Advertisement

LENSAINDONESIA.COM: Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan beberapa hasil investigasi penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di laut Karawang pada 29 November 2018 lalu.

Di dalam Rapat Dengar Pendapat (hearing) dengan Komisi V DPR RI, di Senayan, Jakarta, Kamis (21/11/2018) itu, pihak KNKT menyatakan, mengungkap hasil pembacaan data black box, ada beberapa masalah selama penerbangan sebelum akhirnya pesawat itu jatuh.

Pertama, ada perbedaan penunjukkan kecepatan antara pilot dengan co-pilot. Hal ini dibuktikan dengan adanya perbedaan ketinggian antara sisi kanan dan sisi kiri kendali pesawat.

“Kemudian pesawat mulai bergerak, kecepatan mulai naik, kemudian kecepatannya terpisah, antara kiri dan kanan tidak sama,” ungkap Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo.

Lalu pada saat terbang, lanjut Nurcahyo, pesawat tersebut mengalami stick shacker. Kata dia, Stick shacker adalah kondisi dimana kemudi di sisi pilot mulai bergetar.

Getaran ini menjadi peringatan untuk pilot bahwa pesawat akan mengalami stall atau kehilangan daya angkat.

“Kemudian pesawat Lion Air JT 610 terus terbang kemudian sempat menurun sedikit kemudian naik lagi dan kemudian kira-kira terbang di ketinggian 5.000 kaki,” jelasnya.

Di ketinggian ini, karena kondisi pesawat akan kehilangan daya angkut, melalui automatic system, hidung pesawat otomatis turun.

“Jadi hal ini kemungkinan disebabkan karena angle of attack di tempatnya kapten menunjukkan 20 derajat lebih tinggi,” terangnya.

Namun demikian, pilot JT-610 mencoba melawan situasi ini dengan tetap mencoba kembali menaikkan pesawat. Namun hal itu tidak bertahan lama hingga pada akhirnya pesawat kehilangan daya angkut dan jatuh.

“Dari data mesin yang kita peroleh bahwa antara mesin kiri dan kanan, hampir semua penunjuk mesin menunjukkan angka yang konsisten. Jadi kami bisa simpulkan bahwa mesin tidak terjadi kendala di dalam penerbangan ini,” pungkas Nurcahyo.@LI-13