LENSAINDONESIA.COM: Sejumlah pegiat budaya Sunda maju sebagai Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPRD Kabupaten Bogor
periode 2019-2024. Uniknya, semua mendapatkan nomer urut yang identik, yakni 9.

Ketua Bidang Media Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa (SLW), Ahmad Fahir dan Indra Lesmana mengungkapkan, ada empat
Caleg DPRD Kabupaten Bogor yang berangkat dari organisasi yang menjadi rumah besar komunitas budaya Sunda tersebut.

Keempat Caleg itu antara lain, Ahmad Fahir sendiri terdaftar sebagai Caleg PKB DPRD Kabupaten Bogor dapil VI, Kepala Sekretariat SLW, Suhendar sebagai Caleg Dapil IV dari PDI Perjuangan, Indra Lesmana Caleg PKB Dapil I, serta Sri Handayani yang juga Caleg dari PKB Dapil IV.

“Ada empat aktivis SLW yang maju sebagai Caleg DPRD Kabupaten Bogor dari partai dan dapil berbeda. Uniknya, semua
mendapatkan nomor urut 9,” ujar Fahir, dalam siaran Pers-nya di Cibinong, Rabu (17/10/2018).

Dikemukakannya, dalam terminologi budaya, nomer 9 merupakan angka yang sakral. Nomer 9 ini diyakini sebagian masyarakat sebagai nomor tertinggi nan keramat, penuh keberuntungan.

“Nomor sembilan identik dengan angka keramat dan penuh keberuntungan. Saya doakan semua Caleg pegiat budaya Sunda
terpilih,” tegas Fahir.

Senada dengan Fahir, Indra Lesmana yang dikenal malang melintang di dunia Organisasi mengungkapkan, bahwa angka
sembilan adalah bilangan ganjil yang disukai oleh Alloh SWT.

“Alloh menyukai angka ganjil, bahkan wali-waliNya di tanah Jawa juga berjumlah 9, yang kita kenal dengan sebutan
Wali Songo,” kata Indra.

Mantan Ketua Umum PC PMII Bekasi yang sekarang menjabat sebagai Ketua DPC Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI) Kabupaten Bogor yang juga terlibat dalam organisasi kebudayaan Sunda (SLW dan SEBUD) ini meyakini jika modal suara yang dimilikinya akan mampu menghantrkan dirinya duduk di kursi DPRD Kabupaten Bogor Periode 2019-2024.

“Insya’Allah dengan modal suara 2000 yang terdiri dari 1500 dukungan suara dari anggota SARBUMUSI dan 500 suara dari komunitas Kebudayaan Sunda serta Nahdlatul Ulama, saya bisa duduk di kursi DPRD kabupaten Bogor. Dengan demikian kepentingan pelestarian budaya Sunda, sekaligus kepentingan buruh di Kabupaten Bogor bisa saya perjuangkan
di parlemen,” tutur Indra dengan penuh semangat.

Fahir mengajak agar para Caleg yang berangkat dari Sunda Langgeng Wisesa, tampil berbeda dari kebanyakan Caleg, yakni dengan menjadikan budaya sebagai program prioritas yang diusung dalam kampanye.

“Semua Caleg yang berangkat dari Kasundaan maupun yang belum terlibat dalam giat budaya Sunda diharapkan dapat
mendorong pemajuan budaya Sunda secara berkelanjutan. Tugas merawat budaya merupakan tanggung jawab semua pihak” tegas Fahir.

Ia optimistis dan yakin, bila semua Caleg bicara tentang pemajuan budaya Sunda, ke depan kearifan lokal akan menemukan momentum dan panggung di rumahnya sendiri. Budaya Sunda menjadi tuan di kampung sendiri alias variabel utama dalam pembangunan Kabupaten Bogor.

“Bogor merupakan tanah Pakuan Pajajaran, bumi Prabu Siliwangi. Kearifan lokal Sunda mesti menjadi arus utama di
rumahnya sendiri. Pembangunan semua bidang harus memperhatikan faktor budaya Sunda,” ungkap dia. @sofie