LENSAINDONESIA.COM: Sidang gugatan Pra Peradilan yang diajukan Zainal Abidin alias Juned, tersangka atas pelecehan seksual terhadap seorang pasien Rumah Sakit Hospital Internasional di Pengadilan Negeri Surabaya batal digelar Senin (19/O3/2018).

Hal ini karena pihak Polrestabes Surabaya selalu tergugat tidak hadir.

M. Soleh kuasa hukum tersangka menyatakan, pihaknya akan tetap menunuggu, dan berharap tergugat patuh terhadap hukum.

“Kami akan tunggu, bila tergugat tidak hadir hingga batas yang ditentukan, Senin pekan depan, maka Pra Peradilan gugur,  berarti tergugat tidak ada etikad baik,” tegasnya.

Mantan aktivis 1998 ini juga merasa yakin gugatan atas ditetapkannya kliennya dapat dikabul oleh pengadilan.

“Ini pertaruhan nama baik saya. Saya sudah beberapa kali melakukan praperadilan diberbagai instansi dan menang. Bukan berarti saya pengacara hebat,” sambungnya.

Disinggung terkait adanya upaya damai yang disampaikan mantan Pengacara tersangka (Makruf Syah), atas permintaan uang Rp 3 miliar oleh suami korban, saat diwawancarai stasiun televisi, Soleh mengaku tidak tahu.” Saya mendengar info seperti itu, tapi saya tidak tahu pasti,” elaknya.

Terkait penetapan tersangka, Soleh mengaku Penyidik Polrestabes Surabaya melakukan tindakan gegabah.” Bisa dibayangkan, setelah klien kami ditangkap, langsung ditetapkan sebagai tersangka. Dimana disitu tidak ada keterangan saksi ahli juga tidak ada visum, bahkan kapan saksi itu diperiksa,” ucapnya tanda tanya.

“Oleh karena itu, makanya kami ajukan Pra Peradilan. Dan ini menjadi pertauhan nama baik saya,” tandasnya.

Diketahui, Zainal Abidin alias Juned perawat rumah sakit Hospital Internasional Surabaya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pelecehan seksual terhadap seorang pasien bernama Widya beberapa waktu lalu.

Kasus ini mencuat ke permukaan setelah istri pengacara Yudi Wibowo itu menggah pengakuannya melalui video di media sosial.@rofik