Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Aplikasi Matakota tetap independen menerapkan smart city di Indonesia
(ujung kanan) Dietmar Offenhuber bersama Eric Karya Nugraha, CEO Matakota (tengah), wakil dari Petabencana dari Jakarta (dua dari kiri) saat mengunjungi kantor Matakota di Surabaya, Selasa (26/08/2018). Foto-mako
Gadget

Aplikasi Matakota tetap independen menerapkan smart city di Indonesia 

LENSAINDONESIA. COM: Kali ini eksistensi aplikasi smart city Matakota besutan Arek Suroboyo direspon oleh lembaga akademik mancanegara.

Halnya Dietmar Offenhuber, Assistant Professor at Northeastern University in the departments of Art + Design and Public Policy menyempatkan diri berkunjung di kantor Matakota di Surabaya untuk berdiskusi perihal smart city, Selasa sore (26/06/2018).

Dietmar menyampaikan, kedatangannya di Surabaya kali ini bermaksud ingin mengetahui konsep Smart Citizen Matakota dalam memfasilitasi diskusi masyarakat atas issue sekitar kota masing-masing.

“Kami berduskusi dengan Matakota sebab independensinya saat menjalankan semua projek sosial cukup konsisten, kendati masih belum semua pemerintahan menyambut sinergitasnya, namun pengguna yang telah tersebar di seluruh Indonesia, ” tandasnya.

Selain itu, lanjut Dietmar, pihaknya interest dengan aplikasi Matakota yang juga mewadahi sejumlah komunitas untuk menginformasikan barang hilang, sebab menganggap sifat Matakota yang masif dan memungkinkan untuk saling memantau barang yang hilang.

“Secara umum, hal ini memungkinkan komunitas aman saat memposting sesuatu bukan atas dasar keluhan tapi mengajak masyarakatnya lebih cerdas dalam menyikapi setiap issue dan menyampaikan solus. Inisiatif ini sangat masif, dan semoga tetap dijaga independesinya. Di saat semua terlalu fokus pada infrastruktur saat bicara smart city, Matakota tepat dalam memilih bidangnya, yakni people untuk menunjang smart citizen”, tutur Dietmar.

Di kesempatan yang sama, Eric Karya Nugraha, CEO Matakota mengatakan, Matakota memang spesifik mengangkat pilar Smart Citizen, dan sangat independen baik dalam pelaporan hingga penangana.

“Matakota mengutamakan masyarakat untuk memberi solusi, dengan demikian personil polisi, pemadam kebakaran, dan personil otoritas lain yang terkoneksi dengan fitur aplikasi Matakota, hal ini bisa digunakan atas nama warga kotanya untuk mengerti isu-isu sekitar kota, bukan hanya atas nama instansinya saja,” papar Eric.

Adapun Dietmar berkunjung ke beberapa negera, hanya untuk mengamati lebih jelas pemahaman semua pihak (Pemerintah, Akademisi, dan pihak ketiga) akan istilah dan penerapan smart city secara lokal.@Eld-Licom