Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Halaqah Dzurriyah dan Kiai NU sepakati bentuk Komite Khittah NU, tidak dukung mendukung Capres-Cawapres
Halaqah Kiai Dzurriyah dan Santri NU di Tebuireng Jombang, Jawa Timur. @foto:obi
HEADLINE

Halaqah Dzurriyah dan Kiai NU sepakati bentuk Komite Khittah NU, tidak dukung mendukung Capres-Cawapres 

LENSAINDONESIA.COM: Halaqah ke-2 Ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang diikuti para Kiai dan Santri Nahdliyin di Pasantren Tambakberas Jombang, Jawa Timur, akhirnya menyepakati membentuk Komite Khittah NU. Komite ini untuk mendorong digelarnya Muktamar Luar Biasa NU, untuk berjuang menegakkan Khittah NU 1926 yang tidak berpolitik praktis dan tidak berpihak pada siapa pun.

Usai pertemuan krusial pada Rabu (14/11/2018) itu, Juru Bicara Komite Khittah, Choirul Anam mengatakan, bahwa selama ini yang terjadi NU sebagai organisasi massa (Islam) terbesar di Indonesia didorong pada kegiatan politik praktis.

“Kita harus mengingatkan itu, agar tidak terlibat dukung mendukung yang mengatasnamakan organisasi NU,” tutur Cak Anam –panggilan akrab penulis buku biografi KH Wahab Hasbulloh– salah satu pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama kepada LensaIndonesia.com, di Jombang.

Pengurus Besar (PB) NU, lanjutnya, harus kembali pada penegakkan khittah NU 1926 sesuai hasil Muktamar NU ke 27 tahun 1984 di Pesantren Salafiyah Sayafi’iyah Situbondo.

Dalam pembahasan pertemuan Ulama Dzurriyah dan Kiai NU ke-2 ini, merumuskan Komite Khittah sebagai jalan perjuangan menegakkan Khittah NU 1926. Komite Khittah ini nantunya akan meminta doa restu dan dukungan Kiai sepuh yang terbagi dalam perwakilan Kiai untuk bersilaturahim.

“Sudah dibagi tadi tugas untuk bersilaturahim, siapa saja yang sowan ke kiai sepuh meminta restu dan doa Komite Khittah sebagai wadah di antaranya sowan ke KH Maimun Zubair, KH Mustofa Bisri, dan KH Tolchah Hasan. Doa restu dan saran beliau ini sangat penting,” kata Cak Anam.

Choirul Anam mengaskan tujuan Komite Khittah fokus melaksanakan Khittah Nahdlatul Ulama 1926. Karena selama ini, umat tidak diberi contoh sesuai Khittah NU dalam pelaksanaan baik oleh perorangan pengurus PBNU maupun formal organisasi PBNU, misal pimpinan tertinggi Rais Aam NU tidak boleh dicalonkan dalam jabatan politik mana pun yang ada dalam anggaran dasar yang saat ini seakan tidak berlaku.

Dalam menjalankan Khittah NU, lanjut Anam, harusnya tidak berpihak pada Calon Presiden-Calon Wakil Presiden (Capres-Cawapres) mana pun. Ini tidak bisa dibawa kemana-mana NU itu.

“Karena khittah tetap tidak berpihak ke Capres mana pun, dan tidak pernah juga mencapreskan siapa pun. Namun, para kader NU yang menjalankan politik praktis, harus tetap bisa menjaga persatuan dan perasaudaraan dan jangan membawa gerbongnya cukup naik taksi itu perumpamaannya,” beber Cak Anam yang berpengalaman dalam dinamika NU saat menjadi pendukung setia Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) sebagai Ketua Umum PBNU merangkap Ketua Dewan Syuro PKB, dan sekaligus menjadi Presiden RI.

Kemudian, Cak Anam mengingatkan jangan sekali-kali bertengkar. Karena NU memberikan “warning”, ada “alarm” di situ yang menjadi pedoman dalam berpolitik, yakni 9 pedoman berpolitik warga NU. Poin ke delapan, perbedaan pandangan diantara aspirasi-aspirasi-aspirasi politik warga NU harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, dalam susasana tawaduk. Sehingga, dalam berpolitik itu tetap dijaga kesatuan dan persatuan.

Kordinator Penyelenggara Silaturahim Dzurriyah dari para pendiri NU dan Kiai NU, Gus Sholahul Aam Wahib Wahab mengatakan, bahwa pertemuan selanjutnya akan dilaksanakan di Situbondo pada 5 Desember 2018.

Dalam pertemuan di Pesantren Tambakberas ini dihadiri KH Sholahudin Wahid, KH Hasib Wahab, KH Suyuthi Thoha Banyuwangi, KH Nasihin Hasan Jakarta, KH Maimun Sumenep, KH Ishaq Mashury Lasem.

Lainnya, ada Prof Muzammil Jogjakarta, Prof Aminudin Surabaya, Prof Ahmad Zahro Surabaya, Tengki Bulkaini dari Aceh, Choirul Anam Surabaya, KH Rozi Sihab Gempol, KH Abdulloh Zaini Besuk, KH Abdul Muhid Turen, Gus Muhammad Lirboyo, KH Mustofa Abdulloh Bogor, KH Burhan Banyuwangi. @Obi

Keterangan foto:
Para Ulama NU terdiri sejumlah Kiai dan para santri NU di acara Halaqah Ulama ke-2 di Pasantren Tambakberas Jombang, Jawa Timur. @foto: obi