Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Ketua League of ASEAN Dermatological Societies (LADS) meminta Pemerintah Indonesia membuat regulasi yang mengatur praktek dokter di klinik kecantikan. Tujuannya agar prosedur medis dikerjakan oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya.

Hal itu dikatakan Ketua LADS, Dr. Syarief Hidayat, SpKK, FINSDV, FAADV dalam Regional Conference of Dermatology (RCD) 2018 yang digelar di Surabaya, Kamis (9/8/2018). Menurutnya selama ini banyak prosedur estetik kecantikan yang dilakukan orang yang kurang kompeten.

Akibatnya banyak kasus-kasus terjadi akibat kurang kompeten. Dia mencontohkan nekrosis dan kebutaan adalah kasus yang sering dijumpai. “Jadi jangan kira filler itu bisa sembarang disuntikkan. Tiap orang pembuluh darah di wajahnya letaknya beda-beda lho. Jadi tidak bisa asal suntik aja,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia berharap ada regulasi yang mengatur siapa yang boleh menjalankan prosedur estetik. Negara-negara di ASEAN seperti Singapura dan Filipina sudah memiliki aturan ini.

“Kami bukan organisasi yang punya kewenangan melarang jadi kami minta agar ada regulasi. Ini juga demi keselamatan pasien,” katanya.

Dalam regulasi itu diharapkan jadi panduan atau guideline bagi dokter yang ingin menjalankan prosedur estetika. Selama ini dokter yang ada di klinik kecantikan bukan dokter spesialis kulit dan kelamin.

“Kompeten itu tidak bisa diperoleh dari pelatihan dan kursus saja. Tapi harus melewati pengalaman dan pendidikan di lembaga terakreditasi,” ujarnya.

Kenapa selama ini tidak punya guide line sendiri? “Ya kita telat aja (membuat),” pungkasnya. @licom