Aksi DJ Internasional di depan ribuan publik di Hall ICE BSD Tangerang. @foto:book my show
Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Mega konser DJ berkelas internasional sensasional bertajuk “The Ocean of White”, akhir pekan  lalu, berlangsung cukup meriah, meski tak spektakuler gaungnya.  Acara yang dirancang megah, menghadirkan sederet musisi dance elektronik internasional, seperti Mr. White, Lucas & Steve, Quintino, Ummet Ozcan sampai Dimitri Vegasdan Like Mike, cukup menghipnotis publik yang memenuhi lebih dari separoh hall ICE BSD City Tangerang, Banten yang berkapasitas 20 ribu pengunjung.

Histeria pengunjung tidak terlepas dari kreasi Sang Promotor ID&T Amsterdam  bersama Maxima Production (media partner di Indonesia) yang juga mengahdirkan sosok pemandu acara legendaris MC. Gee. Tak pelak, penonton yang ber dress code serba putih, seakan dibawa menuju pada sensasi suasana seperti menyelam dalam dunia air yang penuh dengan misteri.

Pekerja Asing Ilegal 

Disayangkan, dibalik konser dengan bandrol tiket termurah Rp. 850 ribu, gelaran Sensation Jakarta 2018 tersebut dibayangi oleh pelanggaran hukum puluhan pekerja stage panggung, lighting & sound ilegal yang sengaja didatangkan dari Singapura oleh pihak penyelenggara. Ironisnya, fakta keberadaan pekerja ilegal di depan mata tak membuat lembaga terkait keberadaan orang asing merasa kecolongan dan segera bertindak. Baik itu oleh pihak Pengawasan Orang Asing (POA) Polda Metro Jaya Maupun Pihak Bidang Penindakan dan Pencegahan Kemenkumham RI pusat dan wilayah.

Saat dikonfirmasi, Kasie  Bidang Penindakan dan Pencegahan KantorKemenkumham Wilyaha Tangerang, Asmi, tidak menampik fakta tersebut.

Bahkan, Asmi mengajak keruangannya untuk bersama melihat data yang ada di meja kerjanya. Memang Bahwa belum ada data visa pekerja asing untuk stage panggung dalam mega konser berkelas internasional tersebut yang bekerja secara ilegal.

“Kami belum tahu perihal puluhan pekerja panggung ilegal tersebut dan akan segera kami cek ke pimpinan di pusat,” kata Asmi yang berjanji akan segera menindaklanjuti adanya pekerja asing ilegal yang mengobok-obok wilayah kerjanya tersebut, Sabtu siang (10/2/2018).

Ironis yang sama juga diperlihatkan Satuan Dit Intel Pengawasan Orang Asing (POA) Polda Metro Jaya saat saat mengetahui adanya pekerja asing ilegal yang mengacak-acak wilayah kerjanya. Terlebih Unit khusu pengawasan bagi orang asing ini  sudah mendengar berita laporan adanya pekerja asing ilegal ini sejak satu minggu lalu.

Mengapa hingga konser DJ Sensation 2018 di ICE BSD semalam berakhir, pihak POA belum juga bertindak?

Saat dikonfirmasi, Kanit POA Polda Metro Jaya, AKBP Polisi,Timur, hanya menjawab tidak bisa menindak lantaran sprindik dari pimpinan belum turun.

“Betul kami sudah mendengar perihal keberadaan pekerja asing illegal yang sengaja didatangkan dari Singapura oleh pihak penyelenggara itu sejak tanggal 2 Februari 2018 lalu. Namun kami belum bisa bergerak

karena belum ada sprindik (surat perintah penyidikan) yang ditandatangai dari pimpinan dulu,’’ tukas Timur saat dikonfirmasi  sebelum konser berlangsung,  (7/2/2018).
HMI Tolak Konser Vulgar

Adalah Direktur Utama PT. Energi 9, Benyamin Ellyas (BE), selaku penyelenggara  yang harus bertanggung jawab atas puluhan pekerja asing ilegal dalam Sensantion Jakarta 2018 tersebut. Terlebih, pada penyelenggaraan tahun sebelumnya Sensation 2017 didemo dan ditolak oleh sejumlah elemen masyarakat yang keberatan dengan muatan budaya asing yang dinilai tidak selaras dengan kepribadian bangsa tersebut.

