Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Analisis kekalahan Gus Ipul-Puti di Pilgub Jatim
Direktur Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo. (foto: istimewa)
LENSA DEMOKRASI

Analisis kekalahan Gus Ipul-Puti di Pilgub Jatim 

LENSAINDONESIA.COM: Direktur Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo memandang banyak faktor yang menjadi kekalahan Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti (Guruh Soekarno) pada kontestasi pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Tahun 2018 kemarin.

Menurutnya, bahwa cukup rumit untuk menjelaskan, “njelimet” kata orang jawa. Karenanya, lanjut dia, terlalu gegabah jika ada pihak yang menyebut Puti sebagai cucu Sukarno tidak memberikan kontribusi suara. Lebih konyol lagi, jika ada yang mengatakan Puti sebagai penyebab kekalahan.

Pasalnya, sosok Puti sebagai cucu Sukarno sejatinya justru menjadi kekuatan. Karena, kata Karyono, sosok Puti dan Sukarno masih memiliki magnet politik.

“Kelemahannya adalah di persoalan cara membranding dan cara “menjual”. Sebagaimana dalam ilmu marketing, sebelum melempar produk di pasaran diperlukan suvei pasar (marketing riset) untuk menentukan posisioning produk diantaranya adalah soal branding agar konsumen memahami dan tertarik,” ujar Karyono dalam keteranganya, Jakarta, Kamis (28/6/2018).

“Salah satu kelemahan yang ada di Tim Puti masih terjebak pada romantisme simbul Sukarno dan tokoh-tokoh NU, kemasannya masih konvensional,” sambungnya.

Karyono menjelaskan, mestinya selain menyajikan kemasan klasik, tradisional, sangat diperlukan kemasan baru yang lebih disukai kalangan pemilih milenial. “Tantangannya, adalah bagaimana mengemas Gus Ipul dan Puti disukai kalangan pemilih milenial. Lalu penting juga membuat kemasan sosok dan pemikiran Sukarno dan tokoh NU agar nyambung dan diterima kalangan pemilih yang lebih luas,” terangnya.

Lanjut Karyono, ada banyak faktor yang menyebabkan kekalahan pasangan Gus Ipul – Puti. Tapi di antara sejumlah faktor yang menyebabkan kekalahan adalah karena kegagalan dalam membranding kandidat. Selain itu, dari segi pengaruh figur cagub, di kalangan NU nampaknya Khofifah lebih kuat dari Gus Ipul.

Baca Juga:  Pengunjung Cafe Athena tawuran, satu orang terluka

“Khofifah memang pernah kalah dua kali di pilkada Jatim melawan Gus Ipul tetapi sejatinya kekuatan terbesar mengalahkan Khofifah ada di figur Sukarwo. Khafifah hanya bisa “ditaklukkan” dua energi politik yakni kekuatan pendukung Sukarwo dan Gus Ipul bersatu,” jelasnya.

Sementara dalam pilkada 2018 partai Demokrat, lanjutnya, partainya Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim dua periode itu berada di posisi diametral dan berseberangan dengan Gus Ipul. Tentu saja hal ini membuat kekuatan Gus Ipul melemah, kalaupun misalnya Pakde Karwo mengambil sikap netral. Dalam situasi seperti ini tentu saja menguatkan posisi Khofifah.

“Selain itu, ada banyak faktor lain yang membuat Gus Ipul-Puti kalah, misalnya massifnya Program Keluarga Harapan (PKH) yang digelontorkan di saat Khofifah menjabat menteri sosial tentu itu menambah modal sosial Khofifah di masyarakat. Dan masih ada lagi faktor-faktor lain,” pungkas Karyono.@licom