Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un di bulan Juni lalu tentang ancaman nuklir negara itu “ditakdirkan gagal”.

Mantan Menteri Pertahanan AS Leon Panetta mengatakan, hal itu karena kurangnya persiapan sebelum tatap muka itu berlangsung.

“Saya sangat khawatir tentang situasi ini karena terus terang, saya pikir kami (AS) sekarang mengalami kegagalan usai pertemuan itu,” kata Panetta dalam program ABC This Week pada Minggu (02/09/2018)  eperti dikutip dari The Sydney Morning Herald, Senin (03/08/2018).

Komentar itu datang beberapa pekan setelah Trump membatalkan rencana perjalanan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo ke Korea Utara setelah menyimpulkan belum ada cukup banyak kemajuan dalam pembicaraan yang ditujukan untuk denuklirisasi Semenanjung Korea.

Sebelumnya, dalam wawancara 30 Agustus dengan Bloomberg News, Trump mengatakan dia dapat bersabar dengan pemimpin Korea Utara, yang ia nilai “belum mengambil langkah-langkah yang berarti untuk melucuti senjata nuklirnya” setelah Trump menyatakan masalah ini diselesaikan usai pertemuan puncak di Singapura.

Menanggapi, Panetta, yang menjabat sebagai menteri pertahanan dan direktur CIA di bawah Presiden Barack Obama, mengatakan, pertemuan puncak Trump dan Kim di Singapura hanyalah “sebuah pertunjukan, aksi berjabat tangan, bertukar kata.”

“Tapi melihat situs senjata nuklir Korea Utara dan bagaimana pekerjaan mendasar lainnya yang diperlukan sebelum pertemuan besar itu tidak dilakukan, pekerjaan diplomatik dasar masih perlu terus dikerjakan,” kata Panetta.

“Ini bukan tentang dominasi kepribadian,” katanya.

“Ini adalah kerja keras untuk merundingkan solusi atas perbedaan antara Korea Utara dan Amerika Serikat dan Korea Selatan. Dan ada banyak masalah yang dipertaruhkan di sini. Tetapi tidak satu pun dari pekerjaan itu sudah dilakukan.”

Sebelumnya, Pemerintah AS mengatakan pada Selasa 28 Agustus, bahwa pihaknya mempertimbangkan untuk kembali memulai latihan militer dengan Korea Selatan tahun depan.

Keputusan tersebut disampaikan beberapa hari setelah Presiden Donald Trump membatalkan agena pembicaraan lanjutan tentang isu nuklir dengan Korea Utara.

Dikutip dari VOA Indonesia pada Kamis 30 Agustus 2018, pertemuan antara Donald Trump dan Kim Jong-un di Singapura Juni lalu, menghasilkan komitmen untuk “mengupayakan denuklirisas penuh di Semenanjung Korea”.

Hal itu salah satunya diimplementasikan melakui keputusan mendadak Washington untuk mengakhiri latihan perang di kawasan terkait.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Mattis mengatakan pada sebuah konferensi pers, bahwa penghentian latihan musim panas tersebut merupakan “isyarat niat baik” kepada Korea Utara, namun menegaskan hal itu bukan komitmen yang berlaku seterusnya.

“Kami saat ini tidak punya rencana untuk menghentikan latihan-latihan,” kata Menhan Mattis.

Menyusul KTT Juni, Trump memuji persetujuan Singapura itu sebagai sebuah pencapaian bersejarah dan mengirim cuitan “tidak ada lagi ancaman nuklir dari Korea Utara”.

Tetapi baru-baru ini, presiden membatalkan sebuah kunjungan yang direncanakan oleh Menlu AS Mike Pompeo, setelah mengakui untuk pertama kalinya bahwa perundingan mengakhiri program nuklir Korea Utara tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Di lain pihak, Pyongyang menyerukan agar Amerika Serikat terlebih dahulu menghapus berbagai sanksi, sebelum pihaknya benar-benar melakukan denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea.

Kendala tersebut, menurut Presiden Donald Trump, turut disebabkan oleh absesnnya China dalam pemantauan isu terkait, dan menuduh bahwa Negeri Tirai Bambu melonggarkan tekanan pada pemerintahan Kim Jong-un, terutama pada pemberlakuan sanksi tegas di bidang ekonomi oleh PBB.@LI-13