Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Pengamat Pertahaanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi angkat bicara mengenai tregedi pagelaran Teatrikal Surabaya Membara 2018 yang memakan 3 korban jiwa dan sekitar 20 orang luka-luka yang belakangan kasusnya mulai ‘adem-ayem’.

Fahmi meminta kasus ini harus diusut secara tuntas. Terlebih dugaan adanya kelalaian atau pelanggaran hukum bukan hanya dilakukan oleh penyelenggara, namun juga pihak keamanan, dalam hal ini adalah kepolisian (Polrestabes Surabaya).

“Maka, selain mendalami dugaan kelalaian dan atau pelanggaran hukum oleh penyelenggara, Polri harus segera melakukan evaluasi etika profesi terhadap pimpinan satuan kewilayahan dan unit-unit yang bertanggung jawab di lapangan.

Ada banyak pertanyaan hari ini yang harus dijawab. Ada banyak dugaan yang harus dibuktikan. Sungguh, ini pelajaran seharga nyawa. Sangat mahal!,” tegasnya dalam keterangan pers yang diterima lensaindonesia.com di Surabaya, Senin malam (12/11/2018).

Menurut Fahmi, ada syarat dan ketentuan yang berlaku bagi setiap bentuk kegiatan di ruang publik, apalagi yang mengundang perhatian massal. “Kepolisian punya hak menilai dan memberikan catatan/rekomendasi pada penyelenggara jika dipandang perlu. Ia mencontohkan, sepakbola Indonesia pada laga tertentu misalnya. Atau kegiatan aksi unjuk rasa entah mahasiswa, buruh, ormas atau apapun, kenapa aparat keamanan dikerahkan dan disiagakan dalam jumlah cukup besar? Ya karena ada potensi gangguan keamanan serius yang harus diantisipasi dan kemungkinan terburuk harus dapat dihindari,” ujarnya.

“Ingat, Polri memiliki kewajiban memelihara dan menegakkan keamanan dan ketertiban masyarakat. Jadi, dilibatkan secara langsung atau tidak, tanggungjawab itu tetap melekat. Nongkrong di viaduk itu bisa merupakan pelanggaran UU Perkeretaapian. Dan memastikan aturan dipatuhi, tak ada pelanggaran, pun melakukan tindakan pencegahan baik secara lunak maupun keras, mestinya jadi salahsatu tugas polisi kan? Apalagi itu jelas-jelas mengancam keselamatan,” tambah Fahmi menegaskan.

Selain itu, jika dipandang perlu, kata dia, kereta yang akan melintas bisa saja ditahan sebentar di stasiun terdekat, sembari menunggu warga yang nongkrong di viaduk itu bisa dihalau dan jalur sepenuhnya aman dilalui.

“Polri bukanlah sebuah badan usaha jasa pengamanan. Dia adalah aparatur negara, pelayan publik. Dalam tragedi di Surabaya ini tak patut lepas tangan.

Kegiatan yang menjadi rangkaian peringatan Hari Pahlawan di Surabaya itu kabarnya telah mengantongi izin. Itu membuktikan penyelenggara telah berkomunikasi dengan pihak Polri.

Bahwa kemudian tak ada koordinasi yang intensif, bagi saya agak aneh juga jika Polri tak proaktif atau bahkan pasif mendiskusikan upaya pengamanannya. Apalagi ini adalah untuk ketiga kalinya acara ini digelar.

Maka, sekali lagi, selain mendalami dugaan kelalaian dan pelanggaran hukum penyelenggara, Polri harus segera melakukan evaluasi etika profesi pimpinan satuan kewilayahan dan unit-unit yang bertanggung jawab di lapangan itu,” pungkasnya.

Diketahui, pagelaran drama kolosal “Surabaya Membara” dalam rangka memeperingati Hari Pahlawan yang digelar di sekitar Tugu Pahlawan, Jumat (09/11/2018) malam, memakan korban jiwa. Tiga orang tewas telindas kereta api dan sejumlah penontot terjatuh dari jembatan rel (viaduk) sekitar pukul 19.45 WIB.

Berdasar video yang beredar, kejadian tragis itu berlangsung saat ribuan penonton sedang memadati pelataran Kantor Gubernur Jatim, Tugu Pahlawan di atas viaduk. Tiba-tiba sebuah kereta api KRD jurusan Sidoarjjo-Pasar Turi melintas dengan kecepatan sedang di rel yang ada di viaduk. Sontak saja, penonton yang berjubal di atas viaduk kocar-kacir. Bahkan sebagian dari mereka yang tidak bisa menyelamatkan diri sampai melompat dari atas viaduk.

Menurut informasi kepolisian, akibat kejadian itu, satu orang tewas tertabrak kereta yang tengah melintas di atas jembatan. Sedangkan dua orang lagi tewas karena terjatuh dari jembatan. Saat ini kedua korban tewas berada di kamar jenazah RSUD Dr. Soetomo. Adapun belasan orang lainnya yang luka-luka dibawa ke RS PHC, RS Dr. Soewandhi, dan RSUD Dr. Soetomo.@LI-13

Berikut 3 nama korban yang meninggal dunia di RSU dr Soetomo dan RS PHC:

1. Erikawati (9) warga Jalan Kalimas Baru No. 61, Surabaya. (Jatuh dari Viaduk)
2. Helmi Suryawijaya (13) warga Karang Tembok Gang 5, Surabaya. (Terlindas Kereta Api)
3. Bagus Ananda (17) warga Jalan Ikan Gurami 6/27, Surabaya. (Jatuh dari Viaduk)