Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Semen beku digadang lahirkan 1,1 juta anak sapi di Jatim
Drh Iswahyudi Kepala UPT Inseminasi Buatan Disnak Provinsi Jatim melakukan Inseminasi Buatan (IB) pada rahim sapi betina yang mengalami berahi. FOTO: sarifa-licom
HEADLINE PROOTONOMI

Semen beku digadang lahirkan 1,1 juta anak sapi di Jatim 

LENSAINDONESIA.COM: Pagi menjelang siang sekira pukul 10.00 WIB di bulan Agustus lalu, ratusan peternak dari Desa Wonoayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang berbondong-bondong menggelandang sapi betinanya menuju lapangan desa. Sekitar 150 ekor sapi betina pelbagai jenis seperti Peranakan Ongole (PO), Limosin, Simental, Brahman dan Sapi Madura dikumpulkan.

Aktivitas warga ini bukan dalam rangka lomba atau kontes ternak, tetapi ratusan sapi itu sengaja mereka didatangkan untuk menjalani program dari Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Jawa Timur.

Tampak beberapa sapi mulai gusar. Sesekali mengibaskan ekor dan menggerakkan pinggulnya. Pantatnya terlihat memerah bengkak hingga mengeluarkan cairan lendir putih bening yang mengucur. Kondisi sapi seperti itu sangat dinantikan peternak. Bukan karena sakit, namun hewan ternak mereka sedang memasuki masa berahi, atau minta dikawinkan.

Di lapangan yang kering dan berdebu itu, terik juga mulai menyengat. Ratusan petugas dari Disnak pun telah menunggu. Setelah sapi dibariskan rapi, para petugas yang telah siap menggunakan sarung tangan sebatas siku mulai beraksi. Serentak tangan petugas masuk ke dalam vagina sapi hingga sedalam 40 centimeter. Proses itu menjadi cara manual untuk mengecek sapi betina dalam keadaan bunting atau tidak.

Dari 150 ekor, sebanyak 130 ekor pernah bunting dan 108 di antaranya dalam kondisi bunting. Sapi yang berahi dan belum bunting dipisahkan. Dibariskan sejajar rapi untuk mendapatkan Inseminasi Buatan (IB) dengan cara kawin suntik. Petugas yang juga dokter hewan (drh) pun dengan telaten memulai proses IB. Tangan kirinya menggunakan sarung tangan panjang sebatas siku dan tangan kirinya telah siap membawa suntik dengan jarum panjang.

Drh Iswahyudi menunjukkan cara proses IB dilakukan. Perlahan tangan kirinya dimasukkan ke dalam vagina sapi. “Tangan kiri ini untuk membuka jalan agar suntik bisa dimasukkan. Saat ini tangan saya ini masuk hingga siku dan sudah memasuki ring empat. Di titik ini semen beku akan saya suntikkan,” ujar pria menjabat Kepala UPT Inseminasi Buatan Disnak Provinsi Jatim ini.

Tangan kanannya pun dengan sigap memasukkan jarum suntik yang cukup panjang. Tepat pada posisi ring empat itu straw atau semen beku dari sperma jantan unggul pun disemprotkan.

Kegiatan IB semacam itu kini semakin banyak dilakukan di wilayah Jawa Timur yang masih menjadi salah satu sentra ternak sapi nasional. Langkah itu merupakan upaya percepatan target pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri yang diluncurkan Kementerian Pertanian dengan program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab). Bila tahun sebelumnya, Upsus Siwab dilaksanakan pada sapi potong, tahun ini difokuskan pada sapi perah.

“Upaya ini dilakukan sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mengejar swasembada sapi yang ditargetkan tercapai pada tahun 2026. Melalui upaya khusus ini diharapkan terwujud Indonesia yang mandiri dalam pemenuhan pangan asal hewan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat,” kata Kepala Disnak Provinsi Jatim, Wemmi Niamawati.

