LENSAINDONESIA.COM: Kejanggalan muncul dalam sidang kasus kecalakaan lalu lintas (laka lantas) dengan terdakwa Teguh Pramulyo (38) yang digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (22/05/2018). Hal ini karena isi dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwis dari Kejaksaan Negeri Surabaya berbeda dengan kronologis di lapangan.

Dalam dakwaan dijelaskan, mobil Honda Brio L 1681 SC yang dikemudikan terdakwa berjalan dari arah selatan ke utara di Jalan Raya Dukuh Kupang Surabaya dengan kecepatan sekitar 30 km/jam hendak berputar balik. Sekitar 20 meter sebelum putar balik tiba- tiba mobil terdakwa ditabrak dari belakang oleh motor Yamaha Jupiter L 5776 XH yang dikemudikan korban yaitu Hanny Stefano Fiore yang membonceng putrinya, Vanessa Aureliya Putri (16).

Akibat tabrakan ini tanggal Minggu (21/01/2018) sekitar pukul 22.00 WIB tersebut korban terlempar sekitar 3 meter dan menyebabkan Vanessa Aureliya Putri meninggal dunia.

JPU Darwis juga menyebutkan, bahwa terdakwa Teguh Pramulyo tidak ditahan sejak kasus kecelakaan ditangani pihak kepolisian. Namun saat menjalani pelimpahan berkas tahap dua di kejaksaan Negeri Surabaya, Teguh akhirnya ditahan.

Sementara terdakwa yang menggunakan kemeja putih ini tampak tenang mendengarkan dakwaan JPU.

“Dari pihak kepolisian terdakwa (Teguh Pramulyo) tidak ditahan, saat (pelimpahan berkas) tahap dua kami lakukan penahanan. Namun saat dilimpahkan ke Pengadilan, sekarang statusnya menjadi tahanan kota,” kata Darwis saat konfirmasi usai menjalani sidang, Selasa (22/05/2018).

Dakwaan yang dibacakan JPU Darwis tersebut berbeda dengan kronologis oleh tempat kejadian perkara (TKP).

Dikutip dari pemberitaan Jawa Pos, Minggu (21/01/2018) disebutkan bahwa motor korban yang akan melakukan putar balik di Jalan Dukuh Kupang diseruduk dari belakang oleh mobil Honda Brio silver bernopol L 1681 SC yang dikemudikan Teguh Pramulyo.

Sontak dua remaja itu terpental. Keduanya sempat terbentur taman di tengah jalan. Kedua kaki Stefano terluka parah. Kondisi Vanessa lebih parah. Dia meregang nyawa terapit badan mobil dan taman. “Kepalanya terbentur,” ujar Kanitlaka Lantas Polrestabes Surabaya, AKP Bayu Halim Nugroho saat itu.

Petugas mengamankan Teguh dan membawa kedua korban ke RS RKZ. Namun, nyawa Vanessa tidak tertolong dalam perjalanan menuju rumah sakit. Anak pertama di antara tiga bersaudara pasangan Nuri Damayanti dan Firman Hadi Prasetyo itu meninggal dengan luka di kepala dan kedua kaki yang patah.

Sementara, terkait masalah kejanggalan dakwaan jaksa ini, Kanit Laka Lantas AKP Bayu Halim belum bisa dihubungi. Menerima meski terdengar nada sambung diponselnya, ia enggan memberijawaban. Saat lensaindonesia.com mengkirim konfirmasi melalui pesan singkat yang dikirim juga tidak ditanggapi.@rofik