobatan ini dapat membantu memperpanjang kelangsungan hidup para penderita kanker payudara dengan status ‘HER2 Positif’ sampai dengan 5 tahun berdasarkan hasil screening kanker SG50 di tahun 2015.

“Targeted Therapy seperti erlotinib dan gefitinib bekerja lebih baik pada pasien Asia, wanita dan non-perokok. Pasien yang menjalani terapi ini juga mengalami efek samping yang lebih rendah, cocok sebagai terapi perawatan jangka panjang untuk mengontrol sel kanker,” kata Dr. Wong.

Sementara itu, Arifin Ng, Senior Vice President of Singapore Medical Group, menambahkan SMG merupakan sebuah grup dokter spesialis dan penyedia layanan kesehatan swasta di Singapura yang menawarkan beragam perawatan medis yang mendukung kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.

Berdiri sejak tahun 2005, rumah sakit ini memiliki layanan kesehatan yang melibatkan lebih dari 25 bidang spesialisasi medis dan memiliki sederetan klinik medis untuk mendukung kesehatan masyarakat, termasuk The Cancer Centre, yang merupakan salah satu layanan unggulan.

“The Cancer Center ini sebagai tempat konsultasi lengkap dan pengobatan terkini untuk berbagai penyakit kanker oleh tim ahli Onkologi, perawat dan konselor yang berkualifikasi tinggi,’ ujar Arifin.

Saat ditanya kisaran harga pengobatan kanker di SMG, dengan lugas menjawab “Sekitar 6000 dolar Singapura. Ini sudah terbukti pada pasien penderita kanker paru-paru stadium 4 yang diprediksi hidupnya tidak lama lagi, ternyata dinyatakan sembuh”.@Rudi