Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Krisis ekonomi sedang melanda Argentina. Krisis keuangan negeri Tango begitu hebat,  belum pernah terjadi sebelumnya.

Akibat masalah ini, pemerintah Argentina mengambil langkah dramatis untuk mencoba mengembalikan kepercayaan pada mata uangnya yang terjun bebas. Pemerintah Argentina berharap krisis ekonomi bisa segera tuntas dan tidak berkepanjangan.

Saat ini mata uang peso Argentina mencapai titik terendah baru pada perdagangan Selasa waktu setempat. Bank Sentral Argentina (BCRA) mencatat peso Argentina melemah menjadi sekitar 32 per dolar AS.

BCRA melelang USD200 juta dari cadangannya, tetapi tidak bisa menstabilkan mata uang. Demikian seperti dilansir dari Xinhua, Rabu (29/08/2018) lalu.

Langkah ini dilakukan selama dua hari berturut-turut, di mana otoritas moneter telah melakukan intervensi di pasar. Pada Senin, terjual USD210 juta.

Jumlah total yang diperdagangkan pada perdagangan Selasa hampir sebesar USD800 juta, menurut analis keuangan.

Pada Sabtu, 25 Agustus 2018, bank sentral mencatat peso Argentina jatuh lagi pada perdagangan Jumat waktu setempat, tergelincir 40 sen dan mendarat di rekor terendah 31,47 terhadap dolar AS.

Adapun dolar diperdagangkan pada 31,40 peso untuk masyarakat umum dan pada 30,90 peso untuk bank dan entitas lain yang bertransaksi besar. Bank sentral Argentina berusaha menopang peso dengan mengintervensi pasar berjangka, tetapi tidak berhasil.

Analis menyalahkan slide peso pada faktor-faktor internal dan eksternal, termasuk melemahnya mata uang di negara tetangga Brasil, mitra dagang utama Argentina.

Sementara di dalam negeri, peso jatuh setelah munculnya berita bahwa kegiatan ekonomi telah turun 6,7 persen dibandingkan tahun lalu, menurut lembaga statistik nasional INDEC.

Dalam upaya untuk menopang peso yang terjun bebas, bank sentral Argentina mengambil keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan untuk kelima kalinya sejak April. Tetapi, tingkat suku bunga acuan tertinggi di dunia itu tidak banyak membantu untuk menenangkan sentimen yang memburuk dalam ekonomi terbesar ketiga di Amerika Latin.

Mengutip CNBC, Sabtu (01/09/2018) bank sentral Argentina dengan signifikan menaikkan suku bunga acuan menjadi 60 persen daro 45 persen pada pertemuan tak terjadwal di sesi sebelumnya seraya mengatakan langkah itu adalah respons terhadap situasi nilai tukar mata uang dan risiko inflasi yang lebih besar.

Nilai peso Argentina jatuh lebih dari 13 persen pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB), menyusul penurunan tujuh persen sehari sebelumnya. Ini berarti bahwa sejak awal tahun, mata uang peso telah jatuh lebih dari 108 persen terhadap USD.

Argentina berharap kondisi pelemahan tidak terus menerus terjadi di kemudian hari.

Adapun kenaikan harga yang baru-baru ini terjadi di Amerika Selatan telah didorong oleh melemahnya peso secara tiba-tiba setelah kekeringan menghambat ekspor pertanian pada awal tahun. Lonjakan harga energi dan bangkitnya greenback juga memperburuk situasi ketika investor mulai menarik dana dari pasar negara berkembang.

Lebih lanjut, investor semakin khawatir Buenos Aires akan gagal bayar ketika berjuang untuk membayar kembali pinjaman pemerintah yang besar. Ini terjadi setelah Pemerintah Argentina secara tak terduga meminta pembebasan awal pinjaman sebesar USD50 miliar dari Dana Moneter Internasional atau International Monetery Fund (IMF).

“Saya tahu bahwa situasi penuh gejolak ini menimbulkan kecemasan di antara Anda. Saya mengerti ini, dan saya ingin Anda tahu saya membuat semua keputusan yang diperlukan untuk melindungi Anda,” kata Presiden Argentina Mauricio Macri dalam pidatonya.

Banyak orang di Argentina menyalahkan IMF karena mendorong kebijakan fiskal yang meningkatkan krisis ekonomi terburuk di negara itu pada 2001. Pada saat itu, jutaan warga kelas menengah jatuh ke dalam kemiskinan saat negara itu berjuang untuk pulih.@LI-13/mc