Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg mengakui bila media sosial miliknya “melakukan kesalahan” yang mengakibatkan jutaan data penggunanya dieksploitasi lembaga konsultan politik.

Lembaga konsultan politik, Cambridge Analytica dituding telah “melanggar kepercayaan”. Setidaknya data 50 juta user Facebook untuk kepentingan kampanye Donald Trump di Pilpres 2014 lalu.

Dalam wawancara dengan CNN, Zuckerberg “meminta maaf sangat dalam” dan akan mengambil tindakan terhadap aplikasi bermasalah yang dikelola pihak ketiga.

Dia juga menyatakan “senang” untuk bersaksi di Kongres AS bila hal itu adalah hal yang benar dilakukan.

Dalam statemennya yang diposting di Facebook, dia berjanji akan memperketat aturan bagi aplikasi yang ingin “memanen” data pengguna Facebook.

“Kami punya tanggung jawab untuk melindungi data Anda dan kalau kami tak bisa maka kami tak layak melayani Anda,” kata Zuckerberg.

Skandal ini membuat para senator AS meminta Zuckerberg untuk bersaksi di depan Kongres tentang bagaimana perusahaannya bisa melindungi para pengguna, sementara lembaga perlindungan konsumen US Federal Trade Commission dilaporkan sudah mulai melakukan penyelidikan terhadap Facebook.

Ketua Parlemen Eropa juga mengatakan akan menyelidiki kemungkinan terjadinya penyalahgunaan data. Anggota Komisi Informasi Inggris, Elizabeth Denham sedang berusaha mendapatkan surat perintah untuk menggeledah kantor Cambridge Analytica.

Dilansir dari BBC, skandal ini bermula di tahun 2014 saat Facebook mengundang pengguna untuk mengikuti kuis “This is Your Digital Life.” Ini aplikasi yang dibuat untuk mengetahui tipe kepribadian pengguna, yang dikembangkan oleh peneliti Cambridge University, Dr Aleksandr Kogan.

Saat itu hanya sekitar 270.000 data pengguna yang dikumpulkan. Namun aplikasi ini ternyata mengumpulkan juga data publik dari teman-teman para pengguna itu.

Facebook kemudian mengubah jumlah data yang bisa dikumpulkan perusahaan pengembang dengan cara ini. Tetapi seorang bernama Christopher Wylie membocorkan fakta bahwa sebelum aturan penggunaan data diperketat, Cambridge Analytica telah memanen data dari sekitar 50 juta orang.

Menurut Christoper Wylie, data itu dijual ke Cambridge Analytica yang kemudian menggunakannya untuk menganalisa profil psikologis orang-orang itu dan memasok materi pro-Trump kepada mereka.

Dalam percakapan yang direkam secara rahasia oleh program investigasi Channel 4, pemimpin perusahaan itu, Alexander Nix mengatakan bahwa perusahaan yang berbasis di London itu mengelola kampanye digital Donald Trump selama pemilu AS tahun 2016.

“Kami melakukan semua penelitian, semua data, semua analisis, semua penargetan. Kami menjalankan semua kampanye digital, kampanye televisi dan data kami menginformasikan semua strategi itu,” tambahnya.

Dr Aleksandr Kogan mengatakan bahwa menurut Cambridge Analytica semua yang mereka lakukan adalah sah, dan bahwa dia dijadikan “kambing hitam” oleh Cambridge Analytica dan Facebook.