Trending News

By using our website, you agree to the use of our cookies.    
Polrestabes Surabaya tahan ‘mafia tanah’ Gununganyar
Tahanan. FOTO: Ilustrasi
HEADLINE JATIM RAYA

Polrestabes Surabaya tahan ‘mafia tanah’ Gununganyar 

LENSAINDONESIA.COM: Penyidik Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Surabaya menahan dua orang yang diduga terlibat dalam pemalsuan dokumen dan penipuan jual beli tanah di kawasan Gununganyar.

Mereka adalah HM Ichsan Ja’far (67) warga Jl. Wadungasri RT 04/RW 02 Waru, Kabupaten Sidoarjo/Medokan Ayu Surabaya dan Nurkasan P Ansori (65), warga Gunungayar Sawah RT 05/RW 04 Surabaya.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran, pihaknya saat ini tengah melakukan penyempurnaan berkas perkara kedua tersangka untuk dilimpahkan ke Kejaksaan.

”Memang, kami menahan kedua tersangka itu,” kata Sudamiran.

Warga yang menjadi korban penipuan tersangka adalah HM Adhy Suharmadji BA (60), Direktur PT Restabun Karya yang beralamat di Medayu Utara XX, Kecamatan Rungkut Surabaya.

Kesus ini berawal ketika pada 1989 Adhy Suharmadji membeli tanah seluas 15.460 m2 di Kelurahan Gunung Anyar Tambak Persil 3 Kelas Desa 2 No 1159 dari tersangka Nurkasan seharga Rp 27 juta.

Transaksi jual beli tanah tersebut melalui perantara H Ichan dan H Marjuki.

Setelah pelunasan, Adhy Suharmadji berniat menjual lagi tanah tersebut dalam bentuk kaplingan. Ketika itu, tanah seluas 15.460 m2 dibagi menjadi 80 kapling.

Sebagai badan usaha untuk menjual tanah kapling, Adhy Suharmadji mengajak
korban mengajak tersangka HM Ichsan dan H Marjuki untuk mendirikan PT Restabun Karya. Di dalam badan usaha tersebut nama Ichsan dan Marjuki dicantumkan tanpa penyertaan modal.

Kemudian, untuk memudahkan pengurusan tanah para pembeli kaplingan, surat tanah Pethok D dititipkan ke Kelurahan Gunung Anyar Tambak.

Beberapa waktu kemudian, tanpa sepengetahuan Adhy Suharmadji, Nurkasan mengambil Pethok D tersebut di kelurahan dengan alasan untuk pengurusan pelebaran sungai yang ada di sekitar tanah tersebut. Kemudian tersangka Nurkasan membuat perjanjian di bawah tangan dan dicatatkan ke notaris.

Baca Juga:  AGI bareng IKAGI segera rumuskan upaya dinamisasi produksi gula

Mengetahui hal tersebut, Adhy Suharmadji mendatangi kelurahan. Namun pihak kelurahan hanya memberi penjelasan kalau peminjaman Pethok D tidak akan menjadi masalah. Alasannya, karena seluruh tanah kapling sudah terjual. Tanpa sedikitpun curiga, Adhy Suharmadji pun mempercayainya.

Namun sekitar tahun 2010 tiba-tiba Ichsan memagari dan mengakui tanah tersebut sebagai miliknya. Ketika itu Ichsan juga mencabuti patok tanah para pemilik kapling. Tindakan ini membuat pemilik kapling menuntut pertanggungjawaban pada Adhy Suharmadji sebagai penjual.

Karena merasa tidak bersalah, pada 31 Juli 2017 Adhy Suharmadji lantas melaporkan Ichsan dan Nurkasan ke Polda Jatim. Oleh Polda Jatim, kasus ini kemudian dilimpahkan ke Polrestabes Surabaya.

Setelah dilakukan pemeriksaan sejumlah saksi oleh penyidik Sat Reskrim Polrestabes Surabaya, Ichsan dan Nurkasan akhirnya ditetapkan sebagai tersangka hingga dilakukan penahanan untuk penanganan lebih lanjut.

Kedua tersangka dijerat dengan pasal 263 KUHPidana tentang pemalsuan surat dan atau keterangan data otentik.

Untuk tersangka Nurkaasan ditambah pasal 385 KUH Pidana tentang menjual kembali tanah yang sudah dijual.@rofik