Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Penanambangan liar galian golongan C melakukan eksplorasi pasir di wilayah Kabupaten Purwakarta , Jawa Barat, semakin menjadi-jadi. Akibatnya, dikhwatirkan merusak ekosistem lingkungan di daerah penambangan semakin tidak terkontrol. Ironisnya, meski ada keluhan dari masyarakat, namun aparat seperti melakukan pembiaran.

Pantauan LensaIndonesia.com di lokasi penambangan, yang paling memprihatinkan kegiatan berlokasi di Desa Benteng,
Kampung Cibayawak, Kecamatan Campaka, Purwakarta. Area galian di tanah menyerupai pegunungan, namun gundul. Luasnya
mencapai 1 hektar. puluhan mobil truk dan colt diesel berderet antri untuk mengangkut pasir galian di situ.

Di sana-sini pun terlihat beberapa kelompok orang melakukan kegiatan penambangan menggali pasir secara liar. Kegiatan ini seperti leluasa tanpa kontrol. Mobil truk dan colt diesel datang pergi mengangkut pasir. Semua seolah tidak peduli kondisi polusi debu di tengah kemarau panjang ini, berdampak polusi yang membahayakan kesehatan.

Menurut kesaksian warga setempat, kegiatan penambangan liar merusak ekosistem ini berjalan lebih sebulan ini.
Kegiatan penambangan itu dikendalikan perusahaan tambang galian C, salah satunya PT ZB di Purwakarta. Cuma, warga tidak berani menegur karena perusahaan penambang itu diduga ada “kongkalikong” dengan para aparat setempat.

Warga prihatin, aparat seperti sengaja melakukan pembiaran tidak hanya di kawasan area penambangan. Tapi, pembiaran
dengan mengabaikan kepentingan masyarakat secara luas juga terjadi di sepanjang jalan kota Purwakarta. Jalan-jalan
di tengah kemarau panjang ini sangat berdebu akibat dilwati truk-truk pengangkut pasir penambangan itu.

Warga sangat khawatir jika nati musim hujan tiba. “Jalan akan licin akibat pasir dan tanah yang tercecer dijalanan. Bahkan, kondisi jalan akan rusak akibat rutinitas kendaraan angkutan pasir,” keluh salah seorang warga, tidak menyebut nama. Artinya, masyarakat bayar pajak kendaraan buat perwatan jalan, tapi dirusak pengusaha penambang itu.

Kesaksian warga yang dihimpun LensaIndonesia,com, kegiatan penambangan liar ini per hari diperkirangan mengangkut
pasir mencapai 100 M3. Kendaraan pengakut pasir itu membawa ke berbagai tempat pengepul pasir komersial.

Warga pun tanda tanya ada apa aparat kelurahan maupun kecamatan, termasuk Polsek di Kecamatan Cempaka bergeming terhadap kegiatan penambangan yang tidak terkontrol dan bisa berdampak rusaknya ekosistem lingkungan ini. Apalagi, yang cukup mencolok kegiatannya tiap hari dan berlangsung lebih sebulan. Wajar, dicurigai ada “kongkalikong” pihak pengusaha penambang dengan aparat.

Sayangnya, aparat masih belum ada yang dapat dikonfirmasi terkait dugaan-dugaan miring itu. @rony