Setya Novanto saat membacakan pledoi di Pengadilan Tipikor Jakarta. (Foto: Jawapos)
Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto yang jadi terdakwa korupsi pengadaan e-KTP, menyelipkan puisi dalam pembacaan pledoi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (13/4/2018). Dia juga menolak terlibat dalam bagi-bagi duit haram tersebut kepada sejumlah nama yang pernah ia ucapkan.

Novanto menegaskan tidak ikut campur dalam perencanaan hingga pembagian uang hasil korupsi proyek e-KTP kepada sejumlah anggota Komisi II dan Badan Anggaran DPR. Oleh karena itu, Novanto merasa tidak bertanggung jawab atas hal tersebut. “Kesepakatan (bagi-bagi uang) itu diluar tanggung jawab saya. Apalagi, dilakukan sebelum Andi kenalkan saya dengan Irman,” ujar Novanto.

Irman adalah Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Kemudian, pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong merupakan orang yang memenangkan proyek pengadaan e-KTP. Adapun Burhanudin Napitupulu yang saat itu menjabat ketua Komisi II DPR. Pertemuan perihal kesepakatan itu dilakukan pada Februari 2010.

Di akhir pledoi, Novanto membacakan puisi buatan Linda Djalil tersebut. Istri Novanto, Deisti Astriani Tagor, yang duduk di barisan paling depan bangku pengunjung sidang memberikan respons berbeda. Deisti tampak beberapa kali mengusap air matanya.

Begini isi puisi Novanto:
Di Kolong Meja
Di kolong meja ada debu yang belum tersapu karena pembantu sering pura-pura tak tahu.
Di kolong meja ada biangnya debu yang memang sengaja tak disapu.
Bersembunyi berlama-lama karena takut dakwaan seru melintas membebani bahu.
Di kolong meja tersimpan cerita seorang anak manusia menggapai hidup, gigih dari hari ke hari meraih ilmu dalam keterbatasan.
Untuk cita-cita kelak yang bukan semu tanpa lelah dan malu bersama debu menghirup udara kelabu.
Di kolong meja muncul cerita sukses anak manusia, yang semula bersahaja akhirnya bisa diikuti siapa saja karena cerdas caranya bekerja.
Di kolong meja ada lantai yang mulus tanpa cela, ada pula yang terjal bergelombang siap menganga menghadang segala cita-cita.
Apabila ada kesalahan membahana, kolong meja siap membelah, menerkam tanpa bertanya bahwa sesungguhnya ada berbagai sosok yang sepatutnya jadi sasaran.
Di kolong meja ada pecundang yang bersembunyi sembari cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, cuci warisan kesalahan.
Apakah mereka akan senantiasa di sana, dengan mental banci, berlumur keringat ketakutan dan sesekali terbahak melihat teman sebagai korban menjadi tontonan?

Jakarta 5 April 2018

Dalam persidangan sebelumnya, Novanto menyebut sejumlah nama sebagai penerima duit haram e-KTP seperti Puan Maharani, Pramono Anung serta Ganjar Pranowo. Jaksa KPK menuntut mantan Ketum Golkar itu 16 tahun penjara, denda Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Juga menuntut membayar uang ganti rugi 7,4 juta dollar AS serta serta mencabut hak politiknya. @bbs/licom