Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Umar Patek ajak masyarakat jaga kesatuan NKRI
Umar Patek narapidana teroris yang saat ini mendekam di Lapas Porong, Sidoarjo. FOTO: Rofik-LiCom
HEADLINE DEMOKRASI

Umar Patek ajak masyarakat jaga kesatuan NKRI 

LENSAINDONESIA.COM: Narapidana teroris yang saat ini mendekam di Lapas Porong, Sidoarjo, Umar Patek mengajak dan menyerukan cinta dan menjaga Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan jangan banyak menuntut.

Umar Patek merasa prihatin atas kondisi saat ini, dimana masyarakat mulai luntur akan nilai kecintaan terhadap Bangsa.

“Kita sebagai warga negara Indonesia yang cinta kepada tanah air dimana kita dilahirkan dan dibesarkan, wajib menjaga NKRI dan tunjukan rasa cinta dan bakti kepada negeri ini,” tegasnya saat ditemui di Lapas Porong,  Sabtu (20/10/2018).

“Sekarang (jelang Pilpres) saya melihat, masyarakat mulai terlihat ada dua kubu dan mengabaikan nilai kecintaan terhadap Negara,” tambahnya.

Pria yang saat ini berdagang sate di Lapas Porong ini mengaku, ketika menjadi teroris dirinya sempat menempuh pendidikan militer di Afganistan pada 1990, dan menjadi ahli peracik bom.

“Sekarang saya jualan sate,” ucapnya tersenyum penuh sadar.

Setelah sadar bahwa menjadi teroris adalah perbuatan yang keliru, saat ini Umar Patek menjadi panutan bagi terpidana teroris lainnya yang sudah “bertaubat”.

Setelah sadar, Umar banyak melakukan aktivitas positif guna menunjukkan kecintaanya kepada NKRI, semisal ia menjadi pengibar bendera saat upacara HUT Kemerdekaan RI pada 2017 lalu.

Sepak terjang Umar Patek menjadi teroris sudah terlampau jauh.

Sebelum ditangkap keamanan Pakistan pada 2011 dan diekstradisi ke Indonesia, Umar Patek pernah terlibat serangkaian aksi teror dalam negeri. Diantaranya, tahun 2000 melakukan Bom Natal di Magetan Jawa Timur. Pada 2002 bersama Amrozi dan Mukhlas, dirinya juga melakukan aksi teror di Kuta Bali yang menelan 203 korban jiwa dimana 88 korban tewaa diantaranya warga negara asing.

Pada 2003-2008 Umar Patek menjadi komandan lapangan pelatihan Jamaah Islamiyah di Mindanau Filipina dan pernah melatih kelompok Abu Sayaf dan MILF di Filipina.

Baca Juga:  Nilai ekspor JAPFA capai Rp 500 miliar lebih di 2019, Mentan: Indonesia pesaing dunia

Atas perbuatannya itu, Umar Patek akhirnya divonis 20 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat.@rofik