AS bersama Inggris dan Prancis meluncurkan lebih dari 100 rudal Tomahawk ke Damaskus sebagai reaksi penggunaan senjata kimia yang diduga dilakukan oleh rezim Assad.
Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Militer Amerika Serikat bersama Inggris dan Prancis akhirnya ikut terlibat dalam perang di Suriah dengan menembakkan rudal Tomahawk. Dilaporkan lebih dari 100 misil telah ditembakkan untuk melawan rezim Pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (14/4/2018), serangan udara ke Suriah ini merupakan tanggapan atas serangan gas kimia beracun yang menewaskan puluhan orang di Douma, Suriah, pada 7 April lalu.
“Beberapa waktu lalu, saya memerintahkan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat untuk melancarkan serangan presisi ke target-target terkait dengan kemampuan senjata kimia diktator Suriah Bashar al-Assad,” tegas Presiden AS, Donald Trump dari Gedung Putih.

Adapun Perdana Menteri Inggris Theresa May menegaskan serangan bersifat “terbatas dan sesuai target”. Dia mengatakan keputusan Inggris mendukung serangan ini setelah pihak intelejen mengindikasikan Pemerintahan Assad berada di balik serangan gas kimia di Douma pekan lalu. Maka tidak ada jalan lain kecuali melakukan serangan militer.

Sementara Presiden Prancis, Emmanuel Macron menyatakan serangan yang dilakukan sebatas menyerang fasilitas senjata kimia Suriah. Prancis juga merilis bahwa Damaskus bertanggung jawab dalam serangan gas yang melanda Douma.

Washington juga merilis jika target serangan yang berada dekat Damaskus adalah pusat penelitian, pembangunan, produksi dan uji coba senjata kimia dan biologi. Sebuah senjata kimia disimpan dekat Homs dan sekitarnya.

Dalam pidatonya selama 8 menit, Trump menyatakan dirinya bersiap untuk memberikan respons semacam ini hingga pemerintahan Presiden Assad berhenti memakai senjata kimia dalam gempurannya terhadap pemberontak Suriah, yang juga berdampak ke warga sipil.

“Ini bukan tindakan seorang pria. Ini adalah kejahatan seorang monster,” sebut Trump merujuk pada dugaan keterlibatan rezim Assad dalam serangan kimia di Douma, pekan lalu. @licom