Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Takut ditahan, oknum wartawan tersangka penganiayaan berupaya hilangkan jejak
Syamsul Arifin, oknum wartawan tersangka penganiaya waitress kafe
HEADLINE

Takut ditahan, oknum wartawan tersangka penganiayaan berupaya hilangkan jejak 

LENSAINDONESIA.COM: Syamsul Arifin, oknum wartawan tersangka penganiaya waitress kafe, Iktiya Kustiyaningsih (48), sampai saat ini belum berhasil ditemukan petugas Reskrim Polsek Simokerto.

Warga Jl Kalimas Baru III gang XIV nomor 14B itu dua kali mangkir dari panggilan polisi untuk dilakukan pelimpahan tahap II (tersangka dan barang bukti) ke Kejari Surabaya dan 2 kali gagal ditemukan petugas Reskrim Polsek Simokerto dalam 2 kali upaya jemput paksa. Langkah berikutnya bagi polisi adalah menerbitkan surat DPO maksimal seminggu setelah upaya jemput paksa kedua gagal mendapatkan tersangka.

Sumber Lensa Indonesia di lapangan menyebutkan bahwa Syamsul Arifin saat ini sulit dilacak keberadaannya. Bahkan nomor ponsel yang biasanya digunakan, kini tak lagi aktif. Diduga kuat oknum wartawan ini sengaja berupaya menghilangkan jejak dan tak mengikuti prosedur hukum karena takut ditahan begitu dilimpahkan penyidik Reskrim Polsek Simokerto ke Kejari Surabaya.

“Kemarin dicari polisi dua kali di rumahnya gak ada. Nomor Hpnya sekarang juga sudah tak aktif lagi. Dulu ada kerabatnya yang sempat bilang, oknum ini ada di Madura setelah tahu dirinya akan dilimpahkan ke Kejaksaan,” terang sumber Lensa Indonesia yang meminta namanya dirahasiakan.

Kapolsek Simokerto Kompol Masdawati Saragih enggan menanggapi hal ini. Pesan WhatsApp yang dikirim hanya dibaca tanpa dibalas. Patut diduga, pihaknya masih setengah hati untuk berani menerbitkan surat DPO bagi Syamsul Arifin karena profesi tersangka adalah wartawan.

Masyarakat saat ini menunggu sikap tegas Polsek Simokerto untuk berani menerbitkan surat DPO bagi tersangka Syamsul Arifin. Ketegasan polisi dalam kasus ini sangat penting agar publik tahu bahwa tidak ada profesi yang kebal hukum.

Apalagi saat awal penanganan kasus ini Kompol Masdawati Saragih sempat berjanji akan menangani hal ini sesuai prosedur hukum yang berlaku, meskipun tidak melakukan penahanan terhadap tersangka Syamsul Arifin.

Baca Juga:  Gara-gara telat kembalikan motor, siswa SMP dihajar empat temannya

Seperti diberitakan sebelumnya, oknum wartawan Syamsul Arifin yang jadi tersangka kasus penganiayaan terhadap waitress Kafe Santoso, Iktiya Kustiyangsih, saat membawa proposal untuk minta sumbangan, kembali gagal ditemukan petugas Polsek Simokerto dalam jemput paksa kali kedua, Selasa (10/4/2018).

Ini berarti sudah kali kedua oknum wartawan Syamsul Arifin, gagal ditemukan saat dilakukan jemput paksa polisi. Sebelumnya, upaya petugas Reskrim Polsek Simokerto juga tidak membuahkan hasil saat mendatangi rumahnya di Jl Kalimas Baru III gang XIV nomor 14B, pada Rabu (4/4/2018) lalu.

Sesuai prosedur hukum yang berlaku, jika tak segera menyerahkan diri maka Syamsul Arifin bakal ditetapkan masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) dalam kasus penganiayaan sesuai pasal 351 ayat 1 dengan ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan. Itu artinya, dia akan memecahkan rekor sebagai wartawan yang jadi buronan polisi di Surabaya.

Pasalnya, selama ini belum pernah ada oknum wartawan yang jadi DPO polisi di Surabaya dalam kasus penganiayaan saat minta sumbangan ke kafe untuk acara ulang tahun kantornya.

Kemarin, Kanit Reskrim Polsek Simokerto Iptu Suwono membenarkan pihaknya kembali gagal melakukan upaya jemput paksa terhadap oknum wartawan penganiaya waitress Kafe Santoso tersebut. “Tersangka tak berhasil kami temukan meskipun sudah kami lakukan penggeledahan,” jelasnya.

Saat ditanya upaya berikutnya apakah Polsek Simokerto berani melakukan tindak hukum sesuai prosedur, yakni menerbitkan surat DPO untuk oknum wartawan itu, Iptu Suwono langsung meminta agar mengkonfirmasi langsung hal ini ke Kapolsek Kompol Masdawati Saragih. “Langsung Kapolsek saja yang memberi penjelasan ya Mas,” sahutnya. @rofik