Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Gempa 7,4 SR dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah Jumat lalu (28/9/2018), menelan korban 1.404 orang meninggal, 2.549 orang mengalami luka. Ini data yang masuk BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sampai Pukul 13.00 WIB, Rabu (3/10/2018). Ribuan rumah hancur, dan puuhan ribu orang terpaksa mengungsi di 24 lokasi.

Rumah Zakat dalam keterangan persnya menyebut, mengirimkan relawan sejak Jumat malam. Relawan dikirim dari 8 provinsi, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sumatera Barat.

“Relawan yang dikirim terdiri dari tim evakuasi, dan tim medis,” kata Chief Program Officer, Murni Alit Baginda, dalam keterangan pers Rumah Zakat yang diterima LensaIndonesia.com.

Rumah Zakat mengirimkan 13 tim evakuasi, 5 orang tim medis, 2 unit ambulance, 1 mobil klinik, bantuan logistik hingga pengiriman 100.000 kornet Superqurban dan siaga pangan.

“Fokus bantuan kita di masa tanggap darurat ini adalah evakuasi, rapid assessment, layanan medis, bantuan logistik, layanan dapur umum dan layanan kebersihan,” terang Murni.

Murni menambahkan, untuk membantu pemerintah dalam penanganan bencana di Sulawesi Tengah mulai dari masa tanggap darurat hingga masa recovery dan rehabilitasi, Rumah Zakat membuat empat gelombang tahapan aksi penanganan bencana di Sulawesi Tengah, yang disesuaikan kondisi dan fase Bencana di lapangan.

Pada Gelombang pertama, Rumah Zakat mengirimkan relawan untuk membantu evakuasi, assessment, pelayanan medis, penyaluran logistic, dan layanan dapur umum , serta mengirimkan ambulance dan mobil klinik. Di Gelombang II, penanganan bencana ditambah dengan penyediaan pos pengungsian, mesjid darurat, toilet komunal dan layanan psikososial.

REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI

Di Gelombang III yang bertepatan dengan masa recovery, tim akan mulai mendirikan hunian sementara, penyiapan sekolah darurat dan penyediaan layanan kesehatan. Gelombang IV atau masa rehabilitasi, selain masih terus menyediakan hunian sementara dan sekolah darurat, juga akan mulai melakukan pendampingan ekonomi untuk warga terdampak .

“Kedepannya, kita berencana akan mendirikan desa berdaya dengan program-program pemberdayaan yang terintegrasi di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lingkungan, agar warga terdampak dapat kembali pada kehidupannya seperti sebelum terjadi bencana,” terang Murni. @licom_03