LENSAINDONESIA.COM: Herawati Diah (56) warga Jl Kedung Baruk XIII, Surabaya, selasa (13/3/2018) menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, dalam kasus penipuan. Meski berstatus terdakwa, perempuan bergelar sarjana hukum ini hanya menjadi tahanan kota.

Dalam aksinya, terdakwa menawarkan rumahnya melalui saksi kepada Rahmat Hidayat, guna melunasi tunggakan pembayaran angsuran di Bank BRI.

Jaksa Agung Rohaniawan dalam dakwaannya menjelaskan, saksi (korban) Andi Sinarto dihubungi saksi Rahmat Hidayat yang diminta tolong terdakwa untuk mencarikan orang yang mau membeli rumahnya.

“Saksi (korban tertarik) namun saat ditanya kebenaran informasi tersebut, saksi menolak karena terdakwa hanya membutuhkan pinjaman sebesar Rp 690 atas tunggakan pelunasan angsuran di Bank BRI atas sertifikat rumahnya yang dijaminkan,” terang JPU Agung.

Dijelaskan lebih lanjut, terdakwa kembali menghubungi saksi (korban), bahwa dirinya mendapat potongan piutang hingga menjadi Rp 615 juta dan meminta tolong untuk melunasi, dengan kesepakatan akan dilakukan jual beli rumah.

“Terdakwa meminta tolong agar saksi (korban) membantu melunasi piutangnya, dengan kesepakatan membeli rumahnya dengan SHM nomor 1894/Kelurahan Kedung Baruk Kecamatan Rungkut atas nama terdakwa dan disepakati harga Rp 1,2 miliar,” tambah Agung.

Atas kesepakatan tersebut, terdakwa dengan disetujui dan disaksikan suaminya Agus Supriyoso, pada 22 Desember 2014, membuat perjanjian di hadapan Notaris Yatiningsih, dalam ikatan akte jual beli (AJB) menyatakan harga pasti Rp 1,2 miliar.

“Akte pernyataan bersama no. 206, saksi (korban) Andi Sinarto memberikan hak kepada terdakwa untuk kembali membeli rumahnya dalam waktu tiga bulan seharga Rp 1,272 miliar, serta perjanjian pengosongan paling lambat 30 Maret 2015,” papar Jaksa Agung.

Atas kesepakatan tersebut, saksi korban mentransfer pelunasan melalui rekening terdakwa (Rp 615 juta) serta uang Cash Rp 216 juta. Dan atas tenggat waktu yang disepakati, saksi kembali membayar kekurangan sebasar Rp 300 juta serta uang pengosongan Rp 93 juta. Namun hal tersebut diingkari terdakwa.

Ditemui usai sidang, Alex selaku kuasa hukum terdakwa menyatakan, bahwa dakwaan tersebut tidak benar dan menyatakan kasus tersebut adalah perdata. “Ini kasus hutang piutang namun dibungkus dalam jual beli rumah, ini perdata,” ucapnya. @rofik