LENSAINDONESIA.COM: Momen berangkulannya dua kandidat presiden, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, dalam selubung bendera Merah-Putih bersama pesilat Hanifan Yudani Kusumah, mendapat apresiasi banyak kalangan. Tak terkecuali ketua MPW Pemuda Pancasila Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti.

Menurut La Nyalla, momentum berpelukan antara Jokowi dan Prabowo tersebut telah menyejukkan suasa hati siapa saja yang melihat, khususnya masyarakat Indonesia. Ini karena, saat ini para pendukung Prabowo dan Jokowi terlibat “perang” tagar di berbeda daerah dan di media sosial.

“Rasanya happy kan lihat Pak Jokowi dan Pak Prabowo berpelukan. Ini mencairkan banyak ketegangan dalam dua pekan terakhir akibat adanya kericuhan di beberapa tempat, khususnya di Pekanbaru dan Surabaya. Karena itu, PP Jatim akan mengambil inisiatif untuk menularkan energi positif itu sampai ke grassroot,” ujar La Nyalla saat dihubungi media, Kamis (30/08/2018).

Bagaimana formulasinya? Menurut La Nyalla, ormas Pemuda Pancasila di semua tingkatan di Jatim akan memfasilitasi dialog, diskusi, adu gagasan, adu argumentasi, bahkan debat sekalipun, antar dua pendukung calon. Kita undang, pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo.

Ketua MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti. FOTO: pp

Forumnya pun tidak harus besar dan megah, lanjutnya. Bisa di warung kopi. Bisa di ruang-ruang publik lainnya. “Sehingga menuju Pemilu 2019, kita akan terbiasa mengelola perbedaan pilihan. Kita tunjukkan pada dunia, bahwa beda pilihan di Indonesia itu hal yang biasa,” tukasnya.

“Saya yakin, momen berangkulan itu tentunya sudah diatur oleh Allah SWT. Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya, bahwa kita harus tetap bersatu. Terjadilah momen berangkulan itu lewat spontanitas yang dilakukan pesilat Hanifan. Allah pasti sayang banget sama Indonesia,” ujar La Nyalla yang kini menjadi calon anggota DPD RI dari daerah pemilihan Jawa Timur.

La Nyalla justru khawatir ada pihak lain yang mengambil keuntungan dari ketegangan tensi di masyarakat. Karena dampak dari ketegangan yang bisa menjurus kepada konflik horisontal di masyarakat, ujungnya pasti membuat kita sebagai bangsa lemah. “Saya curiga ada yang sengaja dan pasti mengambil keuntungan, apabila kita sebagai bangsa lemah,” urai pengusaha yang juga ketua KADIN Jatim itu.@LI-13