LENSAINDONESIA.COM: Polsek Simokerto tak ingin dianggap main-main menangani kasus dugaan penganiayaan oknum wartawan, SA, terhadap waitress Kafe Santoso, Iktiya Kustiyaningsih (48).

Setelah SA yang ditetapkan sebagai tersangka, sudah dua kali mangkir dari panggilan penyidik untuk dilimpahkan ke Kejari Surabaya (pelimpahan tahap II-tersangka dan barang bukti), hari ini Senin (2/4/2018), Polsek Simokerto mengeluarkan surat perintah untuk membawa (jemput paksa) terhadap oknum wartawan pembawa proposal minta sumbangan ke Kafe Santoso tersebut.

Kanit Reskrim Polsek Simokerto Iptu Suwono mengungkapkan hal ini. Menurutnya, setelah dua kali surat panggilan tak direspon SA, maka secara prosedur pihaknya wajib mengeluarkan surat perintah berikutnya, yakni langsung membawa tersangka (jemput paksa) bila ditemukan. “Tapi bila hingga 2 kali kami cari di alamatnya tidak ada, maka surat berikutnya adalah DPO,” jelasnya, Senin (2/4/2018).

Seperti diberitakan sebelumnya, oknum wartawan SA, tersangka kasus penganiayaan terhadap waitress Kafe Santoso, Iktiya Kustiyaningsih (48), kembali mangkir saat hendak dilimpahkan ke penyidik Polsek Simokerto ke Kejari Surabaya.

Warga Jl Kalimas Baru III gang XIV itu sudah kedua kalinya tak datang saat dipanggil penyidik Polsek Simokerto untuk dilakukan pelimpahan tahap II (tersangka dan barang bukti) ke Jaksa Kejari Surabaya.

Sebelumnya, pada Senin (26/3/2018), oknum wartawan yang jadi tersangka karena diduga melakukan penganiayaan terhadap waitress dan Bos Kafe Santoso saat membawa proposal sumbangan ini juga tak datang dengan alasan yang belum jelas.

Perlu diketahui, oknum wartawan, SA dilaporkan ke Polsek Simokerto dan Polrestabes Surabaya karena diduga nekat melakukan penganiayaan saat mengirim proposal permohonan bantuan sumbangan untuk acara ulang tahun kantornya. Dia dilaporkan menganiaya waitress, Ikhtiya Kustiyaningsih (47) dan WCS alias Ciker.

Ikhtiya yang melapor ke Polsek Simokerto langsung melakukan visum dan menerima tanda bukti lapor LP/124/XII/2017/SMKT, dengan nama terlapor Syamsul Arifin, alamat Jl Kalimas Baru III.

Hal yang sama juga dilakukan WCS. Pemilik Kafe Santoso ini juga melaporkan kasus penganiayaan ini ke Polrestabes Surabaya karena bibir dalamnya pecah kena pukulan dan dahinya tergores. Usai melakukan visum, dirinya mendapat surat tanda lapor polisi nomor: STTLP/950/XII/2017/Jatim/Restabes Surabaya.

Sedangkan SA yang mengetahui dirinya dilaporkan dalam kasus penganiayaan kabarnya juga melapor ke Polsek Simokerto, dengan mengaku jadi korban pengeroyokan.

Ditemui usai diperiksa penyidik Unit Jatanras Polrestabes Surabaya pada 29 Januari lalu, SA, enggan berkomentar saat ditanya dipanggil dalam kasus apa. “Nggak tahu Mas,” ujarnya singkat. @rofik