LENSAINDONESIA.COM: Kasus dilepasnya Khoirul, warga Jl Simojawar, yang sempat ditahan 3 hari di Polsek Semampir dengan barang bukti 7 poket sabu, terus berbuntut panjang.

Belum selesai kontroversi dugaan Khoirul dilepas karena bayar tebusan Rp 50 juta, kini muncul masalah baru terkait penangkapan tukang parkir di Wonokromo itu yang disinyalir ada unsur jebakan narkoba alias rekayasa.

Hal itu diungkapkan Kanit Reskrim Polsek Semampir AKP Junaidi saat dikonfirmasi Lensa Indonesia. Meskipun membantah melepas Khoirul dengan tebusan uang, namun AKP Junaidi curiga ada upaya jebakan narkoba saat 3 anggotanya, JM, FR dan HR melakukan penangkapan terhadap pria yang disebutnya sudah lama jadi TO dalam peredaran narkoba itu.

“Tidak benar kabar yang menyebut uang Rp 50 juta sebagai tebusan. Yang jelas saat ini kami melacak siapa yang menempatkan sabu di kursi ruang tamu rumah dia (Khoirul),” terangnya.

Lensa Indonesia langsung mengejar pernyataan AKP Junaidi tersebut karena logikanya bila ada yang menempatkan sabu di rumah Khoirul, berarti ada jebakan. Dalam hal ini, anggota Reskrim Polsek Semampir yang melakukan penangkapan diduga kuat terlibat karena bisa tahu di kursi ruang tamu Khoirul ada narkoba ‘tersimpan’.

“Anggota Polsek Semampir kok bisa tahu di rumah (Khoirul) itu ada sabu yang diselipkan di kursi ruang tamu? Logikanya, itu berarti ada komunikasi antara anggota polisi yang melakukan penggerebekan dengan orang yang menyelipkan sabu?,” tanya Lensa Indonesia.

AKP Junaidi langsung menjawab bahwa hal itu sempat mengganggu pikirannya, namun sebagai Kanit Reskrim, dia masih percaya dengan anggotanya. “Bisa jadi seperti itu. Tapi kami belum bisa menyimpulkan, perlu pendalaman lebih lanjut. Menurut info, dia (Khoirul) ini memang termasuk jaringan pengedar. Sementara ini saya masih percaya anggota kami. Tapi dugaan seperti itu sempat mengganggu pikiran saya,” jelasnya.

Sementara itu, Kapolsek Semampir Kompol Naufil Hartono yang kemarin melakukan klarifikasi terkait kasus ini kembali menegaskan pihaknya tak main-main dalam kasus ini. Menurutnya, instruksi tegas sudah diberikan ke Kanit Reskrim agar melepas tersangka tanpa embel-embel bila tak menemukan bukti kuat. “Saya tak pernah main-main dalam kasus narkoba. Tolong masalah ini diklarifikasi karena saya ditegur Kapolres (Polres Pelabuhan Tanjung Perak),” ujarnya melalui telepon.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus bermula pada Senin (26/2/2018) siang lalu. Saat itu Khoirul ditangkap 3 petugas Reskrim Polsek Semampir, JM, FR dan HR, setelah polisi yang melakukan penggerebekan menemukan barang bukti 7 poket sabu yang diselipkan di kursi ruang tamu rumahnya.

Khoirul lantas dibawa ke Mapolsek untuk diperiksa keterangannya sebagai pengedar narkoba dan dilakukan tes urine. Namun hasil tes urine terhadapnya negatif dan Khoirul bersikukuh narkoba yang ditemukan petugas Polsek Semampir di rumahnya itu bukan miliknya.

Anehnya, meskipun sulit membuktikan Khoirul sebagai tersangka pegedar narkoba, Polsek Semampir tetap melakukan penahanan hingga akhirnya datang seorang pengusaha besi tua, AR. Entah bagaimana caranya, AR kemudian berhasil merayu agar polisi melepaskan Khoirul.

Pada Rabu (28/2/2018) pagi, Khoirul akhirnya dilepas setelah diduga menyerahkan uang Rp 50 juta ke oknum Polsek Semampir yang disebut “Pak YJ” melalui bantuan pengusaha besi tua, AR. @rofik

 

<< Berita Sebelumnya                                                               Berita Selanjutnya>>