Salah satu penolakan datang dari aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Badko Tangerang. Hal ini diungkapkan Lukman dan Febri (Pengurus Cabang) saat dikonfirmasi. “Mohon maaf, kami terlambat mengetahui dan mengantisipasi adanya konser vulgar seperti Sensation 2018 di wilayah ini. Namun tidak ada kata terlambat, kami menyatakan keberatan dan menolak even even terbuka yang tidak menghargai  masyarakat  Tangerang yang mayoritas  Islami dan tidak bermanfaat bagi kemaslahatan umat sepert yang diselenggarakan PT. Energi 9 tersebut,” tegas Febi dan Lukman, berjanji segera mengkonsolidasikan hal ini dengan pengurus untuk menyikapi, di Kantor sekretariat cabang, Jl. Ahmad Yani, Tangerang.

Sebelumnya, puluhan demonstran mengatas namakan Gerakan Aktifis Islam Indonesia (GAII) terlebih dahulu merespon dan menolak dengan menggelar aksi di depan kantor Maxima Production dikawasan Sunter, Jakarta Pusat, pada Kamis lalu (8/2) Namun, demo persuasif sebagai gerakan moral menolak Sensation 2018 digelar, tidak cukup membuat PT. Energi 9 bergeming dan konser pun tetap digelar.

Pada even tahun ini, PT. Energi 9 yang belum genap setahun didirikan oleh Benyamin Ellyas itu disuport oleh PT. Show Tec, pte ltd Singapore yang bergerak dibidang rental peralatan sound musik & lihgting panggung berkelas internasional. Tidak tanggung tanggung, Show Tec pte ltd mengirimkan 8 kontainer perlatan panggung seharga Rp 120 miliar untuk mensupport PT. Energi 9 milik Benyamin Ellyas yang bermitra dengan Maxima production untuk support Sensation Jakarta 2018.

Disayangkan, 20 orang tenaga teknisi asal Singapura dan Malaysia yang menyertai kontainer tersebut masuk ke Indonesia tanpa kelengkapan visa kerja dan sangat merugikan integritas Indonesia sebagai bangsa.

Fakta adanya pekerja asing ilegal pada konser DJ internasional sekelasSensastion Jakarta 2018, membuktikan ketidaksigapan aparat dan lembaga hukum negara ini dalam mengantisipasi kejahatan terstruktur secara terselubung. Bukan tidak mungkin, bahkan sangat mungkin kejahatan seperti ini terulang lagi.

Hal ini juga membuktikan adanya modus-modus terselubung dari luar yang begitu licin memanfaatkan celah celah kelemahan aparatur hukum di wilayah NKRI, sehingga merugikan kepentingan negara. Sudah seharusnya kasus kasus sejenis dengan cara apapun tidak boleh terulang kembali. Hukum harus ditegakkan. Bagi siapapun yang terbukti melanggar harus diberi sanksi seberat-beratnya agar menjadi efek jerah bagi siapa pun untuk tidak coba-coba berani melakukan hal yang sama.
Seperti apa yang dilakukan Benyamin Ellyas sebagai Direktur PT. Energi 9 yang bertanggung jawab atas puluhan pekerja asing ilegal harus ditindak tegas dan diberi sanksi seberat beratnya sesuai hukum yang berlaku di Indonesia. Bagi perusahaan yang pernah lalai atau sengaja melanggar harus di-back list, tidak boleh diberikan ijin penyelengaraan even apa pun di wilayah Indonesia. @esa