LENSAINDONESIA.COM: Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan mengajak seluruh pihak, termasuk civitas UK Petra Surabaya untuk memerangi hoax atau kabar bohong. Ia juga mengatakan polisi sudah memiliki cyber patrol untuk memerangi para pelaku hoax.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk “Bersama Mahasiswa Melawan Hoax”, Senin (9/4/2018). Rudi menjelaskan hoax adalah segala informasi yang tidak sesuai dengan aslinya. Ia kemudian menggambarkan bagaimana hoax menjadi viral dengan ilustrasi jika seseorang memiliki 11 ribu pengikut di media sosial, dan orang tersebut memasang suatu hoax. Lalu hoax ini kemudian di-share oleh pengikutnya yang juga memiliki ribuan pengikut.

“Maka dalam waktu singkat bisa dipastikan sejumlah besar pengguna internet sudah terpapar dengan informasi salah tersebut, situasi ini yang disebut dengan istilah viral,” bebernya.

Rudi menjelaskan bahwa pemerintah sudah mengantisipasi hoax melalui perangkat perundangan. Kepolisian juga sudah melakukan tindakan terkait hoax, yaitu preemtif, preventif, dan penegakan hukum. Ia pun menyarankan kepada para pengguna internet untuk menjadi netizen yang cerdas dan bijak.

Tak hanya itu, Rudi mengingatkan bahwa kepolisian saat ini sudah memiliki cyber patrol yang bekerja 24 jam setiap hari dan juga bekerjasama dengan para ahli. Pelanggar hukum di dunia cyber pasti tertangkap. “Sekarang bukan lagi mulutmu harimaumu, tapi jempolmu harimaumu,” katanya.

Sebagai penutup sesi ini, segenap peserta seminar melakukan deklarasi anti hoax serta penandatanganan ikrar melawan hoax di lembar Wall of Hopes.

Koordinator Masyarakat Anti Fitnah Wilayah Surabaya Rovien Aryunia, M.PPO., M.M., mengatakan meningkatnya hoax di Indonesia karena rendahnya literasi digital pengguna internet di Indonesia. Rovien kemudian memberikan saran tentang bagaimana mengetahui ciri-ciri hoax. “Yaitu berita yang mengajak pembacanya membenci, fitnah/rekayasa yang memakai gambar yang tidak berkaitan dengan informasi yang disebarkan, dan menggunakan media abal-abal (yang tidak bertanggungjawab),” tuturnya pada 210 peserta seminar.