LENSAINDONESIA.COM: Kemajuan teknologi di Indonesia ternyata jauh ketimbang negara lainnya. Salah satunya di bidang robotika yang memiliki kecerdasan buatan (artificial intelligent).

Hal itu disampaikan oleh Dr. Ing, Indar Sugiarto,S.T., itulah dosen Program Studi Teknik Elektro dari Fakultas Teknologi Industri Universitas Kristen Petra (UK Petra). Dia mengatakan robot masa depan tidak sekedar menjalankan program dari pembuatnya sehingga tidak adaptif.

“Saat ini di Jerman terus dikembangkan robot yang memiliki kemampuan kognitif. Yaitu robot yang bisa menganalisa lingkungan sekitarnya dan apa yang harus ia lakukan juga mampu berinteraksi dengan manusia,” katanya saat ditemui wartawan, Selasa (24/8/2018).

Pria yang baru saja meraih gelar doktor dari Technische Universitat Munchen (TUM), Jerman itu berhasil mengembangkan platform kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan teknologi Neuromorfis (Neuromorphic Engineering). Robotnya disebut dengan OMNIBot.

Ini adalah teknologi yang berusaha menghasilkan sistem yang mampu mengolah informasi layaknya cara kerja otak. Pendekatannya dengan cara mengimplementasikan struktur dan fisiologi sistem saraf pusat (otak) dalam bentuk hardware dan software. Dengan kata lain sistem neuromorfis berusaha meniru cara kerja otak hingga level sel-sel otak.

“Dengan metode ini, robot akan dilengkapi dengan jutaan hingga milyaran sel-sel saraf tiruan sehingga mampu berpikir layaknya manusia yang mampu mengambil keputusan dalam kondisi yang penuh ketidakpastian serta mampu berinteraksi secara sosial,” urai Indar yang keahliannya di bidang robotik.

Salah satu hasil riset penelitian Indar yaitu mengembangkan platform robot dengan kecerdasan buatan untuk navigasi pintar, yang mana nantinya robot tersebut memiliki kemampuan navigasi semacam GPS (global positioning system) dengan menggunakan struktur cara kerja otak yang disebut grid-cell. Jadi Indar membuat ide desain platform kecerdasan buatannya dengan eksplorasi penataan ruang.

Kedepannya jika platform AI ini sudah diaplikasikan dalam robot maka akan dapat merekam dan memetakan posisi dirinya dan jika misalkan berada di luar jangkauan maka bisa kembali.

“Di Indonesia, robot ini bisa dimanfaatkan sebagai tim SAR untuk menjangkau areal yang sulit dijangkau manusia,”ujarnya.

Cara kerja robot cerdas dengan teknologi Neuromorfis ini menggunakan mesin teknologi canggih bernama SpiNNaker. Mesin yang awalnya dibuat oleh University of Manchester (United Kingdom) ini merupakan perangkat elektronik yang memiliki 48 chip dimana masing-masing chipnya memiliki neuromorphic processors.

Di Asia Tenggara, perangkat ini hanya dimiliki oleh dua institusi saja yaitu National University of Singapore (NUS) dan Universitas Kristen Petra, Surabaya (UK Petra).

Saat ini, ia tengah mengajukan proposal untuk melakukan penelitian robot ke Kemenristekdikti. Salah satunya pembuatan robot hibrida yang memiliki lengan.

Dipaparkannya, ada satu item yang harganya sangat mahal yaitu sensor retina, yang menjadikan robot punya mata. Harganya Rp80 juta per biji. “Saya butuh tiga buah, jadi dikalikan saja,” ringkasnya.

Ia mengaku tertarik mendesain robot ini karena saya lihat selama ini robot cerdas yang ada memiliki kemampuan kognitif yang kurang, harusnya cerdas secara alamiah bukan karena diatur. Pengembangan kecerdasan buatan ini tujuannya untuk meringkankan beban pekerjaan manusia.

“Para ahli memprediksi 2040 merupakan era singularity, sehingga kita harus siapkan dari sekarang,” tutupnya.