Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.   
Ladang minyak terbesar Blok Rokan akhirnya jatuh ke pangkuan Ibu Pertiwi
Ilustrasi Ladang Minyak Blok Rokan. (Foto: Istimewa)
EKONOMI & BISNIS

Ladang minyak terbesar Blok Rokan akhirnya jatuh ke pangkuan Ibu Pertiwi 

LENSAINDONESIA.COM: Hari ini, Selasa (31/7/2018), adalah kabar menggembirakan dalam dunia industri perminyakan di Indonesia. Pengelolaan Blok Rokan akhirnya diserahkan ke PT Pertamina (Persero). Pasalnya, Kontrak Blok Rokan sendiri akan berakhir pada 2021 mendatang.

Selama 47 tahun dikelola perusahaan minyak asing, yakni Chevron, akhirnya Blok Rokan jatuh ke pangkuan Ibu Pertiwi dalam hal ini adalah BUMN Pertamina. Pertamina mendapat 100% hak partisipasi Blok Rokan yang akan terminasi 2021 kepada PT Pertamina (Persero).

Keputusan ini, pihak Pertamina akan menjadi operator di Blok Rokan, yang merupakan ladang minyak terbesar di Asia Tenggara, mulai 8 Agustus 2021.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar mengatakan keputusan ini diambil bukan karena faktor politis, melainkan langkah strategis yakni dari hasil evaluasi pemerintah dalam beberapa bulan terakhir hingga Selasa (31/7) sore.

“Setelah lihat proposal yang dimasukkan pada hari ini jam 5 sore maka pemerintah lewat Menteri ESDM menetapkan pengelolaan Blok Rokan mulai tahun 2021 selama 20 tahun ke depan akan diberikan kepada Pertamina,” ungkap Arcandra dalam konferensi pers yang digelar di Kementerian ESDM pada Selasa (31/7) malam.

Ada tiga faktor yang menjadi pertimbangan dalam keputusan terkait Blok Rokan. Ketiga faktor tersebut, menurut Arcandra, adalah signature bonus, potensi pendapatan negara, dan diskresi Menteri ESDM. Dari faktor diskresi Menteri, Pertamina hanya meminta diskresi 8% kepada pemerintah.

“Karena ini menggunakan Gross Split, Pertamina minta diskresi 8%. Dan pemerintah sepakat dengan usulan Pertamina,” ujarnya.

Selanjutnya dijelaskan Arcandra, pada sisi signature bonus, Pertamina menawarkan signature bonus sebesar US$ 784 juta atau setara Rp 11,3 triliun. Selain itu juga ditambah dengan komitmen kerja pasti selama lima tahun sebesar US$ 500 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun.

Baca Juga:  Penyanyi dangdut dan istri ketiganya divonis 8 tahun penjara

Sedangkan pada sisi pendapatan, Pertamina menawarkan potensi pendapatan negara selama 20 tahun ke depan sebesar US$ 57 miliar atau sekitar Rp 825 triliun. Dengan bagian negara (goverment take) sebesar 48% selama 20 tahun.

“Insya Allah potensi pendapatan ini bisa menjadi pendapatan dan kebaikan bagi kita bangsa Indonesia. Sekali lagi selamat Pertamina yang diberi amanat pemerintah untuk kelola Blok Rokan dari 2021 sampai 2041,” imbuh Arcandra.

Arcandra pun menyebut, tidak diperpanjangnya kontrak Chevron di Blok Rokan karena penawaran Chevron lebih kecil dibandingkan Pertamina. “Penawaran Chevron jauh di bawah penawaran yang diajukan oleh Pertamina,” ungkap Arcandra.@licom