Baca Juga:  Momok intoleransi incar kalangan terpelajar, Praktisi: Harus ada kebijakan yang imperatif

Desa Ternak

Pemilik sapi asal Wonoayu Kabupaten Malang dan petugas terlihat sigap memegang sapi yang sedang diperiksa kebuntingannya. FOTO: Sarifa-licom

Sedari dulu Desa Wonoayu terkenal sebagai desa ternak. Mayoritas penduduknya menjadi peternak sapi dan sebagian lagi menjadi petani sawah. Seiring perkembangan waktu, desa yang berada di ketinggian 50 meter di atas permukaan air laut ini mengalami perubahan.

Kepala Desa Wonoayu, Wina Ernama mengungkapkan dalam 15 tahun terakhir ini perekonomian penduduk desa sebanyak 392 kepala keluarga ini mengalami perkembangannya sangat pesat. “Dulu rumah penduduk tidak sekokoh ini. Jalan utama tidak sebagus sekarang beraspal mulus. Mayoritas penduduknya sebagai petani sawah dan berternak,” jelasnya.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, para pemuda Wonoayu lebih banyak memilih mengadu nasib di kota. Tak sedikit pula yang bekerja di luar negeri menjadi TKI terutama wanitanya yang mengais rezeki di Malaysia, Hongkong, Taiwan dan Singapura.

Melihat perubahan kultur dan ekonomi warganya, Ernama pun khawatir akan terjadi krisis petani ternak di desanya. Sebab generasi penerusnya cenderung memilih hidup di kota baik sebagai pekerja maupun wiraswasta. “Kami selalu mendorong untuk mencari pengalaman baru. Namun kalau arus urbanisasi ini tidak bisa dibendung, ke depan lalu siapa yang meneruskan. Padahal desa Wonoayu sangat dikenal sebagai gudangnya ternak sapi,” keluhnya.

Kades wanita yang menjabat dua periode ini pun mengungkapkan sejarah awal ternak sapi di Wonoayu. Dimulai sejak 1990, awalnya hanya sekitar lima orang peternak dengan pola asuh masih sangat tradisional.  Memasuki tahun 2003 perkembangan ternak mulai cukup efektif dengan adanya  program yang lebih modern melalui IB.

Kini, ternak sapi di desa dengan jumlah penduduk 1.550 jiwa itu kian berkembang pesat. “Sekarang jumlah sapi di Wonoayu mencapai 833 ekor. Jantan sebanyak 147 ekor dan betina 686 ekor. Pada umumnya penduduk tidak hanya berternak sapi, tapi juga ada kambing dan ayam. Jadi rata rata satu rumah minimal ada dua sapi. Ternak ini menjadi simbol kesejahteraan  masyarakat Wonoayu,” ucapnya.

Bupati Malang, Rendra Kresna menuturkan, di Kabupaten Malang hampir semua kecamatan memiliki sentra ternak sapi binaan. Untuk pembagian wilayah dibagi tiga. Wilayah Malang Selatan di Kecamatan Dampit, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kecamatan Gedangan, Bantur, Donomulyo, Pagak dan Kecamatan Kalipare.

Lalu wilayah Malang Tengah ada di Kecamatan Wajak, Turen, Ngajum, Wonosari, Sumberpucung, dan Kecamatan Kromengan. Sedangkan Malang Timur di Kecamatan Lawang, Singosari, Pakis, Tumpang, dan Kecamatan Poncokusumo.

Dari kawasan Sentra Sapi Potong di Malang total populasinya kini mencapai 234.482 ekor.

Khusus di Kecamatan Wajak, total populasi sapi potong mencapai 17.687 ekor. Sebanyak 8.470 ekor berjenis kelamin jantan dan 9.217 ekor lainnya betina.

Adapun program unggulan percepatan populasi sapi di Malang juga melalui IB.

“Kami punya motto Intan Bergaris Emas, Inseminasi Buatan Beranak 300 ribu ekor Masyarakat Sejahtera) dan Program Upsus Siwab,” jelasnya.
Dari kontribusi program IB kini jumlah kelahiran sapi rata-rata mencapai 60 ribu ekor per tahun dan berkontribusi terhadap pembangunan di Kabupaten Malang rata-rata Rp510 miliar per tahun.

