Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.   
Anak-anak berisiko virus Rubella, Ma’ruf Amin: Darurat dan berbahaya, vaksin MR wajib
Ketua Majelis Ulama Idonesia (MUI KH Ma'ruf Amin; @foto:dok.nawala_ksp
HEADLINE

Anak-anak berisiko virus Rubella, Ma’ruf Amin: Darurat dan berbahaya, vaksin MR wajib 

LENSAINDONESIA.COM: Masih adanya penolakan masyarakat terhadap penggunaan vaksin Measles Rubella (MR) untuk imunisasi anak, cukup mencemaskan kalangan medis di tanah air.

Jika kondisi ini tidak segera berubah, bukan hanya beresiko campak dan bahaya virus Rubella akan mewabah dan menyerang anak-anak. Dikhawatirkan juga akan berdampak penularan terhadap ibu-ibu hamil.

Data kementerian kesehatan menyebutkan, capaian imunisasi vaksin MR hingga 18 September 2018 di luar Jawa hanya
43,07 persen. Padaha, targetnya harus 83,98% anak harus terimunisasi. Praktis, hampir separuh anak-anak berpeluang terancam campak dan virus membahayakan kesehatan itu. Resiko lebih miris lagi, ibu-ibu hamil ikut terancam.

“Jadi tolong dong, darurat kan bukan buat diri kita, tapi buat sekitar kita,” imbau Menteri Kesehatan Nila F Moeloek saat diskusi Forum Merdeka Barat 9 (Dismed FMB’9), di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika,Jakarta Pusat, Selasa (18/9/2018). Maksudnya, kondisinya sudah darurat, meski bukan untuk ibu yang tidak hamil atau bukan usia anak wajib imunisasi

“Misalnya anak saya dapat rubella, kemudian mendekati ibu yang lagi hamil muda, saya kan enggak apa-apa, ibu (hamil) yang akan terkena,” ungkap Menkes, prihatin.

Ramainya isu penolakan vaksin MR akhir-akhir ini, lantaran ada kandungan unsur babi. Padahal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwah halal tahun 2016 dengan pertimbangan kondisinya darurat, karena belum ada pengganti vaksin lain.

Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin angkat bicara. “Menurut informasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Rubella ini sangat berbahaya. Kalau bahaya itu diyakini, kalau bahasa ulama, artinya memang bahaya, merupakan kewajiban,” tegas Ma’ruf Amin, yang juga menjadi pembicara diskusi Dismen FMB’9, dilansir laman resmi Nawala KSP (Kantor Staf Presiden), Selasa (18/9/2018).

Baca Juga:  Gudang logistik Polda Metro Jaya terbakar

Membahayakan, menurut Ma’ruf Amin, ada dua hal penting dari sisi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pertama, hukum
imunisasi. Kedua, kehalalan dari vaksin itu sendiri.

Sebenarnya, lanjut Ma’ruf, MUI sudah mengeluarkan fatwa No.4 Tahun 2016. Isinya, meputuskan bahwa melakukan imunisasi atas penyakit yang mengancam, menimbulkan penyakit, kecacatan yang berkelanjutan, maka bukan hanya boleh (digunakan), bahkan wajib.

“Menurut informasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Rubella ini sangat berbahaya. Kalau bahaya itudiyakini, kalau bahasa ulama, artinya memang bahaya, merupakan kewajiban,” jelas Ma’ruf Amin.

Ketua MUI ini mengaku, sudah disebutkan dan ditunjukan langsung contohnya. Ini sangat bahaya. “Kalau generasi muda
Indonesia akan seperti itu (terjangkit virus Rubella), kita akan menjadi bangsa yang lemah. Akan kalah berkompetisi
dengan bangsa yang lain,” urai Ma’ruf Amin.

Ketua MUI menungkapkan, Kementerian Kesehatan tidak meminta fatwa langsung tentang vaksinnya. Prosesnya
dilakukan pada tahun 2018. Yakni, lahir Fatwa MUI No. 33 tentang penggunaan vaksin Rubella.

“Selama dua tahun itu, 2016-2018, tidak ada fatwa tentang kehalalan. Apakah vaksinya halal atau tidak. Baru tahun 2018, kita keluarkan kehalalannya,” katanya.

Karena darurat, maklum ada penggantinya. “Hukumnya, ada kebolehan sesuatu yang dilarang. Yng dilarang, jika darurat, diperbolehkan,” ungkap Ma’ruf Amin.

ertimbangan itu, Ketua MUI Ma’ruf Amin menekankan, bahwa pihaknya sangat prihatin terhadap capaian imunisasi vaksin MR ini yang hinga saat ini baru mencapai 48 persen.

“Karena itu, harus ada upaya-upaya maksimal melibatkan semua pihak,” paparnya.

“Kami, MUI sudah mengeluarkan dua fatwa dan kami siap mensukseskan Vaksin Rubella ini,” tegas Ma’ruf Amin.

Sebagai narasumber diskusi, ada Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
Penny K Lukito, dan Direktur Utama PT Bio Farma M Rahman Rustan. @licom_09

Baca Juga:  Pelindo III - PT Garam salurkan dana Rp 97 juta untuk air bersih di Kupang