Training of Trainer (TOT) Saksi Badan Saksi Pemilu Nasional (BSPN) DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, di Hall 1 Kampus STIESIA Surabaya, Sabtu (14/04/2018). FOTO: Iwan-licom
Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: DPC PDIP Surabaya mengukuhkan 200 tentara partai yang diambil dari kader militan.

Nantinya, tentara militan tersebut akan disebar sekaligus menjadi komandan bagi saksi di wilayah kelurahannya di lima daerah pemilihan (Dapil).

Pengukuhan tentara partai tersebut ditandai dengan digelarnya Training of Trainer (TOT) Saksi Badan Saksi Pemilu Nasional (BSPN) DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, di Hall 1 Kampus STIESIA Surabaya, Sabtu (14/04/2018).

Ketua DPC PDIP Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana, mengatakan TOT dengan tema Menuju Tentara Partai Yang Jujur, Cerdas, Disiplin Dalam Berpikir dan Bertindak,” ini merupakan agenda partai.

“TOT ini tidak untuk kepentingan pemilu, pilkada semata. Tentara partai ini menjadi delegasi partai untuk door to door, siap digerakan sewaktu-waktu, menjadi ujung tombak di tingkat bawah,” kata Whisnu.

Menurutnya, BSPN merupakan badan penting untuk keberlangsungan partai. Dulu saksi untuk event lima tahunan dalam rangka pilpres, pilgub dan pemilu legislatif. Direkrut baru mendekati event tersebut. Sehingga pernah ada pengalaman hilangnya saksi alias dibajak partai lain dan baru diketahui saat dua minggu jelang hari H coblosan.

Kini saksi merupakan tentara partai.

“Kenapa dibentuk badan saksi nasional? Ini bukan untuk dum-dum (bagi-bagi) rezeki lima tahunan. Tidak begitu. Ke depan kita bicara saksi merupakan tentara partai, pasukan partai,” tandas putra mendiang tokoh PDI Perjuangan kawakkan, Soetjipto ini.

Namanya tentara, kata Whisnu, harus siap setiap saat. Kapan pun dibutuhkan partai harus siap. Untuk itu Whisnu mengajak saksi menjadi bagian pembentukan kader militan. Tentara partai ini menjadi komandan pleton di kelurahannya.

Whisnu yang juga wakil wali kota ini menandaskan rekruitmen saksi tidak sebatas satu orang untuk tiap tempat pemungutan suara (TPS), melainkan tiga orang per TPS. Saksi tidak sebatas datang pagi, duduk, mengamati proses pemilihan suara, mengawasi proses penghitungan, dan memberikan laporan.

“Tapi saksi yang jelas hari H pencoblosan harus paham betul siapa yang jadi pendukung, siapa yang terdaftar di Daftar Pemilih Tetap. Ini penting karena lawan berpotensi melakukan kecurangan secara sistematis. Pemilu ajang perang, jangan sampai dicurangi. Antisipasi model kecurangan seperti apapun,” pria yang akrab disapa WS ini.

Pemilu tahun 2019, menurut Whisnu, akan lebih rumit karena ada lima surat suara yang diterima pemilih. Surat suara untuk pemilihan anggota legislatif kota/kabupaten, provinsi, DPR RI, DPD RI dan presiden.

Waktu penghitungan surat suara yang diperlukan lebih lama. Tiap kotak suara bisa memakan waktu tiga jam. “Tunjukan PDI Perjuangan Surabaya barometer nasional,” pesan Whisnu lagi.@wan