LENSAINDONESIA.COM: Kasus saling lapor dugaan penganiayaan di Kafe Santoso Jl Kenjeran memasuki babak baru. Oknum wartawan SA dan bos kafe WCS yang sebelumnya resmi dijadikan tersangka oleh penyidik Polsek Simokerto, hari ini Senin (26/3/2018), dilimpahkan ke Kejari Surabaya berikut barang buktinya.

Sayangnya, cuma bos Kafe Santoso WCS saja yang memenuhi panggilan penyidik Polsek Simokerto untuk dilakukan pelimpahan tahap II (tersangka dan barang bukti) ke Kejari Surabaya. Sejak pukul 08.00 WIB, WCS hadir di Mapolsek dan saat ini sudah dihadapkan ke Jaksa Kejari Surabaya, Darwis, yang menangani kasus ini.

Sedangkan, oknum wartawan SA tak datang di Mapolsek Simokerto untuk memenuhi panggilan penyidik. Saat tiba polisi mengantar WCS ke Kejari Surabaya, SA tetap tak hadir.

Kapolsek Simokerto Kompol Masdawati Saragih saat dikonfirmasi membenarkan bahwa oknum wartawan SA tidak datang memenuhi panggilan penyidik. “Kami belum tahu alasannya apa. Tadi penyidik sempat dikabari pengacaranya untuk bertemu di Kejari Surabaya. Tapi yang jelas sampai saat ini yang bersangkutan tak hadir,” jelasnya.

Ditanya tindakan polisi selanjutnya terkait SA yang mangkir, Kompol Masdawati Saragih menegaskan pihaknya akan melakukan panggilan kedua maksimal satu minggu dari hari ini. “Panggilan kedua segera kami kirim. Jika masih tak datang lagi, ya kami bertindak sesuai prosedur melakukan jemput paksa,” tegasnya.

Perlu diketahui, oknum wartawan, SA dilaporkan ke Polsek Simokerto dan Polrestabes Surabaya karena diduga nekat melakukan penganiayaan saat mengirim proposal permohonan bantuan sumbangan untuk acara ulang tahun kantornya. Dia dilaporkan menganiaya waitress, Ikhtiya Kustiyaningsih (47) dan WCS alias Ciker.

Ikhtiya yang melapor ke Polsek Simokerto langsung melakukan visum dan menerima tanda bukti lapor LP/124/XII/2017/SMKT, dengan nama terlapor Syamsul Arifin, alamat Jl Kalimas Baru III. “Saya kerja cari nafkah buat anak biar bisa sekolah, kok teganya ada dianiaya seperti ini. Padahal dia lelaki loh, kok tega berbuat itu sama perempuan tak berdaya. Saya sampai 3 hari gak bisa kerja karena leher saya sakit,” terangnya sambil menunjukkan luka dan memar serta hasil pemeriksaan dokter.

Hal yang sama juga dilakukan WCS. Pemilik Kafe Santoso ini juga melaporkan kasus penganiayaan ini ke Polrestabes Surabaya karena bibir dalamnya pecah kena pukulan dan dahinya tergores. Usai melakukan visum, dirinya mendapat surat tanda lapor polisi nomor: STTLP/950/XII/2017/Jatim/Restabes Surabaya.

Sedangkan SA yang mengetahui dirinya dilaporkan dalam kasus penganiayaan kabarnya juga melapor ke Polsek Simokerto, dengan mengaku jadi korban pengeroyokan.

Ditemui usai diperiksa penyidik Unit Jatanras Polrestabes Surabaya pada 29 Januari lalu, SA, enggan berkomentar saat ditanya dipanggil dalam kasus apa. “Nggak tahu Mas,” ujarnya singkat. @rofik