Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Soekarwo sampaikan gagasan lewat buku “Berkaca dari Kegagalan Liberalisasi Ekonomi”
Gubernur Jawa Timur Soekarwo, launching buku karyanya yang berjudul “Berkaca dari Kegagalan Liberalisasi Ekonomi” Memperkuat Komitmen Membangun Pertumbuhan Inklusif berbasis UMKM. FOTO: Sarifa-LICOM
Buku

Soekarwo sampaikan gagasan lewat buku “Berkaca dari Kegagalan Liberalisasi Ekonomi” 

LENSAINDONESIA.COM: Gubernur Jawa Timur Soekarwo kembali menunjukkan ide gagasannya yang ditulis lewat sebuah buku. Pakde Karwo (sapaan akrab Soekarwo) me-launching buku karyanya yang berjudul “Berkaca dari Kegagalan Liberalisasi Ekonomi” Memperkuat Komitmen Membangun Pertumbuhan Inklusif berbasis UMKM.

Ia mengungkpkan buku ini lahir dari pemikirannya tentang pengaruh globalisasi atau pasar bebas yang memunculkan liberalisasi ekonomi. Liberalisasi tersebut membawa dampak negatif, yakni mengutamakan efisiensi diatas segala-galanya demi memenangkan dan memperluas pasar.

“Namun akhirnya, konsep efisiensi itu gagal karena disparitas semakin meningkat, karena yang kecil semakin lemah, dan yang besar semakin kuat. Belajar dari itu, maka negara harus hadir untuk membuat regulasi yang mengatur dan memfasilitasi baik kepada kelompok yang lemah, seperti UMKM, maupun perusahaan yang besar,” kata pada LICOM usai acara launching bukunya di Ballroom Hotel Sheraton Surabaya, Minggu (21/10/2018).

Dijelaskan Pakde Karwo, kelompok yang lemah harus mendapat fasilitas yang lebih dibandingkan perusahaan besar. Contohnya, suku bunga perbankan yang diterapkan bagi sektor UMKM harus lebih kecil daripada suku bunga untuk perusahaan besar. Kemudian UMKM juga harus difasilitasi agar mereka bisa bersaing dan memiliki jaringan penjualan.

“Pada umumnya, UMKM diberikan suku bunga 18 prsen, sedangkan perusahaan besar hanya 14 persen. Karena itu, kami melakukan fiscal engineering melalui loan agreement Bank Jatim sebagai stimulus untuk UMKM Jatim, sehingga suku bunga untuk UMKM hanya sebesar 6 persen saja,” ujarnya.

Selain itu, gubernur dua periode ini juga mendirikan 26 Kantor Perwakilan Dagang (KPD) di 26 provinsi dan 7 KPD di 7 negara, untuk jaringan pasar UMKM. Hasilnya, sektor UMKM kian tumbuh subur dari tahun ke tahun dan mampu menjadi motor penggerak perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga:  Polisi amankan 35 motor tanpa surat di Suramadu

“Pada 2012, UMKM di Jatim jumlahnya mencapai 6,8 juta, lalu pada 2016 jumlah UMKM Jatim meningkat menjadi 12,1 juta. Bahkan pada PDRB Jatim tahun lalu yang totalnya mencapai Rp. 2.019 triliun, UMKM berkontribusi sebanyak 1.161 triliun atau 57,52 persen dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 94,7 persen,” imbuh dia.

Tak hanya itu, untuk perusahaan besar pemerintah juga memberikan government guarantee berupa kemudahan perijinan, percepatan pengadaan lahan, jaminan ketersediaan pasokan energi/listrik dan iklim perburuhan yang demokratis.

“Hasilnya, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur inklusif, dimana ekonominya tumbuh, namun disisi lain tingkat kemiskinan dan angka disparitasnya menurun,” jelasnya.

Soekarwo menambahkan buku yang diluncurkannya ini isinya membahas tentang jawaban untuk mewujudkan kesejahteraan umum berdasarkan keadilan, sesuai pembukaan UUD 1945,” imbuhnya.

Sementara, Ketua Dewan Komisioner OJK RI Wimboh Santoso yang ikut hadir serta mengisi kata pengantar dalam buku Pakde Karwo ini menilai buku ini merepresentasikan bagaimana keberhasilan Pakde Karwo dalam memimpin Jawa Timur, khususnya dalam membangun perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pakde Karwo luar biasa, kiprah beliau tidak perlu diragukan lagi, terbukti dalam beberapa tahun terakhir, Produk Domestik Bruto (PDB) Jatim lebih tinggi dari provinsi-provinsi lain, bahkan berada diatas rata-rata PDB nasional. Terima kasih Pakde Karwo karena telah menginisiasi buku ini,” pujinya.

Wimboh Santoso juga menyebut melalui buku yang dilaunching ini, Pakde Karwo sangat layak disebut guru dan tokoh ekonomi arus bawah. Yakni sosok pemimpin yang layak menjadi inspirasi karena memiliki ‘3S’.

Yakni, Sejuk, artinya beliau mampu menghadirkan kesejukan bagi masyarakatnya, kemudian Seger, yakni kebijakannya membawa angin segar bagi kemajuan daerahnya. Dan terakhir Sedekah.@sarifa