Trending News

17 Aug 2019
Tri Rismaharini Beri Inspirasi 100 Saintis Perempuan Indonesia
CANTIKA

Tri Rismaharini Beri Inspirasi 100 Saintis Perempuan Indonesia 

LENSAINDONESIA.COM: Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku tidak mudah menjadi sebagai wali kota perempuan pertama di Kota Pahlawan. Salah satunya adalah menutup pusat perdagangan perempuan terbesar se-Asia yaitu Gang Dolly.

“Saya mulai (melakukan upaya penutupan, red) tahun 2012, dan hampir setiap bulan saya bekerjasama dengan aparat kepolisian perlahan-lahan membebaskan wilayah tersebut (dari prostitusi, red),” ujarnya dalam International Seminar of Chemistry (ISoC) 2018 yang digelar Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya di Hotel Sheraton Surabaya, Kamis (19/7/2018).

Perjuangannya akhirnya membuahkan hasil saat Gang Dolly ditutup pada Juni 2014. Ia pun melanjutkan jika ada permasalahan baru yang akan muncul setelah lokalisasi tersebut ditutup yaitu hilangnya mata pencaharian bagi masyarakat di sekitar Gang Dolly.

“Karena selama ini kebanyakkan dari mereka bekerja sebagai juru parkir, tukang cuci, membuka warung makanan dan pekerja karaoke di wilayah tersebut,” ujarnya.

Risma menyadari, penyebab masyarakat kurang mampu yang berada di eks lokalisasi Dolly bukan karena suami mereka tidak bekerja. Namun lebih pada gaji suami mereka tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Oleh karenanya, ia membuat sebuah terobosan baru dengan menyulap wajah kelam eks lokalisasi Dolly berganti menjadi salah satu Sentra Usaha Kecil Menengah (UKM) Surabaya. Di Sentra UKM tersebut, perempuan diberdayakan untuk membuka usaha di berbagai bidang untuk membantu menstabilkan perekonomian keluarga.

Risma menuturkan, bahwa produk dari para perempuan di eks lokalisasi Dolly ini sudah mendunia. Salah satunya adalah hampir 30 persen barang oleh-oleh haji dan umroh di Timur Tengah adalah buatan Surabaya.

“Pada tanggal 25-27 Juli nanti saya juga akan meresmikan pembukaan outlet UKM di kota Liverpool, Inggris. Wali Kota Liverpool membantu kita untuk memasarkan produk di sana,” tutur perempuan yang juga alumnus Arsitektur ITS ini.

Risma meyakini, jika perempuan dapat diberdayakan dan diberikan kebebasan berkreasi, maka mereka akan dapat berperan banyak bagi kehidupan bangsa.

“Mereka adalah tulang punggung kedua di dalam keluarga,” tandasnya mengingatkan.

Sementara itu, Presiden Organization for Woman in Science in the Developing World (OWSD) Indonesia National Chapter, Sri Fatmawati PhD menuturkan, dalam kongres pertama sekaligus memperingati 25 tahun OWSD dunia. Melalui kongres OWSD ini diharapkan akan semakin banyak perempuan yang peduli terhadap permasalahan-permasalahan perempuan yang ada di Indonesia.

“Sehingga ke depan kehidupan perempuan di Indonesia dapat lebih sejahtera dan secara langsung dapat berkontribusi terhadap bangsa dan negara,” ujarnya. @licom

Related posts