Baca Juga:  Gandeng milenial, BPDP KS gelar Surabaya Amazing Race Sawit Hunt 2019

Kontribusi susu dan daging

Pemilik sapi asal Wonoayu Kabupaten Malang dan petugas terlihat sigap memegang sapi yang sedang diperiksa kebuntingannya. FOTO: Sarifa-licom

Populasi sapi perah dan produksi susu sapi di Jatim juga masih menjadi yang tertinggi sebanyak 54 persen dari jumlah nasional. “Meskipun kontribusi Jawa Timur terhadap nasional cukup tinggi, namun masih perlu dikembangkan lagi. Ini karena kebutuhan industri pengolah susu untuk nasional masih kurang sekitar 800 ton per hari,” ungkap Wemmi.

Untuk produksi daging sapi Jatim per tahunnya mencapai 102.932 ton dengan kebutuhan konsumsi masyarakat Jatim lebih kurang 92 ribu ton. “Kebutuhan produksi daging secara nasional saat ini tercatat 531.757 ton. Dengan kondisi ini Jatim mengalami surplus daging 10.932 ton sehingga berkontribusi 19 persen untuk kebutuhan daerah-daerah lain di Indonesia,” tuturnya.

Saat ini, populasi sapi di Jatim mencapai sekitar 4,7 juta ekor. Pertumbuhan populasi itu terus meningkat setiap tahunnya. Di 2015 sebanyak 4.267.325 ekor dan 4.407.807 ekor di 2016. Sedangkan 2017 mencapai 4.573.893 ekor atau mengalami pertumbuhan sebesar 3,77 persen. Dari jumlah sapi tahun 2017, Jatim telah berkontribusi 28 persen dari jumlah sapi potong nasional sebanyak 16.599.247 ekor dengan 69 persen dari antaranya merupakan sapi betina.

Program Upsus Siwab di Jatim tahun lalu mencapai 1.365.138 ekor dari target nasional 4 juta ekor sehingga Jatim berkontribusi 33,13 persen. Dari program yang dijalankan, sapi bunting di Jatim mencapai 1.146.716 ekor dan berkontribusi 38,22 persen dari target nasional 3 juta ekor. Dari jumlah sapi bunting itu, jumlah kelahiran sebanyak 1,05 juta ekor atau berkontribusi 43,75 persen dari target nasional 2,4 juta ekor.

Tahun ini, untuk IB untuk sapi potong telah ditargetkan sebanyak 1.295.600 akseptor dengan jumlah kebuntingan 1.005.629 ekor, serta kelahiran 939.136 ekor. Realisasinya per 1 Januari-15 Agustus 2018, jumlah IB yang disuntikkan sebanyak 1.314.874 atau jauh melebihi target. Untuk jumlah kebuntingan mencapai 673.441 atau 67,1 persen dari target dengan jumlah kelahiran 398,505 atau 42,5 persen dari target.

Realisasi program tahun ini akan dilakukan hingga 31 Desember 2018. Diprediksikan akseptor IB sebanyak 1.750.060 ekor sapi atau 140 persen dari target yang ditentukan. Sementara target kebuntingan sebanyak 1.225.042 ekor dan kelahiran 1.102.500 ekor.

Di Jatim target IB Upsus Siwab 2018 ada di 34 daerah. Tertinggi di Tuban 95 ribu ekor, disusul Jember 82 ribu, Situbondo 78 ribu, Lumajang 74 ribu, Bondowoso 72 ribu, Malang 70 ribu, Blitar 69 ribu, Bojonegoro 64 ribu, Probolinggo 62 ribu, Banyuwangi 58 ribu, Kediri 57 ribu, dan Pasuruan 53 ribu. Sedangkan di Tulungagung ditargetkan 49 ribu ekor, Lamongan 40 ribu, Nganjuk 34 ribu, Ngawi 34 ribu, Mojokerto 33 ribu, Magetan 31 ribu, Pacitan 29 ribu, Ponorogo 29 ribu, Sampang 27 ribu, dan Jombang 26 ribu. Di Madiun ditargetkan 25 ribu, Bangkalan 24 ribu, Pamekasan 23 ribu, Sumenep 22 ribu, dan Trenggalek 16 ribu. Target yang tidak terlalu besar di Gresik 7 ribu ekor, Kota Batu 3.500, Sidoarjo 3 ribu, Kota Kediri 2.500, Kota Probolinggo 2.100, Kota Blitar seribu, dan Kota Malang 500 ekor.

