Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.  
Bandar narkoba jaringan Malaysia diadili di Surabaya, JPU hadirkan dua saksi
Muhammad Yamin, bandar narkoba jaringan Malaysia duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (14/02/2018). FOTO: rofik-lensaindonesia.com
HEADLINE JATIM RAYA

Bandar narkoba jaringan Malaysia diadili di Surabaya, JPU hadirkan dua saksi 

LENSAINDONESIA.COM: Muhammad Yamin, bandar Narkoba jaringan Malaysia, yang mengendalikan dari Lapas Cilodong, Bogor menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (14/02/2018).

Dalam sidang yang mengagendakan keterangan saksi ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nur Rachmat dari Kejaksaan Tinggi Jatim menghadirkan dua orang saksi, yakni Ferry Panduwiguna (34) warga Jalan Flamboyan Depok Jakarta yang merupakan anggota Sipir Lapas Depok dan Saipullah (36) warga Tangerang, masing-masing sudah divonis 14 tahun penjara.

Dihadapan ketua majelis hakim, dua saksi menjelaskan, bahwa pada Sabtu (28/01/2017) saksi Saipulloh ditelpon terdakwa Muhammad Yamin, disuruh mengambil timbangan elektrik dekat Giant Cibinong, Depok.

Setelah mendapatkan timbangan, elektrik tersebut untuk diserahkan ke saksi Ferry Panduwiguna. Begitu mendapatkan timbangan elektrik tersebut, Saipulloh janjian bertemu dengan Ferry di Alfamart dekat Lapas Cilodong untuk menyerahkan timbangan elektrik itu.

“Setelah itu saya dan Ferry disuruh oleh Yamin (terdakwa) mengambil tas pada Diyan Susanto (berkas terpisah) dengan imbalan 5 juta. Untuk diserahkan ke Resa Puryono (berkas terpisah),” ucap dua saksi dihadapan majelis hakim yang diketuai hakim Yulisar.

Keterangan saksi ini tidak dibantah sedikitpun oleh terdakwa, hal itu terlihat saat hakim menyakan kepada terdakwa atas keterangan dua saksi ini benar apa salah. ” Benar pak,” ucap terdakwa dengan singkat.

Untuk diketahui, kasus ini berawal pada saat terdakwa berkenalan pada Resa Puryono alias Daeng Ali pada 2016 silam. Kemudian terdakwa dihubungi Kho Ka Key (DPO) dengan tujuan menyuruh Resa untuk mengantarkan sabu seberat 1 kg ke makasaar dengan imbalan Rp 5 juta.

Lantas pada (26/01/2017), Resa menjenguk terdakwa di Rutan Cilodong Depok. Akan tetapi terdakwa tidak bertemu dengan Resa lantaran sakit, Resa pun berpesan kepada Ferry (sipir) dengan tujuan mengembalikan sabu kepada terdakwa, lantas dijawab dengan terdakwa, sabu tersebut dikembalikan ke Pontianak atau Makassar.

Baca Juga:  Jatim ditunjuk sebagai tuan rumah Liga Panahan Indonesia 2019

Kemudian pada 27 Januari 2017 Ferry menelpon terdakwa bilang bahwa Resa sehat (tidak ditangkap polisi). karena Ferry telah diberi sabu 1 Gram oleh Resa. lalu Resa balik ke Surabaya untuk mengambil sabu tersebut dan dibawa ke Jakarta untuk diberikan kepada Diyan karena Fery sedang piket jaga Rutan Kelas IIB Cilodong Depok.

Singkat cerita, pada 30 Januari 2017 kamar terdakwa di sidak oleh petugas Rutan Kelas IIB Cilodong Depok karena Kepala Rutan mendapat berita bahwa Ferry Panduwiguna dan Diyan Susanto telah ditangkap oleh petugas Ditresnarkoba Polda Jatim, kemudian petugas Rutan menemukan 2 buah Handphone merk Iphone dan Samsung milik terdakwa yang berada di kamar terdakwa.

Bahwa terdakwa tidak memiliki ijin dari pihak yang berwenang atau dinas kesehatan dalam hal menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan Narkotika jenis shabu. Selanjutnya terdakwa beserta barang buktinya dibawa kekantor Ditreskoba Polda Jatim untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut.

Berdasarkan hasil laboratoris Kriminalistik Nomor Lab: 1190/NNF/2017 tanggal 20 Pebruari 2017 disimpulkan bahwa barang bukti dengan Nomor: 1780/2017/NNF berupa 17 (tujuh belas) kantong plastik berisi kristal warna putih dengan berat netto 165,904 gram tersebut diatas adalah benar kristal Metamfetamina terdaftar dalam Golongan I (satu) Nomor Urut 61 Lampiran I UU R.I No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika.@rofik