Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Bupati kader Golkar mirip lagu “Bento”, harta melimpah tergoda suap Meikarta-Lippo
Proyek Meikarta seperti dalam ambar desain yang dikerjakan pengembangan Lippo Group, akhirnya terendus ada belang bukan seperti pepatah "nila setitik rusak susu sebelanga". @foto:ist
HEADLINE

Bupati kader Golkar mirip lagu “Bento”, harta melimpah tergoda suap Meikarta-Lippo 

LENSAINDONESIA.COM: Harta dan kedudukan atau tahta di pemerintahan, belakangan semakin terkuak ternyata tidak sedikit pejabat kebablasan rakus, tergoda pengusaha perongrong pemerintah, hingga ingkar loyal terhadap negara, akhirnya menjadi penghuni penjara.

Dugaan kasus ‘berkhianat’ secara jamaah, menyelewengkan amanah jabatan di Pemerintahan Kabupaten Bekasi, hingga
meloloskan ijin-ijin menabrak aturan untuk proyek raksasa kota baru Meikarta, fakta seperti menunjukkan Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin dan sejumlah pejabat bawahannya seperti lupa diri.

Neneng yang merupakan kader potensi Golkar era kepemimpinan Setya Novanto, terpidana korupsi e-KTP, alhasil seolah terjerumus godaan “iming-iming” suap pihak pengembang kota baru Meikarta dari Lippo Group. Suap terjadi lantaran diduga ada hasrat jahat menggaruk keuntungan sebesar-besarnya.

Sudah jadi rahasia umum, dugaan tradisi modus suap, apalagi kalau bukan akibat mental “super rakus” memilih jalan pintas “membeli” kewenangan pejabat seperti Neneng dengan harga jauh lebih murah, dibanding mengikuti ketentuan pemerintah maupu aturan hukum yang ada.

Dengan diciduknya Bupati Neneng terkait kerakusannya menerima uang suap dari petinggi Lippo Group Billy Sindoro, praktis mengejutkan masyarakat Kabupaten Bekasi yang memilihnya dalam Pilkada serentak 2017, sebagai Bupati periode 2017-2022.

Sebaliknya, kompetitor politik Neneng dari partai lain, malah prihatin dan mengajak untuk menjadikan kasus OTT para elit pejabat Pemkab Bekasi ini, sebagai pelajaran untuk yang lain agar lebih berhati-hati dalam mengemban tugas.

“Harapannya ini menjadi “warning” buat dinas – dinas lain untuk berhati-hati dalam menjaga amanah rakyat. Jangan sampai peristiwa memalukan ini terjadi lagi,” ucap Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Bekasi, Anden, Senin (14/10/2018).

Neneng diduga sebagai pemegang komando suap secara bertahap yang diterima para bawahannya mencapai Rp7 miliar dari total komitmen Rp13 miliar, dirasa pemimpin paling ironis. Barangkali, ini potret fenomena buruk yang kesekian
kali diantara para negarawan terburuk di daerah-daerah di Indonesia.

Baca Juga:  Penjaringan bakal calon wali kota PDIP Surabaya laris manis

Sebagai bupati dua periode di derah provinsi Banten, kekayaan Neneng terbilang lumayan “wow” untuk ukuran pejabat bupati. Hartanya yang tercatat di data LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara) total senilai 73,4 miliar. Atau, setara satu kompleks perumahan regency kelas menengah yang harga per unit rumah Rp1 miliar.

Padahal, rakyatnya di pinggiran Kabupaten Bekasi tidak sedikit yang kekurangan gizi dan terpenjara kemiskinan.
Total kekayaan Neeng itu sesuai data LHKPN yang dilaporkan 5 Juli 2018. Rinciannya, harta tanah bergerak sebesar Rp 61.777.532.000. Terdiri dari 143 item tanah berlokasi di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang. Semua harta ini dilaporkan didapat dari hibah tanpa akta dan hasil sendiri.

Harta bergerak, Neneng hanya melaporkan punya dua unit. Yakni, mobil buatan 1990 nilai hibah Rp200 juta, dan Toyota Fortuner seharga Rp 479 juta. Harta lain yang dimiliki Neneng totalnya mencapai Rp 2.200.000.000. Total harta keseluruhannya mencapai Rp 73.440.114.829.

Neneng yang alumni Fakultas Kedokteran Yarsi Jakarta (1982), mestinya amat beruntung dalam usianya yang 30 Juli 2018 lalu, baru memasuki 38 tahun, kariernya sebagai kader Golkar mampu menduduki jabata Bupati Bekasi memasuki dua periode.

Munculnya Pedang Pembabat Korupsi “KPK”, tanpa diduga ini, tentu bukan hanya Golkar yang merugi. Tapi, juga partai lain yang ikut mengusung Neneng. Ada Nasdem, Hanura, dan PAN. Apalagi, di saat-saat parpol dan semua kadernya sibuk fokus menghadapi Pilpres dan Pemilihan Legislatif di Pemlu 2019.

KPK menetapkan Neneng sebagai tersangka penerima sejumlah uang pelicin untuk memuluskan perizinan mega proyek kota baru Meikarta. KPK juga seolah tangguh bisa menjebloskan petinggi Lippo Group, Billy Sindoro sebagai Direktur Operasional Lippo Group. Billy ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap.

Baca Juga:  FKPPI apresiasi rencana pembangunan Istana Kepresidenan di Papua

Kini, KPK menahan Bupati dan 8 orang lainnya yang bertatus resmi tersangka kasus gratifikasi dengan barang bukti Rp1,5 miliar.

“KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dengan sembilan orang sebagai tersangka,” ujar Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dalam jumpa pers di gedung KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (15/10/2018).

Rupanya, geliat keras KPK semakin menguak kelakuan korup pejabat eksekutif maupun legislatif mirip pemeo “hilang satu tumbuh seribu”. Diantara kasus-kasus yang sudah terkuak seolah menggambarkan modus tindakan korupsi terait transaksi suap semakin menjadi-jadi.

Menarik dicermati, pelaku selalu melibatkan pihak swasta pemberi suap. Tentu, ini tantangan bagi KPK dalam membongkar dugaan skandal-skandal suap. KPK selayaknya tidak lagi terfokus memblow-up modus-modus penerima suap yang dilakukan pejabat pemerintah atau pejabat negara baik dari unsur eskekutif, legislatih maupun ‘yudikatif, sebagai pihak penerima suap.

Sepertinya juga perlu pula memblow-up pihak swasta sebagai pemberi uang suap, agar dapat terkuak siapa sebenarnya penyebar virus mental korup. Dengan demikian virus rakus korupsi mirip lirik lagu “Bento” yang dinyanyikan musisi Iwan Fals, tidak terus berkembang lebih semarak. Berikut cuplikan lirik “Bento” yang sarkasme;

Namaku Bento, rumah real estate
Mobilku banyak, harta melimpah
Orang memanggilku, bos eksekutif
Tokoh papan atas, atas sgalanya, asik!

Wajahku ganteng (cantik, red), banyak simpanan (harta, red)
Sekali lirik, oh bisa jalan
Bisnisku menjagal, jagal apa saja
yang penting aku senang, aku menang
Persetan orang susah, karena aku
Yang penting asik, sekali lagi, asik!

Obral soal moral, omong keadilan, sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu, lobi dan upeti, woo jagonya
Maling kelas teri, bandit kelas coro, itu kantong sampah
Siapa yang mau berguru, datang padaku, sebut 3 kali namaku
Bento bento bento.. asik..
@sofie