Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Dinilai mampu menangani persoalan isu globalisasi di kotanya, empat negara yang tergabung dalam negara-negara Nordik seperti Norwegia, Denmark, Finlandia dan Swedia menggelar acara seminar berskala internasional bertajuk “Nordic Talks” di Gedung Siola Lantai 4, Surabaya, Sabtu, (21/04/2018).

Turut hadir dalam seminar tersebut, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Duta Besar Norwegia Vegard Kaale, Duta Besar Swedia Johanna Brismar Skoog, Duta Besar Denmark Rasmus Abildgaard Kristensen dan Duta Besar Finlandia Paivi Hiltunen beserta peserta jajaran dan peserta, 50 peserta delegasi dari sektor pendidikan, kalangan bisnis serta beberapa universitas untuk belajar sekaligus berdiskusi membahas solusi mengatasi isu globalisasi di dunia.

Sekretaris Utama Duta Besar Norwegia Simen Johan Willgohs mengatakan, isu yang menjadi problem utama di Indonesia dan dunia sekaligus perbincangan untuk mencari solusi adalah mengatasi urbanisasi yang terus meningkat, masalah tempat tinggal, pembangunan infrastruktur dan transportasi. “Usai melihat dan mempertimbangkan, kami meyakini bahwa Surabaya sudah memiliki solusi. Hal itu yang membuat kami tergelitik untuk belajar kepada Kota Pahlawan,” kata Simen.

Simen – sapaan akrabnya menyampaikan, alasannya dipilihnya Surabaya karena kota dengan jumlah penduduk 3,3 juta jiwa ini sebagai kota yang maju, berkembang pesat dan memiliki segudangn prestasi dalam menanggani permasalan kota. Menurutnya, Surabaya memliki progress yang cepat dalam menunjukkan kehidupan yang baik di kotanya. Salah satu wujud nyata yang ditunjukkan adalah pembangunan taman dan trotoar yang dapat dinikmati warga Surabaya. “Dari dalam mobil saya melihat anak-anak bermain di taman. Itu sangat menyenangkan dan tidak hanya anak, tetapi orang tua juga turut senang,” ungkapnya.

Selain taman dan trotoar, kata Simen, Kehidupan baik yang sudah ditunjukkan Surabaya adalah solusi energi terbarukan, transportasi dan edukasi pendidikan bagi warga Surabaya. “Hal ini yang membuat setiap orang ingin tinggal di kota ini karena nyaman serta cocok untuk ditinggali,” ujar pria berkacamata ini.

Tidak hanya belajar terkait isu global, keempat negara juga membagikan pelatihan bisnis dan pengembangan kota. Melalui pelatihan ini, dirinya berharap ada timbal balikyang positif anatar kedua negara. “Skala bisnis Kota Surabaya dan Norwegia terus ditingkatkan,” imbuhnya.

Dikarenakan diskusi ini menjadi problem dan perhatian di negara manapun, Simen sangat berharap, Surabaya mampu membagikan ilmu kepada negara – negara Nordik. Bahkan selama ini, dirinya mengaku negara Debmark dan Norwegia tidak bisa memecahkan masalah globalisasi. “Tidak semua negara memiliki solusi. Hal ini yang membuat Dubes Norwegia sangat tertarik dengan solusi dan terobosan yang sudah dilakukan Surabaya selama 10 tahun terakhir,” tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang membuka seminar memaparkan beberapa poin berbagai macam persoalan kota mulai dari kesehatan, pelayanan masyarakat dan pendidikan.

Disampaikan Wali Kota Risma, salah satu alasan mengapa Surabaya secara perlahan – lahan mampumengentaskan kemiskinan, memberikan pendidikan dan kesehatan secara gratis yakni mengubah sistem pelayanan dan perizinan yang sebelumnya menggunakan kertas menjadi elektronik atau online. Hal ini, lanjutnya, yang kemudian menghemat keuangan pemerintah sebesar 25 persen lalu disalurkan di bidang pendidikan dan kesehatan secara gratis kepada warga Surabaya.

“Dengan adanya terobosan semacam ini, uang yang biasanya digunakan untuk membeli kertas dan lain sebagainya dialihkan ke sektor pendidikan, kesejatan dan pelatihan bagi pelaku UKM,” kata Wali Kota Risma di sela-sela sambutannya.

Melihat keberhasilan ini, Wali Kota Risma mewujudkan trah positif ini berupa pelatihan kepada ibu-ibu rumah tangga untuk menjadi pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang diharapkan mampu mendongkrak income ekonomi mereka. “Ada sekitar 9.500 pelaku UKM Pahlawan Ekonomi saat ini dan sebagian besar sudah mengekspor produknya di beberapa negara,” terang Wali Kota sarat akan prestasi ini.

Tidak hanya itu, Wali Kota Perempuan pertama di Surabaya ini turut memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada setiap warga yang tidak mampu. Menurutnya, bantuan kesehatan bagi warga miskin berupa pembayaran asuransi terbagi menjadi dua. Pertama, untuk membayar asuransi kesehatan bagi warga tidak mampu sedangkan satu kantong untuk warga yang tergolong middle.

“Untuk warga menengah memang tidak terlalu miskin tetapi dalam urusan kesehatan hampir sebagian besar tidak mampu,” ujar Wali Kota sarat akan prestasi itu.@adv/iwan