Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Disayangkan. Di tengah suasana masyarakat NTB yang masih dirundung duka akibat terulangnya bencana gempa, masih ada pihak-pihak yang tega menyebarkan berita hoaks. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika, terpaksa angkat bicara.

BMKG meminta masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) dan sekitarnya agar tidak gampang mempercayai berita-berita yang tidak benar (hoaks).

“Bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) dan sekitarnya diharapkan tidak panik, tetap tenang, selalu waspada dan tidak mudah mempercayai berita-berita yang tidak benar,” kata Kepala BMKG Mataram Agus Riyanto dalam rilisnya dilansir nawala Kantor Staf Presiden (KSP), Senin (3/9/2018).

BMKG prihatin lantaran beberapa waktu lalu beredar informasi di media sosial yang menghembuskan kabar tentang ada apa dengan tanggal 26, dan ada apa dengan hari Minggu? Bahkan, informasi di medsos itu melampirkan deretan kejadian gempa bumi yang terjadi tanggal 16 dan hari Minggu.

Agus mengakui, setiap hari gempa bumi selalu terjadi di seluruh belahan dunia, namun tidak semua gempa bumi dapat dirasakan.

Hingga saat ini, menurut Agus, belum ada teknologi yang dapat memprediksi kapan dan dimana akan terjadi gempa, termasuk mengetahui besaran kekuatannya.

“Sampai saat ini belum ada negara dengan teknologi apa pun di dunia yang mampu memprediksi kapan, dimana dan berapa kekuatan gempa bumi yang akan terjadi dengan tepat hari dan tanggalnya. Tidak semua gempa bumi besar terjadi pada tanggal 26 dan hari Minggu,” tegas Agus.

Agus juga menegaskan, BMKG merupakan satu-satunya instansi resmi di Indonesia yang menginformasikan kejadian gempa bumi dan tsunami. Ia menyarankan, masyarakat bisa berkoordinasi dan melihat informasi terkini terkait gempa bumi dan tsunami melalui web resmi BMKG www.bmkg.go.id, aplikasi infoBMKG dan media sosial BMKG.

Dalam web resmi BMKG Mataram diuraikan, hingga 2 September 2018 pukul 06.00 WIB tercatat sebanyak 495 gempa susulan, 23 diantaranya dirasakan. @licom_09