Baca Juga:  DPR RI pilih Firli Bahuri jadi ketua KPK

Untuk mendukung IB tersebut, dialokasikan straw atau semen beku di Jatim sebanyak 2.202.520 dosis. Rinciannya untuk straw sapi jenis Simmental 625.900, Limosin 1.117.225, Brahman 33.525, Onggole 63.070, Anggus 23.550, Friesian Holstein 245.278. Sedangkan straw Sapi Bali 6.650, Brangus 5.500, Madura 78.772, dan Kerbau 3.050.

Guna mendukung program Upsus Siwab, Pemprov Jatim telah menerjunkan petugas percepatan peningkatan populasi total 4.816 orang. Terdiri dari petugas medik (dokter hewan) 366 orang, petugas paramedik veteriner 636 orang, petugas inseminator IB 1.436 orang, petugas pemeriksa keuntungan 1.129 orang, petugas ATR 319 orang, dan petugas pelaporan 930 orang.

Wemmi berharap dengan program Upsus Siwab mampu mendukung program penurunan angka kemiskinan dan peningkatan lapangan kerja. Dengan begitu, lanjutnya, maka dapat meningkatkan kesejahteraan peternak serta harga daging sapi terjangkau karena kecukupan stok daging sapi untuk konsumsi masyarakat.

Pemotongan Sapi Betina

Para petugas memberi aba- aba melakukan pemeriksaan kebuntingam sapi secara massal. FOTO: sarifa-licom

Guna meningkatkan populasi sapi, pemerintah telah melarang pemotongan sapi betina. Namun fakta di lapangan berbeda. Di Surabaya, kasus pemotongan sapi betina di Rumah Potong Hewan (RPH) masih terjadi. Hal itu berdasarkan hasil ungkap pihak kepolisian dari Polsek Karangpilang usai menemukan 42 sapi betina siap potong tak berdokumen di RPH Kedurus pada bulan Juni lalu.

Direktur Utama RPH Surabaya, Teguh Prihandoko mengaku baru mengetahui kejadian tersebut usai dilakukannya pengungkapan oleh polisi. “Memang ada aturan khusus bagi sapi betina yang akan dipotong di RPH,” jelasnya.

Ia menjelaskan, sapi betina dapat dipotong jika ada dokumen yang dikeluarkan RPH yang menyatakan sapi itu sudah tidak produktif lagi karena sudah tua atau majer (mandul). “Regulasi itu pengawasannya memang sudah ada MoU antara Dinas Peternakan dengan Bareskrim Polri,” ungkapnya.

Pengawasan itu, lanjut dia, dilakukan agar tidak terjadi pemotongan sapi-sapi betina yang masih produktif di RPH. Hal itu dilakukan agar populasi sapi di Indonesia tetap terjaga, sehingga ketersediaan stok daging sapi tetap stabil.

Menyikapi pemotongan sapi betina di RPH, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur pun angkat bicara. Ketua Komisi B DPRD Jatim, Ahmad Fidaus Fibrianto menyayangkan masih adanya pemotongan sapi betina produktif. “Harga sapi betina memang lebih murah sehingga sangat diminati di pasar,” ujarnya.

Namun ia menyayangkan jika hal itu dibiarkan, bukan tidak mungkin jumlah sapi di Jawa Timur semakin menyusut. Terkait pelarangan, politisi Partai Golkar itu menegaskan jika pemerintah sudah ada  Perda Nomor 6 Tahun 2012 tentang Larangan Pemotongan Sapi Betina Produktif. Pihaknya pun kini merancang revisi Perda tersebut. “Kami sedang merancang untuk merevisi Perda 6 tahun 2012 sehingga pemotongan sapi betina bisa lebih ketat dan tidak bisa lagi sembarangan dipotong,” tegasnya.@sarifa