Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Inspektur senjata kimia di Suriah akan diizinkan untuk mengunjungi Douma, kota yang disebut telah mendapat serangan senjata kimia pada Rabu, kata Russia.

Tim inspeksi internasional telah tiba di negara itu sejak Sabtu lalu, namun belum diizinkan masuk Douma.

Pada Selasa dini hari, media setempat melaporkan angkatan udara Suriah telah merespon serangan misil ke barat Kota Homs. Laporan menyebut jika serangan tersebut menargetkan pangkalan udara Shayrat.

Media pro-Hizbullah Iran mengatakan militer Suriah berhasil menggagalkan tiga misil yang menargetkan bandara militer Dumair, timur dari Damaskus.

Namun laporan itu dibantah oleh juru bicara Pentagon yang menyatakan tak ada aktivitas militer di wilayah tersebut.

Suriah dituduh sebagai dalang penyerangan Douma menggunakan senjata kimia. Hal ini dijadikan alasan bagi Amerika Serikat, Prancis dan Inggris untuk menyerang Suriah akhir pekan lalu. Kepada tim inspeksi, Amerika Serikat juga menuduh Rusia telah membersihkan jejak senjata kimia, mengingat tim tersebut sudah 11 hari di Suriah.

Baik Rusia maupun Suriah membantah tegas penggunaan senjata kimia. “Saya jamin Rusia tidak terlibat dengan (penyerangan) wilayah tersebut,” kata Menteri Luar Ngeri Rusia, Sergei Lavrov dengan mengatakan serangan AS, Inggris dan Prancis hanya didasarkan laporan media dan sosial media tanpa ada bukti kuat.

Dalam laporan awal, dua bom kimia dijatuhkan di dua lokasi berbeda. Yaitu di Saada Bakrey dan Martyrs’ Square.

Sumber tim medis Suriah menyebut para korban dengan mulut berbusa, warna kulit yang berbeda dan kornea terbakar. Sumber AS mengatakan dari sampel darah diketahui mengandung klorin dan gas syaraf. @bbc/licom