Advertisement

LENSAINDONESIA.COM : Skandal bocornya data pengguna Facebook yang mengguncang dunia ternyata juga dialami user asal Indonesia. Dari total 87 juta data yang bocor, 1,1 juta di antaranya ternyata berasal dari Indonesia.

Sebelumnya, Facebook diduga telah membocorkan data 50 juta penggunanya kepada lembaga konsultan politik Cambridge Analytic untuk kepentingan Pilpres Amerika Serikat. Namun, hasil terbaru ternyata jumlah data yang dibocorkan tak kurang dari 87 juta orang, berdasarkan tulisan yang diposting Kepala teknologi Facebook, Mike Schroepfer.

Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara mengatakan, akan memanggil Facebook Indonesia. “Saya sudah telepon perwakilan Facebook dan memanggilnya untuk bertemu nanti sore,” kata Rudiantara mengutip BBC Indonesia.

“Kami sedang meminta angka pastinya (data pengguna yang bocor). Terlepas dari hasilnya nanti, penggunaan data tidak proper oleh PSE bisa melanggar Meraturan Menteri Kominfo tentang Perlindungan Data Pribadi maupun UU ITE.”

Ia menyebut, sangsinya bisa sampai 12 Tahun penajra dan denda sampai Rp12 Milyar.”Kami juga sudah mulai koordinasi dengan teman-teman POLRI mengantisipasi diperlukannya penegakan hukum secepatnya,” katanya pula.

Daftar negara asal users yang terkena dampak skandal Facebook yang diposting oleh Kepala teknologi Facebook, Mike Schroepfer.

Pimpinan Facebook Mark Zuckerberg berkata bahwa sebelumnya ia berasumsi bahwa jika Facebook memberikan suatu perangkat kepada orang-orang, adalah tanggung jawab mereka untuk memutuskan bagaimana mereka akan menggunakannya.

Tapi ia menambahkan bahwa ‘setelah mengkajinya lagi’ ia merasa pandangan itu sempit dan salah.

“Jelas bahwa kami seharusnya bertindak lebih dari yang dilakukan, dan itu yang akan kami lakukan untuk kedepannya,” katanya.

“Hari ini, berdasarkan informasi yang kami ketahui… Saya rasa kami paham bahwa kami perlu mengemban tanggung jawab kami secara lebih luas,” ujarnya.

“Bahwa kami tidak sekadar membuat suatu perangkat, tapi kami juga perlu bertanggung jawab penuh akan bagaimana orang-orang menggunakan alat tersebut.”

Zuckerberg mengumumkan bahwa audit internal telah mengungkap suatu masalah baru. Aktor-aktor berniat jahat telah menyalahgunakan fitur yang memungkinkan pengguna mencari sesama pengguna dengan memasukkan pos-el (email) atau nomor telepon di kolom pencarian Facebook.

Walhasil, banyak informasi profil publik telah “disalin” dan dicocokkan dengan detail kontak, yang didapatkan dari sumber lain. Facebook kini telah memblokir fasilitas tersebut.@licom