Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Pilkada baru selesai digelar, perbincangan politik Pilpres giliran semarak. Adalah TGB (Tuan Guru Bajang) Muhammad Zainul Majdi, Lc, MA merupakan Gubernur Nusa Tenggara Barat 2 periode (masa jabatan 2008-2013 dan 2013-2018).

Tahun 2008, TGB diusung PKS meraih kemenangan dengan menyabet 36,72 persen suara. Di Pilkada 2013, TGB diusung PKS dan PBB menumbangkan kembali lawan-lawannya dengan meraih 1.038.642 pemilih atau 44,36 persen suara. Walau di Pilkada diusung parpol yang berbeda, TGB merupakan kader loyal Partai Demokrat di NTB.

Diketahui, NTB merupakan lumbung suara untuk pemilu. Menurut KPU, DPT Pilkada NTB 2018 –Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB– berjumlah 3.511.890 jiwa. Pilkada kali ini dimenangi pasangan yang diusung PKS dan Demokrat. Menurut hasil rekapitulasi tercatat paslon nomor urut tiga Zulkieflimansyah dan Siti Rohmi Djalillah, dinyatakan unggul dibandingkan tiga paslon lainnya, dengan perolehan 811.945 suara.

Sebab itu, NTB tidak bisa diremehkan sebagai pertarangan perebutan suara. PKS dan Demokrat masih memegang pengaruh yang sangat besar di daerah tersebut.

TGB belakangan gencar melakukan manuver politik Pilpres merapat ke Jokowi. Bagi
oposisi, direspon dengan nada miring, yakni untuk menyelamatkan diri dari kasusnya di KPK. Pendukung Jokowi, sangat apresiasi duet TGB-Jokowi di Pilpres 2019.

Berikut ini analisa dan predisiksi politik Indonesian Demokratic Center for Strategic Studies:

Pertama; Apa yang dilakukan TGB Muhammad Zainul Majdi, Lc, MA , merupakan langkah yang benar-benar cerdas dan unik serta spektakuler dalam politik. TGB orang muda mewakili kaum agamis yang berani keluar dari pemikiran biasa atau “Out of the box”. Walau namanya dicoret dari PA 212, bagi TGB hal tersebut tidak berarti, begitu juga masyarakat sudah tidak menganggap lagi 212-an bukan suatu yang penting.

Kedua; Keputusan TGB untuk melakukan pendekatan politik terhadap Jokowi pasti diketahui, bahkan direstui Ketua Umum Partai Demokrat, Jenderal TNI (Purn) Prof Dr H Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY. SBY memainkan maneuver “politik kepemimpinan situasional” kepada TGB untuk mendekati Jokowi.

Dalam ilmu politik, teori politik kepemimpinan situasional, singkatnya adalah kepemimpinan yang efektif adalah bergantung pada relevansi tugas. Hampir semua pemimpin yang sukses selalu mengadaptasi gaya kepemimpinan yang tepat. Efektivitas kepemimpinan bukan hanya soal pengaruh terhadap individu dan kelompok, tapi bergantung pula terhadap tugas, pekerjaan atau fungsi yang dibutuhkan secara keseluruhan.

Jadi, pendekatan kepemimpinan situasional fokus pada fenomena kepemimpinan di dalam suatu situasi yang unik. Dari cara pandang ini, seorang pemimpin agar efektif, ia harus mampu menyesuaikan gayanya terhadap tuntutan situasi yang berubah-ubah. Hal ini memang layak dan tepat diperankan TGB yang dapat merangkul semua kalangan, baik dari nasionalis maupun agamis.

Ketiga; manuver Demokrat akan menjadi sejarah yang dikenang bangsa Indonesia. Jika saja TGB mendapat restu dari SBY untuk menjadi pendamping Presiden Joko Widodo, maka isu-isu SARA dan isu-isu sensitiif terkait sentimen agama akan terminimalisir, bahkan perlahan tidak tertutup kemungkinan akan hilang. Karena pasangan Jokowi adalah TGB, disamping mantan Gubernur dua periode yang berprestasi, juga Ulama yang memiliki ribuan jamaah, bahkan Ustadz-Ustadz yang memiliki jutaan jemaah pasti mendukungnya.

Sebut saja Ustadz Abdul Somad, Bachtiar Nasir, Ustadz AA Gym, walau belum terang-terangan mendukungnya, karena harus menunggu komando Habib Rizieq Shihab, tetap saja demi kemaslahatan umat, kebaikan dan kemajuan umat Islam, sosok alim ulama pasti mendukungnya. Ustadz Yusuf Mansur, pasti juga mendukungnya.

Koalisi ini diharapkan mampu menumbuhkan kultur baru dalam masyarakat dengan mengubah mindset yang ada selama ini, dalam pendekatan organisasional dan mengembangkan budaya organisasi. Koalisi ini memiliki kesempatan untuk melakukan gerakan bukan saja gerakan politik, akan tetapi gerakan budaya. Dengan gerakan tersebut, yang terpenting adalah jika duet antara Jokowi-TGB terjadi, maka akan terjadi persatuan, dan tidak ada lagi kalimat “Cebong” dan “Kampret” lagi dalam pertarungan elektoral.

Keempat; faktor politik pendukung pasangan Jokowi-TGB adalah ‘sentimen pasar politik’ luar Jawa yang diharapkan dapat tergerak untuk lebih memilih kombinasi pasangan bercitra Jawa dan luar Jawa. Secara konsepsional, pasangan Presiden Joko Widodo dan TGB Muhammad Zainul Majdi, Lc, MA dinilai lebih berorientasi kerakyatan, nasionalis dan religius. Sehingga diharapkan dapat meraih dukungan pemilih nasionalis dan agamis. Tidak tertutup kemungkinan partai-partai Islam lain ikut bergabung.

Instabilitas kompetisi antar parpol (interparty competition) yang dipengaruhi oleh perubahan sikap pemilih (electoral volatility) adalah faktor strategis lain yang memperkuat argumen tentang urgensi koalisi parpol yang harus ditangkap kubu Jokowi.

‘Swing-voters’ juga tidak menjadi kecil. Malah sebaliknya di tengah ketidakjelasan ideologi yang dianut hampir semua parpol membuat pemilih dalam posisi ‘indifference’ untuk memilih satu partai dengan yang lain. Kemudian, seringkali kondisi ini yang dapat dijadikan acuan untuk menentukkann pilihan adalah figur pemimpin partainya.

Maka dengan kondisi ini, dapat diprediksi Pasangan Jokowi dan TGB akan menang satu putaran. @licom_09

Narasumber: Girindra Sandino, SH, SIP
* Direktur Eksekutif INDENIS
dan Sekjend Serikat Kerakyatan Indonesia (SAKTI)