LENSAINDONESIA.COM: Di era teknologi digital yang bergerak semakin cepat, fungsi seni grafis murni sebagai media komunikasi mulai tersingkirkan. Hal itu ditambah masih banyak masyarakat umum yang belum mengenal seni yang mulai berkembang sejak abad ke-13 di Eropa ini.

Melihat adanya ancaman kepunahan terhadap perkembangan seni grafis murni, mahasiswa Seni Rupa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, berinisiatif menggelar Pameran Seni Rupa Grafis Murni di Galeri Prabangkara.

Bertajuk ‘Millenial Generation’, pameran yang digelar sejak 16-18 Juli 2018 ini, mempunyai tujuan untuk mempopulerkan kembali seni grafis murni kepada masyarakat khususnya di Surabaya.

Ketua Pameran Aiman Fasha, menuturkan jika sebagai kaum generasi millenial yang juga mengikuti perkembangan teknologi zaman, tidak harus meninggalkan karya seni grafis murni. “Meskipun sudah ada teknologi canggih, kami wajib tetap melestarikan seni grafis murni. Itu bukan berarti kami gak maju, karena sebagai generasi millenial, kami juga mendapatkan banyak informasi dari internet dan menjadikan referensi sesuai ide untuk menggelar pameran ini,” terang mahasiswa semester VI di STKW Surabaya ini.

Dalam pameran ini, sedikitnya 21 perupa dari Studio Grafis V STKW Surabaya ikut berpartisipasi dengan dikuratori kawan-kawannya sendiri. Masing-masing Anton dan Rano Indera, serta penulis pengantar pameran Syska La Veggie.

“Ada 65 karya grafis murni, baik dari jenis seni cetak tinggi, cetak rendah dan cetak saring. Seni cetak tinggi ada karya woodcut dan linocut. Kalau seni cetak rendah ada etsa kering dan etsa basah. Dan grafis cetak saring ada karya sablon,” pungkas Fasha. @sys