Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Puisi ‘Tapal Batas Bekasi’-nya Ismail Marzuki menjamur di RW, pojok kampung Kota Bekasi
Para pemerhati pusisi mulai peyair, guru, pelajar kumpul di pentas puisi HPI. @foto:sofie
Art & Culture

Puisi ‘Tapal Batas Bekasi’-nya Ismail Marzuki menjamur di RW, pojok kampung Kota Bekasi 

LENSAINDONESIA.COM: Efek puisi bertema epik karya penyair legendaris Indonesia sepertinya tetap mampu
memicu antusiasme generasi now untuk meminati seni sastra puisi. Karya puisi Ismail Marzuki berjudul “Melati di
Tapal Batas” dan karya penyair Chairil Anwar “Antara Karawang dan Bekasi”, faktanya mampu menggerakkan animo
warga Kota Bekasi menggeliatkan puisi di kampung-kampung.

Di tengah momen peringatan Hari Puisi Indonesia (HPI) ke 6 pada 15 September lalu, contohnya. Warga Kota Bekasi
menggelar rangkaian pentas puisi secara swadaya di beberapa titik. Di pojok kampung, juga ada pula yang menggunakan fasilitas balai RW.

Puisi bernafas heroisme dan cinta tanah air di era penjajahan itu, rupanya getarannya terasa lintas waktu. Juga
generasi.

Itu tampak pada suasana antusiasme pelajar dan pendidik yang memenuhi perhelatan puisi di pentas titik pusat Kota
Bekasi, sebagai daerah penyangga DKI Jakarta. Apalagi, pentas baca puisi memperingati Hari Puisi Indonesia
itu sepertinya tidak semua kota di tanah air melakukannya.

Dewan Kesenian Bekasi (DKB) sengaja menggandeng Dinas Pendidikan Kota Bekasi untuk menghormati hari yang dijadikan momen besar mengapresiasi puisi-puisi karya para penyair Indonesia.

HPI di Kota Bekasi ini sengaja membesut tema “Puisi di Tapal Batas Bekasi”. Ini merujuk puisi yang jadi lagu legendaris karya musisi besar Almarhum Ismail Marzuki berjudul “Melati di Tapal Batas” itu. Puisi ini memotret keberanian para srikandi Indonesia yang berjuang menjadi tentara pelajar di era menghadapi agresi kolonialis pada 1946. Berikut petikannya; Engkau gadis muda jelita/ Bagai sekuntum melati/ Engkau sumbangkan jiwa raga/ Di tapal batas Bekasi/ ….

Tidak terlihat ada figur pejabat -selain dari Dinas Pendidikan– atau tokoh yang menonjol di kota Bekasi di pentas puisi ini. Agaknya, inilah kejujuran fakta seni sastra yang diklaim jadi bagian dari perjalanan hidup semua orang, terutama saat memasuki masa remaja.

Baca Juga:  Gabung di Action Cullinary, punya usaha di mall tanpa uang sewa

Walau begitu, ratusan undangan yang memenuhi area pentas di Aula Dinas Pendidikan Kota Bekasi, melegakan pemerhati puisi. Mereka yang hadir diantaranya, para seniman dan pelajar di Kota Bekasi. Mereka seolah larut suasana pembacaan sajak-sajak kehidupan yang berdaya getar cukup puitis.

“Awalnya yang diundang hanya 30 orang meliputi guru dan anak didiknya, juga ada sastrawan di Kota Bekasi dan
Kabupaten Bekasi. Tetapi hadir lebih dari undangan. Ini animo baru, bangkitnya dunia sastra di Bumi Patriot,” kata Ketua Komite Sastra, Dewan Kesenian Kota Bekasi Suwignyo.

Berbagai rangkaian pergelaran puisi, diakui Suwignyo, digiatkan dengan melibatkan seniman sastra di Bekasi Raya. Dari pojok perkampungan pindah ke RW di beberapa titik Kota Bekasi. Semua kegiatan modal sendiri dan donatur yang masih peduli akan seni. Tertatih dalam segala kegiatan tidak menghambat gaung puisi di tapal batas.

“Ini adalah sebuah media untuk menampilkan kreatifitas dan kecerdasan anak anak maupun guru, meski saya bukan orang
Bekasi. Saya bangga tinggal di Bekasi dan bisa ikut membesarkan sastra di Bekasi. Harusnya ini dapat didukung
Pemerintah Daerah, “ katanya, berharap.

Dia juga mengimbau untuk siswa siswi, mahasiswa dan guru di Kota Bekasi, yang memiliki karya puisi dapat dikirim
ke Dewan Kesenian Bekasi. Rencananya, untuk dijadikan dalam satu buku antologi puisi penyair nusantara dan akan dicetak untuk dibagikan dalam peringatan Hari Puisi Indonesia tahun berikutnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Ali Fauzi mengakui kegiatan baca puisi, merupakan kegiatan positif dan harus
dilestarikan. Dukungan itu pun ia tunjukkan dengan menyediakan tempat Aula di Disdik Kota Beksi untuk dipakai
dalam kegiatan Hari Puisi Indonesia ke 6 di Bekasi.

Baca Juga:  Dituntut 2 tahun, musisi Boomerang ngaku ciptakan banyak lagu dalam Rutan Medaeng

Ali Fauzi, juga berjanji kedepan dengan adanya potensi puisi itu akan coba bantu mengajukan ke Pemerintah Kota
Bekasi untuk mendapatkan dukungan.

“Seni sastra Kota Bekasi, harus dipertahankan. Dan harus diakui untuk tenaga pendidikan seni sastra di Kota
Bekasi masih belum maksimal. Tentu ini akan dicarikan jalan keluar kedepan melalui dinas pendidikan,” pungkas dia.

Patut diapresiasi, pelajar dan penyair yang terlibat pembacaan puisi, lebih banyak yang membacakan puisi karya sendiri. Padahal, panitia sudah menyediakan buku antologi puisi. @sofie