LENSAINDONESIA. COM: Tak kalah dengan perbankan lain, BPR (Bank Prekreditan Rakyat) melakukan digitalisasi layanan dengan melalui BPR Go Digital.

Joko Suyanto, Ketua Umum Perbarindo mengatakan, BPR juga tak kalah pentingnya untuk menuju digitalisasi. Hal ini sesuai dengan program GNNT (Gerakan Nasional Non Tunai) yang telah dicanangkan oleh masyarakat.

“Untuk menuju digitalisasi tersebut, BPR juga perlu lebih aktif mengedukasi terhadap masyarakat tentang perannya. Sebab masih banyak masyarakat yang masih mengandalkan rentenir (bank titil) yang bunganya cukup menjerat. Untuk itu, di acara ini kami mengusung misi lebih memperkenalkan peran BPR terhadap masyarakat betapa amannya menyimpan dana di BPR karena sudah jelas menjalin kerja sama dengan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) juga didukung OJK (Otoritas Jasa Keuangan, ” tandasnya di acara launching Logo Bersama BPR di Lapangan Rampal Malang, Minggu (08/07/2018).

Joko menambahkan, BPR juga diharapkan menjadi garda terdepan dari literasi dan inklusi keuangan untuk masyarakat yang belum akses ke perbankan.

“Masyarakat tak perlu risau lagi untuk menyimpan dananya di BPR. Sebab BPR saat ini aset industrinya sudah mencapai Rp 128 triliun secara nasional. Dan dari sisi monitoring LPS, coverage dana yang dimiliki BPR sama dengan perbankan standard, yakni minimal sebesar Rp 2 miliar, ” tandas Joko.

Dari sisi bunga dibandingkan BPR, lanjut Joko, untuk pinjaman dari rentenir bunganya mayoritas di kisaran 30 hingga 60 persen. Sedangkan bunga simpanan melalui BPR, hanya mencapai rata-rata 8,6 persen.

“Hingga kini, kredit yang disalurkan mencapai Rp 93 triliun atau tumbuh 9,16%. Sedangkan fungsi intermediasi lainnya juga dapat dijalankan dengan baik yaitu penghimpunan dana, hal ini nampak dari tabungan yang tumbuh sebesar 13,66% dan deposito tumbuh sebesar 10,83% dibandingkan tahun lalu, tabungan BPR Per April 2018 mencapai Rp 27 triliun dan deposito mencapai Rp 60 triliun, ” pungkas Joko.@Eld-Licom